GORONTALO, Radarperbatasan.com – Pemerintah Kabupaten Gorontalo mendorong seluruh masyarakat menggalakkan gerakan membaca minimal 15 menit setiap hari. Untuk mendukung gerakan tersebut, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diminta menyediakan pojok baca di ruang tunggu kantor.
Upaya itu dilakukan untuk membangun kebiasaan membaca di tengah derasnya arus informasi digital. Sabtu, (17/10/2026).
Ajakan tersebut disampaikan Bupati Gorontalo Sofyan Puhi saat membuka Festival Literasi Kabupaten Gorontalo 2026, pada 14–16 Oktober 2026. Festival yang mengusung tema “Membaca Hari Ini, Memimpin Hari Esok” itu merupakan penyelenggaraan ketiga di daerah tersebut.
Sofyan menegaskan bahwa kemudahan mengakses informasi melalui telepon genggam belum tentu diikuti kebiasaan membaca secara mendalam. Ia menilai masyarakat perlu memperluas pengetahuan melalui buku dan sumber bacaan yang menyajikan informasi secara terstruktur.
“Informasi awal mungkin bisa kita dapatkan melalui media digital, tetapi harus kita perdalam melalui buku karena buku disusun secara rinci dan terstruktur,” ujarnya.
Selain membiasakan membaca, Sofyan juga menyoroti perlunya pembaruan koleksi perpustakaan daerah. Saat ini, koleksi perpustakaan mencapai sekitar 38.000 buku, tetapi sebagian besar merupakan terbitan tahun 2019 ke bawah.
Ia juga mendorong pengembangan kafe literasi sebagai ruang membaca sekaligus tempat berinteraksi. Kegiatan bedah buku, diskusi bersama penulis, dan mendongeng bagi anak-anak turut didorong untuk mendekatkan masyarakat dengan bahan bacaan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gorontalo Abdul Waris mengatakan festival tersebut menjadi sarana membangun ekosistem literasi sekaligus memamerkan karya dan produk masyarakat penerima manfaat program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS).
Melalui program tersebut, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga sebagai ruang belajar, pengembangan keterampilan, kreativitas, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Festival yang berlangsung selama tiga hari itu diisi dengan diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion), seminar, pementasan seni, serta kunjungan siswa dan masyarakat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Gorontalo Ridwan Hemeto menambahkan bahwa kemampuan literasi di era digital tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kecakapan memahami informasi, berpikir kritis, menggunakan teknologi secara bijak, serta menghasilkan karya yang bermanfaat.
Melalui gerakan membaca harian, penyediaan pojok baca, dan pengembangan ruang literasi, Pemkab Gorontalo berharap kebiasaan membaca dapat tumbuh di sekolah, kantor pemerintahan, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
( Idrak )

















