( Photo : Pastor Paroki Kleseleon, Rm Leonardus Nahas, Pr )
KLESELEON, RADAR MALAKA — Tiga malam kehadiran Arca Ina Maria Nai Feto Malaka di wilayah Paroki Kleseleon bukan sekadar peristiwa devosi dan penghormatan kepada Bunda Maria. Lebih dari itu, ziarah ini menjadi panggilan bagi umat untuk menghidupi kasih, mempererat persaudaraan, dan membawa perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pastor Paroki Kleseleon, Rm. Leonardus Nahas, Pr., menegaskan bahwa makna terdalam perarakan Ina Maria Nai Feto Malaka terletak pada kesediaan umat meneladani Maria sebagai pribadi kasih yang aktif menjumpai dan melayani sesama.
“Bunda Maria adalah pribadi kasih yang berjalan. Ia tidak memonopoli kasih, tetapi bergerak menjumpai sesamanya,” demikian refleksi Rm. Leo Nahas tentang spiritualitas Ina Maria Nai Feto Malaka.
Pesan tersebut menjadi inti permenungan selama perjalanan iman Bunda Maria di wilayah Paroki Kleseleon. Umat tidak cukup hanya mengarak arca, berdoa, dan bernyanyi, tetapi dipanggil untuk menerjemahkan iman menjadi tindakan kasih yang nyata.
Maria Mengajarkan Kasih yang Bergerak
Rm. Leo Nahas, Pr mengajak umat merenungkan kisah Maria dalam Injil Lukas 1:39. Setelah menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, Maria segera berangkat menuju pegunungan untuk mengunjungi Elisabet.
Maria tidak menyimpan sukacita dan rahmat Allah bagi dirinya sendiri. Ia bergerak menjumpai sesama, membawa sukacita, serta menghadirkan kasih melalui kehadiran dan pelayanannya.
Semangat itulah yang hendaknya dihidupi umat dalam perarakan Ina Maria Nai Feto Malaka.
“Kasih sejati tidak berhenti pada perasaan, kata-kata, atau doa yang diucapkan. Kasih harus bergerak, mengunjungi, melayani, dan menolong sesama yang membutuhkan,” demikian pesan yang terkandung dalam refleksi spiritualitas Maria yang berziarah.
Karena itu, menurut refleksi tersebut, perjalanan arca Bunda Maria dari satu paroki ke paroki lain harus dimaknai sebagai perjalanan iman yang menggerakkan umat untuk semakin peduli terhadap kehidupan orang lain.
Bukan Sekadar Perarakan, tetapi Perjalanan Pertobatan
Selama tiga malam Ina Maria Nai Feto Malaka berada di Kleseleon, umat mendapat kesempatan untuk memperdalam kehidupan doa dan memperbarui komitmen iman.
Namun, makna perarakan tidak boleh berhenti pada kemeriahan penyambutan atau banyaknya umat yang hadir.
“Ukuran terdalam dari sebuah ziarah iman bukan hanya seberapa jauh arca diarak atau seberapa banyak umat yang hadir, melainkan sejauh mana perjalanan itu mengubah hati dan kehidupan kita,” demikian inti pesan refleksi Rm. Leo Nahas.
Pesan ini mengajak umat melakukan pemeriksaan batin. Apakah setelah mengikuti perarakan, mereka menjadi lebih peduli kepada tetangga yang sakit, lebih memperhatikan orang lanjut usia, lebih peka terhadap keluarga yang mengalami kesulitan, dan lebih bersedia mengampuni sesama?
Ziarah baru menghasilkan buah ketika doa dan penghormatan kepada Bunda Maria berlanjut dalam tindakan nyata.
Ina Nai Feto Malaka Mempererat Persaudaraan
Perarakan Ina Maria Nai Feto Malaka juga menjadi ruang perjumpaan bagi umat dari berbagai lingkungan dan kelompok masyarakat.
Kehadiran pastor, tokoh adat, pemerintah, kaum muda, pelajar, serta unsur masyarakat lainnya memperlihatkan bahwa perjalanan iman dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kebersamaan.
Dalam semangat ini, Maria tidak menjadi alasan untuk membangun sekat, melainkan teladan yang mengajak umat berjalan bersama.
Persaudaraan harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati, gotong royong, kepedulian, dan kesediaan membantu mereka yang membutuhkan.
Bagi umat di wilayah Malaka, nilai-nilai tersebut juga menjadi kesempatan untuk mempertemukan kekayaan budaya setempat dengan penghayatan iman Katolik.
Dalam seminar Dekanat Malaka bertema “Malaka dalam Pelukan Ina Maria Nai Feto Malaka”, Rm. Patris Alegro menegaskan bahwa iman Katolik tidak datang untuk menghapus jati diri Malaka, melainkan menyempurnakannya dalam terang Kristus.
Sebutan Ina Nai Feto Malaka menghadirkan Maria sebagai Ibu yang dekat dengan kehidupan umat, menyertai perjalanan mereka, dan mengundang setiap orang untuk bertumbuh dalam kasih.
Dari Gua Maria Menuju Kehidupan Sehari-hari
Rm. Leo Nahas juga mengajak umat memahami bahwa devosi kepada Bunda Maria harus mengantar mereka semakin dekat kepada Yesus Kristus.
Maria selalu menunjuk kepada Putranya. Pesannya dalam peristiwa perkawinan di Kana menjadi pedoman bagi setiap orang beriman: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu” (Yohanes 2:5).
Karena itu, penghormatan kepada Maria harus berjalan seiring dengan kesediaan mendengarkan sabda Yesus, bertobat, mengampuni, melayani, dan menghidupi Ekaristi.
Semangat tersebut juga harus dibawa ke dalam keluarga. Rumah hendaknya menjadi tempat bertumbuhnya iman melalui doa Rosario bersama, tutur kata yang lembut, kesediaan saling mendengarkan, dan keberanian untuk saling memaafkan.
Dengan demikian, setiap keluarga dapat menjadi ruang pertama tempat kasih Allah dialami dan dibagikan kepada sesama.
Ketika Arca Meninggalkan Kleseleon, Apakah Kasih Tetap Tinggal?
Pada akhirnya, perjalanan Ina Maria Nai Feto Malaka di wilayah Paroki Kleseleon akan menjadi bagian dari perjalanan iman umat menuju tempat berikutnya. Arca akan melanjutkan perjalanan, sementara umat kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Namun, pertanyaan yang perlu dibawa pulang ialah apakah semangat Maria yang berziarah tetap hidup dalam hati umat.
Apakah persaudaraan semakin kuat? Apakah umat semakin peka terhadap penderitaan sesama? Apakah keluarga semakin tekun berdoa? Apakah mereka yang berselisih mulai berdamai?
Pertanyaan-pertanyaan itu menegaskan bahwa keberhasilan sebuah ziarah tidak hanya terletak pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga pada buah rohani yang dihasilkannya.
“Ziarah yang sejati tidak berakhir di ujung jalan. Ziarah terus berlanjut dalam kehidupan setiap orang yang bersedia membawa kasih, menjaga persaudaraan, dan melaksanakan kehendak Yesus,” demikian pesan utama refleksi Rm. Leonardus Nahas, Pr.
Selama tiga malam di Kleseleon, Ina Maria Nai Feto Malaka hadir sebagai tanda kedekatan seorang Ibu dengan anak-anaknya. Kini, umat dipanggil untuk meneruskan perjalanan itu melalui kehidupan yang semakin penuh kasih.
Sebab, Maria bukan hanya Bunda yang diarak dari satu paroki ke paroki lain. Ia adalah teladan bagi setiap orang beriman untuk keluar dari diri sendiri, menjumpai sesama, dan menghadirkan sukacita Allah di tengah dunia.
Ina Maria Nai Feto Malaka, doakanlah kami, anak-anakmu.
Boni Atolan

















