banner 728x250

P. DOMI K. DHEO SVD: BERSYUKUR DI TENGAH BEBAN HIDUP, TUHAN SEDANG MEMBUKA JALAN KELIMPAHAN

banner 120x600
banner 468x60

RENUNGAN JIWA – BERSYUKUR ADALAH ILMU YANG MEMBUKA SIMPUL REZEKI

NENUK, RADAR PERBATASAN – Ketika beban hidup terasa semakin berat, kesulitan datang silih berganti, dan harapan seolah mengering seperti tanah yang dilanda kemarau panjang, manusia sering kehilangan kemampuan untuk bersyukur. Padahal, justru di tengah situasi sulit itulah rasa syukur menjadi kekuatan iman yang membuka ruang bagi Tuhan untuk terus berkarya dalam kehidupan manusia.

banner 325x300

Pesan mendalam ini disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, dalam refleksi Renungan Jiwa bertema “Untuk Jiwa yang Kering: Bersyukur Adalah Ilmu yang Membuka Simpul Rezeki”, Jumat, 30 Oktober 2026, dari Biara St. Yoseph Nenuk.

Mengacu pada bacaan liturgi Filipi 1:1-11 dan Lukas 14:1-6, P. Domi mengajak umat untuk memahami bahwa bersyukur bukanlah sikap yang hanya muncul ketika kehidupan sedang baik-baik saja. Sebaliknya, rasa syukur sejati justru lahir dari kesadaran bahwa Tuhan tetap bekerja sekalipun manusia sedang menghadapi penderitaan, kegagalan, dan berbagai persoalan hidup.

Dalam refleksinya, ia mengangkat pengalaman Rasul Paulus yang tetap mengucap syukur meskipun sedang berada dalam penjara.

“Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu,” demikian ungkapan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi.

Bagi P. Domi, ungkapan syukur Paulus menjadi pelajaran penting bahwa sukacita dan rasa terima kasih kepada Tuhan tidak harus bergantung pada keadaan yang menyenangkan.

Paulus tidak bersyukur karena hidupnya mudah. Ia bersyukur karena menyadari bahwa Tuhan sendirilah yang berkarya melalui dirinya.

Pesan ini menjadi tamparan bagi manusia yang sering kali hanya melihat kegagalan, kekurangan, dan beratnya persoalan hidup, tetapi lupa menyadari bahwa masih ada begitu banyak tanda kebaikan Tuhan yang bekerja dalam keseharian.

“Bukan saya yang harus menyelamatkan dunia, tetapi Tuhan yang menyelamatkan dunia melalui saya yang kecil ini. Kalau saya gagal, Tuhan tetap berkarya,” demikian inti pesan refleksi P. Domi.

Ia mengajak umat untuk belajar menemukan karya Tuhan dalam hal-hal sederhana: makanan yang masih tersedia di meja, napas kehidupan yang masih diberikan, orang-orang yang tetap setia, serta kekuatan untuk bertahan ketika menghadapi kesulitan.

YESUS TIDAK PERNAH LIBUR BERBUAT BAIK

Selain mengangkat pesan syukur dari surat Rasul Paulus, P. Domi juga mendalami Injil Lukas 14:1-6 tentang tindakan Yesus menyembuhkan seorang yang menderita sakit busung air pada hari Sabat.

Menurutnya, peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kasih dan tindakan menyelamatkan manusia jauh lebih penting daripada pemahaman terhadap aturan yang justru menghalangi perbuatan baik.

Ketika orang-orang Farisi hanya memperhatikan aturan hari Sabat, Yesus justru melihat penderitaan manusia yang membutuhkan pertolongan.

Melalui tindakan penyembuhan itu, Yesus menegaskan bahwa hari Sabat bukan alasan untuk menunda kebaikan.

“Bagi Yesus, hari Sabat adalah kesempatan untuk berbuat baik, bukan untuk menahan kebaikan,” menjadi pesan penting yang ditawarkan dalam refleksi tersebut.

P. Domi mengingatkan bahwa sikap menunda kebaikan masih sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada orang yang mengalami fitnah, tetapi sesamanya memilih diam karena menganggap persoalan itu bukan urusannya. Ada ibu yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, tetapi orang-orang di sekitarnya menunda pertolongan karena kesibukan dan berbagai alasan.

Menurutnya, sikap seperti itu bertentangan dengan semangat kasih yang ditunjukkan Yesus.

Setiap orang dipanggil untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama. Sebab, iman tidak cukup hanya diungkapkan melalui doa dan kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang menghadirkan pertolongan dan pengharapan.

BERSYUKUR, AIR YANG MEMBUKA SIMPUL KEHIDUPAN

Salah satu bagian paling kuat dalam refleksi P. Domi adalah penggunaan gambaran kehidupan masyarakat di padang gurun Timor.

Ia mengibaratkan beban hidup manusia seperti simpul tali yang mengering dan mengeras akibat kemarau panjang.

Ketika simpul itu dipaksa dibuka dengan tenaga, justru semakin sulit terurai. Karena itu, mama-mama di kampung biasanya membasahi terlebih dahulu simpul tali yang kering dengan sedikit air sebelum membukanya secara perlahan.

Gambaran sederhana tersebut menjadi metafora tentang kekuatan rasa syukur.

“Bersyukur itu air yang membasahi simpul-simpul rezeki yang kering,” tulisnya.

Melalui perumpamaan itu, ia mengajak umat untuk tidak menghadapi persoalan hidup hanya dengan kekuatan sendiri, kemarahan, kekecewaan, atau keputusasaan.

Rasa syukur menjadi jalan untuk melembutkan hati, memulihkan harapan, dan membuka ruang bagi karya Tuhan dalam kehidupan.

Bersyukur atas makanan sederhana dapat membantu seseorang mengurangi kecemasan. Bersyukur karena masih ada orang yang jujur dapat membantu memulihkan kepercayaan. Bersyukur atas napas kehidupan dapat menjadi kekuatan untuk melawan keputusasaan.

Namun, P. Domi menegaskan bahwa bersyukur bukan berarti persoalan hidup langsung menghilang atau penderitaan harus diterima tanpa perjuangan.

Sebaliknya, bersyukur berarti tetap percaya kepada Tuhan sambil terus berusaha, berharap, dan melakukan kebaikan.

Kelimpahan yang dimaksud bukan semata-mata kelimpahan materi atau uang, melainkan kelimpahan damai, kasih, dan kekuatan batin untuk menjalani kehidupan.

DARI HATI YANG KERING MENUJU TINDAKAN KASIH

Pada bagian akhir refleksinya, P. Domi mengajak umat untuk menjadikan rasa syukur sebagai doa sekaligus tindakan nyata.

Ia mengajak setiap orang memulai hari bukan dengan mengeluhkan seluruh beban yang sedang dipikul, melainkan dengan mengucapkan terima kasih atas kehidupan, kesempatan, dan penyertaan Tuhan.

Lebih dari itu, setiap orang diajak untuk melakukan satu tindakan kebaikan kepada sesama yang sedang mengalami kesulitan.

Sebab, iman yang hidup bukan hanya terlihat dari kemampuan seseorang menerima kasih, tetapi juga dari kesediaannya membagikan kasih kepada orang lain.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi kehidupan keluarga, komunitas religius, masyarakat, dan para pejuang kemanusiaan yang setiap hari berhadapan dengan berbagai persoalan sosial.

Melalui Renungan Jiwa dari Biara St. Yoseph Nenuk, P. Domi K. Dheo, SVD, mengingatkan bahwa manusia tidak harus menunggu seluruh persoalan selesai untuk mulai bersyukur.

Tuhan tetap bekerja dalam kehidupan manusia, bahkan ketika jalan yang dilalui terasa berat dan penuh air mata.

“Tuhan tidak menghitung berapa panjang bebanmu. Ia hanya menunggu satu kata syukur darimu hari ini, dan Ia akan mulai membuka simpul itu.”

Sebuah pesan iman yang mengajak setiap jiwa untuk tidak menyerah pada kekeringan hidup, tetapi tetap percaya, bersyukur, dan menjadi saluran kebaikan bagi sesama.

P. Domi K. Dheo, SVD – JPIC SVD Timor, Biara St. Yoseph Nenuk.

banner 325x300
error: Content is protected !!