banner 728x250

Pasar 79 Miliar Sepi, Pedagang Pilih Lapak Liar

Megah Tapi Tak Ramah Pedagang: Proyek Rp79 Miliar Tanjungpinang Mangkrak Pembeli, Blok D Jadi 'Gedung Hantu'

banner 120x600
banner 468x60

TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com – Alih-alih menjadi pusat ekonomi baru, proyek revitalisasi Pasar Encik Puan Perak di Kota Tanjungpinang justru menyisakan ironi besar. Bangunan megah bernilai fantastis Rp79 miliar yang baru saja diresmikan pemerintah tersebut kini tampak lengang, sepi berpenghuni, dan ditinggalkan para pedagang.

Fenomena ini mencetus keprihatinan publik setelah diungkap oleh seorang kreator konten lokal. Fokus utama kemangkrakan ini berada di Blok D, area yang dikhususkan untuk komoditas basah seperti ikan, ayam, dan daging.

banner 325x300

Fasilitas Keramik dan Meja Sempit Memicu Keluhan

Gagalnya penyerapan pedagang di Pasar Encik Puan Perak bukan tanpa alasan. Banyak pedagang enggan pindah karena desain interior gedung dinilai tidak realistis untuk standar pasar tradisional basah.

Lantai pasar yang seluruhnya menggunakan bahan keramik dianggap sangat licin dan membahayakan keselamatan, baik bagi penjual maupun pengunjung. Tak hanya itu, ukuran lapak atau meja jualan yang disediakan pemerintah terlampau sempit untuk menampung kebutuhan dagang.

“Pembeli takut terpeleset, mejanya pun kekecilan. Kalau pedagang paksakan bertahan di sana tanpa ada pembeli, sama saja bunuh diri. Dagangan seperti sayur dan ikan bisa langsung busuk,” keluh kreator konten tersebut, pada Kamis 22 Oktober 2026.

Lebih Suka Sewa Mahal Kios Swasta dan Kaki Lima

Demi menyambung hidup dan mempertahankan langganan, mayoritas pedagang memilih kabur. Mereka rela merogoh kocek lebih dalam untuk menyewa kios di pasar swasta seperti Pasar Bestari, merental ruko, hingga berjualan di trotoar Kaki Lima (PK5).

Faktor kemudahan akses pembeli menjadi alasan mutlak. Di lapak tepi jalan atau pasar swasta, konsumen bisa bertransaksi dengan cepat bahkan tanpa perlu turun dari kendaraan (drive-thru).

Geliat ekonomi di pasar swasta ini justru jauh lebih hidup. Aktivitas jual beli komoditas basah telah berdenyut sejak pukul 02.00 WIB subuh hingga 09.00 WIB, dilanjutkan pedagang bumbu dapur hingga pukul 12.00 WIB siang.

Ironi Bangunan Mangkrak Pasca-Diresmikan Wapres

Kondisi sepinya pasar bekas Pasar Tanjungpinang ini dinilai sangat kontras dengan seremoni peresmiannya. Padahal, kompleks pasar yang diproyeksikan mampu menampung 785 pedagang ini belum lama diresmikan secara langsung oleh Wakil Presiden RI K.H. Ma’ruf Amin pada Senin 9 September 2024.

Agenda peresmian skala nasional tersebut turut dihadiri oleh Pj. Wali Kota Tanjungpinang Andri Rizal, Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR Diana Kusumastuti, serta jajaran Forkopimda Kepri.

Kini, bangunan yang dibangun usai insiden keruntuhan tahun 2022 itu terancam menjadi monumen sia-sia jika Pemerintah Kota Tanjungpinang dan Kementerian PUPR tidak segera mengevaluasi serta merekayasa ulang fasilitas pasar agar sesuai dengan kebutuhan riil pedagang pasar tradisional.

Editor: Budi Adriansyah

 

banner 325x300
error: Content is protected !!