banner 728x250

Akhir Tahun, Hujan Deras, dan Beton Instan: Mukjizat Pembangunan ala Penyerapan Anggaran

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Budi Adriansyah

TANGGAL 19 Desember 2025. Coba tengok kalender. Lalu tengok langit. Hujan turun tanpa basa-basi, seolah ingin mengingatkan kita bahwa musim ini namanya musim hujan, bukan musim cor beton.

banner 325x300

Tapi Indonesia memang negeri penuh keajaiban. Di saat logika memilih berteduh, proyek justru keluar kandang. Truk molen melaju gagah melawan hujan. Aspal panas dihampar di tanah becek dengan penuh keyakinan. Selokan dibongkar tepat ketika air sedang mencari jalan pulang. Kalau ini film, judulnya mungkin: Fast & Furious: Penyerapan Drift.

Negara Ini Percaya pada Beton Beriman

Setiap akhir tahun, kita disuguhi ritual tahunan yang sakral: Proyek Roro Jonggrang APBD/APBN Edition. Dalam waktu singkat, dengan kondisi mustahil, pekerjaan harus selesai. Bukan karena bisa. Tapi karena harus.

Padahal anak STM bangunan pun tahu, beton butuh 21-28 hari untuk matang sempurna. Aspal butuh panas, tanah butuh kering, dan proyek butuh waktu. Tapi semua teori itu runtuh oleh satu mantra paling ampuh dalam birokrasi: “Yang penting terserap.”

Dengan keyakinan itu, beton pun dicor sambil mandi hujan. Aspal ditempelkan ke lumpur dengan harapan, bukan teknik. Ini bukan teknik sipil. Ini teologi pembangunan.

Selesai 100 Persen, Secara Spiritual

Lalu datanglah keajaiban berikutnya: laporan progres. Fisik di lapangan mungkin baru separuh. Bahkan belum nyambung. Tapi di atas kertas, proyek sudah selesai 100 persen. Lengkap. Paripurna. Tinggal doa penutup.

BAST ditandatangani dengan penuh keikhlasan. Dana cair tepat waktu. Semua pihak saling menepuk bahu, seolah baru menyelamatkan negara dari kiamat anggaran. Soal kualitas? Itu urusan Januari.

Jalan Baru, Lubang Baru, Harapan Lama

Maka jangan heran jika awal 2026 nanti, jalan yang “baru dibangun” sudah kembali berlubang. Trotoar retak sebelum sempat diresmikan. Drainase mampet bahkan sebelum hujan berhenti.

Ini bukan kegagalan. Ini konsekuensi logis dari proyek yang dikerjakan dengan nafsu, bukan nalar.

Uang negara dipakai bukan untuk membangun, tapi untuk mengejar tenggat administrasi. Pembangunan hanya efek samping.

Angka Sakti Bernama Rp199 Juta

Coba perhatikan papan proyeknya, kalau tidak malu untuk dipasang. Anda akan sering melihat angka-angka cantik tapi mencurigakan: Rp180 juta. Rp195 juta. Rp199 juta. Kenapa tidak bulat? Karena Rp200 juta itu horor.

Di bawah angka itu, proyek bisa penunjukan langsung. Tidak perlu tender. Tidak perlu kompetisi. Tidak perlu ribet. Cukup tunjuk “yang sudah paham”, dan pekerjaan dimulai meski hujan belum izin.

Maka proyek pun dipecah-pecah seperti martabak. Satu lokasi jadi lima paket. Semua kebagian. Semua bahagia. Kualitas? Ya, itu nanti dibahas saat sudah rusak.

Mereka Tidak Membangun, Mereka Menghabiskan

Masalahnya bukan pada hujan. Bukan pada kontraktor semata. Tapi pada mentalitas: anggaran harus habis, apa pun caranya.

Kalau tidak habis, tahun depan bisa dipotong. Maka lebih baik dibakar sekarang, meski hasilnya cuma jalan berlubang dengan umur seminggu.

Ini bukan pembangunan berkelanjutan. Ini tradisi bakar duit tahunan yang dibungkus jargon kemajuan.

Jangan Cuma Ngelus Dada

Jadi, kalau sore ini Anda melihat alat berat bekerja di tengah hujan deras, atau trotoar mendadak dibongkar padahal kemarin masih layak, jangan cuma bilang, “Ah, beginilah Indonesia.”

Potret. Catat lokasinya. Perhatikan nilai kontraknya. Karena satu-satunya hal yang benar-benar bikin para pesulap anggaran salah tingkah bukan audit internal, bukan hujan, tapi mata publik yang mulai rajin memperhatikan. Negeri ini tidak kekurangan uang. Yang kurang cuma rasa malu.

#AuditDesember

banner 325x300
error: Content is protected !!