banner 728x250

Begal, Darah, dan Madu Baduy: Ketika Keadilan Tersesat di Jakarta

Keluarga korban dan masyarakat adat menuntut Kapolri turun tangan. Sementara pejabat sibuk merapikan citra, luka rakyat kecil dibiarkan mengering sendiri

banner 120x600
banner 468x60

Radar Perbatasan, Jakarta – Kasus pembegalan terhadap Revan, warga Baduy Dalam, di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, kini menjelma menjadi badai kemarahan publik. Bukan semata soal perampokan, tapi tentang keadilan yang tampak tersesat di ibu kota.

Revan, yang sehari-hari menjajakan madu khas Baduy, madu yang seharusnya jadi simbol ketulusan alam, justru dipaksa menelan pahitnya kota yang semakin kehilangan nurani. Dia dibacok di bagian lengan, dirampas uang hasil jerih payahnya sebesar Rp3 juta, serta satu unit ponsel. Namun hingga kini, pelaku belum juga tertangkap.

banner 325x300

“Jangan sampai rakyat berpikir hukum hanya tajam ke bawah,” ujar Dani Saeputra, perwakilan keluarga korban, pada Jumat, 7 November 2025.

Kemarahan yang Menyala

Keluarga korban dan para aktivis masyarakat adat mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo turun tangan langsung. Mereka menilai lambannya pengungkapan kasus ini sebagai cermin betapa hukum di negeri ini masih pandai membedakan siapa yang berhak mendapat perhatian.

“Kami sudah bersabar, tapi kesabaran rakyat ada batasnya. Jika pelaku tidak segera ditangkap, kami yang akan datang menjemput keadilan,” kata Dani lantang.

Di berbagai kanal media sosial, gelombang simpati untuk Revan terus bergulir. Publik menilai, di tengah jargon ‘Presisi’, kecepatan aparat justru terasa seperti siput di jalan tol.

Sindiran untuk Gubernur DKI

Dani juga menembakkan kritik pedas terhadap oknum Gubernur DKI Jakarta, yang sebelumnya di media menyebut tidak ada rumah sakit yang menolak korban.

“Itu kebohongan publik,” ujar Dani. “Kami punya bukti dan saksi. Ada rumah sakit yang menolak korban Revan. Nama dan alamatnya sudah kami kantongi. Setelah pelaku ditangkap, semuanya akan kami buka.”

Pernyataan itu langsung memantik kemarahan publik. Alih-alih menunjukkan empati, oknum pejabat dinilai sibuk memoles citra, sementara rakyat kecil berdarah di jalan.

“Jangan menutup-nutupi fakta hanya demi nama baik. Ini soal kemanusiaan, bukan pencitraan,” lanjut Dani.

Ujian bagi Penegak Hukum

Kasus ini menjadi ujian moral dan profesionalisme bagi aparat kepolisian. Mabes Polri, Polda Metro Jaya, hingga Polres Jakarta Pusat diminta bergerak cepat dan transparan.

“Kapolri harus turun langsung. Jangan diam. Rakyat kecil butuh bukti bahwa hukum masih berpihak pada keadilan,” tegas Dani.

Kini publik menunggu, apakah polisi akan bertindak secepat mereka menindak pengkritik di dunia maya, ataukah kasus Revan hanya akan menjadi catatan getir lain di arsip panjang ketidakadilan negeri ini.

Catatan Redaksi:

Ketika warga Baduy yang membawa madu alami justru disambut bacokan di ibu kota, kita patut bertanya: siapa sebenarnya yang lebih liar, para begal di jalan, atau sistem hukum yang diam di tempat?

Editor: Budi Adriansyah
Penulis: Hkz-Ds

banner 325x300
error: Content is protected !!