banner 728x250

Pater Domi SVD: Bahagia Bukan Menunggu Luka Hilang, tetapi Menemukan Makna di Tengah Perjuangan Kemanusiaan

banner 120x600
banner 468x60

ATAMBUA, RADAR PERBATASAN — Bagaimana seorang pejuang kemanusiaan bisa tetap bahagia ketika setiap hari berhadapan dengan korban perdagangan orang, kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan, dan keluarga yang kehilangan orang tercinta? Bagi Pater Domi K. Dheo, SVD, kebahagiaan bukan sesuatu yang harus ditunggu sampai penderitaan berakhir, melainkan sesuatu yang dapat ditumbuhkan melalui keberanian membela martabat manusia, merawat harapan, dan menemani mereka yang terluka.

banner 325x300

Pesan reflektif itu menjadi inti materi hari ketiga sekaligus puncak perjalanan batin Training of Trainers (TOT) Pencegahan Human Trafficking Berbasis Gender Transformative Approach yang dibawakan Pater Domi K. Dheo, SVD, dalam kegiatan di Susteran SSPS Atambua, Jumat (16/10/2026).

Mengusung tema “Memaknai Ulang Bahagia: Untuk Pejuang yang Selalu di Jalan”, materi tersebut mengajak para pelatih baru pencegahan perdagangan orang untuk melihat kembali arti kebahagiaan, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi para korban yang mereka dampingi.

Setelah tiga hari mendalami persoalan perdagangan orang, kemiskinan, ketidakadilan gender, dan penderitaan manusia, para pejuang kemanusiaan diajak menghadapi satu pertanyaan mendasar: bagaimana tetap memiliki harapan ketika kenyataan yang dijumpai setiap hari begitu menyakitkan?

Bagi Pater Domi, pertanyaan itu bukan sekadar penutup pelatihan. Jawabannya merupakan bekal agar para pejuang kemanusiaan mampu bertahan dalam pelayanan tanpa kehilangan sukacita, kepekaan, dan keberanian untuk terus membela mereka yang rentan.

Membongkar Definisi Bahagia yang Palsu

Pater Domi mengkritik pandangan yang mengukur kebahagiaan semata-mata dari uang, kemewahan, rumah, kendaraan, atau pesta adat yang mahal. Dalam konteks migrasi, gambaran tentang keberhasilan di luar negeri kerap dikaitkan dengan kemampuan membawa pulang banyak uang dan memenuhi tuntutan sosial keluarga.

Ketika ukuran kebahagiaan hanya bertumpu pada materi dan gengsi, manusia berisiko terjebak dalam perlombaan tanpa akhir. Apa yang sudah dimiliki terasa tidak cukup karena selalu ada sesuatu yang harus dikejar.

Ia mengibaratkan kebahagiaan seperti kupu-kupu. Semakin keras seseorang mengejarnya, semakin sulit kupu-kupu itu ditangkap. Namun, ketika seseorang berhenti mengejar dan mulai menanam pohon serta bunga, kupu-kupu akan datang dengan sendirinya.

Pohon dan bunga itu, dalam refleksinya, melambangkan kebaikan, keadilan, kejujuran, dan keberanian membela orang-orang yang lemah.

“Bahagia tidak datang karena dikejar. Bahagia datang karena ditanam,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam materi tersebut.

Pandangan ini mengajak para pelatih untuk tidak menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup. Kebahagiaan juga tumbuh dari hubungan yang sehat, kehidupan yang bermakna, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama.

Korban Perdagangan Orang Tetap Berhak Bahagia

Salah satu pesan paling kuat dalam materi Pater Domi adalah bahwa setiap manusia tetap memiliki hak untuk bahagia, apa pun luka dan pengalaman hidupnya.

Anak yang gagal menjadi migran, perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, hingga korban kekerasan seksual yang menghadapi stigma sosial, semuanya tetap memiliki martabat dan hak untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Kebahagiaan tidak boleh menjadi hak istimewa mereka yang memiliki uang, status sosial, atau kehidupan yang terlihat sempurna.

Dalam perspektif pendampingan kemanusiaan, para korban tidak boleh dipandang hanya melalui kegagalan, trauma, atau penderitaan yang mereka alami. Mereka tetap pribadi yang memiliki nilai, potensi, dan kesempatan untuk membangun kembali kehidupannya.

Pater Domi juga mengingatkan bahwa kebahagiaan seorang pejuang JPIC—Justice, Peace and Integrity of Creation atau Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan—tidak harus menunggu sampai seluruh tugas kemanusiaan selesai.

Kebahagiaan dapat ditemukan di dalam proses pelayanan itu sendiri: ketika seseorang berani mendengarkan korban, menemani keluarga yang berduka, memperjuangkan keadilan, dan membantu sesama menemukan kembali harapan.

Dalam kerangka itu, kebahagiaan bukan alasan untuk menutup mata terhadap penderitaan. Sebaliknya, kebahagiaan menjadi kekuatan batin untuk tetap hadir dan bekerja bagi kemanusiaan.

Berpikir Positif, tetapi Tetap Bijaksana

Untuk membangun kehidupan yang lebih bahagia, Pater Domi mengajak para pelatih mengembangkan dua sikap, yakni positive thinking dan wise thinking.

Berpikir positif berarti melihat kemungkinan untuk bertumbuh di tengah kesulitan, termasuk menemukan potensi dan kekuatan dalam diri orang yang sedang terluka. Sementara itu, berpikir bijaksana berarti mengenali batas diri, mengetahui kapan harus beristirahat, berdoa, tertawa bersama komunitas, dan memulihkan tenaga.

Ia juga menekankan pentingnya relasi yang adil dan setara, kehidupan yang memiliki makna, serta kesediaan untuk memberi kepada sesama.

Bahkan pekerjaan sederhana yang dilakukan demi kehidupan bersama, seperti menanam satu hektare lahan untuk bank pakan ternak, dapat dimaknai sebagai bentuk pengabdian apabila dilakukan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

Pesan tersebut relevan bagi para pendamping korban perdagangan orang. Mereka membutuhkan bukan hanya pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga ketahanan batin agar tidak kehilangan kepekaan ketika terus berhadapan dengan penderitaan.

Blessing in Disguise: Menemukan Harapan di Tengah Luka

Bagian paling mendalam dari refleksi Pater Domi menyentuh pengalaman para migran yang pulang dengan luka, kegagalan, atau kehilangan anggota keluarga.

Bagaimana mendampingi seseorang yang kehilangan harapan karena tidak membawa pulang keberhasilan yang dijanjikan? Bagaimana menguatkan keluarga yang kehilangan orang tercinta? Dan bagaimana membantu korban yang merasa dirinya tidak lagi berharga?

Pater Domi memperkenalkan gagasan blessing in disguise, yakni kemungkinan menemukan makna atau berkat yang belum terlihat di balik pengalaman menyakitkan.

Dalam refleksi iman yang dibawakannya, luka dapat membuka mata terhadap kekerasan yang sebelumnya dianggap biasa. Kegagalan dapat membongkar ukuran kebahagiaan yang keliru. Sementara kehilangan dapat mendorong seseorang kembali bertanya tentang jati diri, martabat, dan harapan hidupnya.

Namun, Pater Domi memberikan penegasan penting: luka bukanlah berkat, dan Tuhan tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan kekerasan yang dilakukan manusia.

Karena itu, pendampingan terhadap korban tidak boleh berhenti pada nasihat agar mereka bersabar menerima penderitaan sebagai cobaan Tuhan. Korban membutuhkan ruang aman, pendengar yang tulus, pengakuan atas luka yang dialami, dan dukungan untuk memulihkan kehidupan.

Pesan pastoral yang ditawarkan Pater Domi mengajak para pendamping untuk duduk di samping korban, mendengarkan kisahnya, dan bersama-sama mencari jalan menuju pemulihan.

“Luka ini bukan berkat, yang melukaimu adalah manusia jahat. Tapi di dalam luka ini, Tuhan sedang menyembunyikan berkat untukmu yang belum kamu lihat. Mari kita cari bersama berkat itu,” demikian pesan pendampingan yang dirumuskan dalam materi tersebut.

Pendekatan ini menempatkan korban sebagai pribadi yang perlu dihormati, bukan disalahkan. Proses menemukan makna tidak boleh dipaksakan, sebab setiap orang memiliki waktu dan jalan pemulihan yang berbeda.

Harapan tidak berarti menyangkal penderitaan. Harapan berarti membantu korban menyadari bahwa pengalaman buruk tidak menghapus martabat dan tidak harus menentukan seluruh masa depannya.

Pejuang Kemanusiaan Juga Perlu Merawat Diri

Melalui refleksi hari ketiga ini, para pelatih baru diajak memahami bahwa membela kemanusiaan merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan keteguhan sekaligus kemampuan merawat diri.

Mereka tidak dituntut menjadi manusia yang selalu kuat atau tidak pernah lelah. Sebaliknya, mereka perlu membangun relasi yang sehat, menjaga kehidupan rohani, saling mendukung dalam komunitas, dan mengenali batas kemampuan diri.

Sebab, pendamping yang kelelahan dan kehilangan harapan juga membutuhkan ruang untuk dipulihkan.

Bagi JPIC SVD Timor, pesan tersebut menegaskan bahwa perjuangan melawan perdagangan orang bukan hanya soal mencegah keberangkatan migran nonprosedural atau menangani kasus setelah korban kembali. Perjuangan itu juga menyangkut pemulihan martabat manusia, perubahan cara pandang masyarakat, serta penciptaan lingkungan yang memungkinkan setiap orang hidup dengan aman dan bermartabat.

Di akhir materi, Pater Domi mengajak para peserta menjadi penanam pohon kebaikan di tengah masyarakat yang terluka. Mereka diharapkan terus menumbuhkan keadilan, kejujuran, keberanian, dan kepedulian agar harapan dapat kembali bersemi dalam kehidupan para korban.

Pesan penutupnya sederhana, tetapi mendalam: Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia di dalam luka.

Bagi para pejuang kemanusiaan yang selalu berada di jalan, kebahagiaan bukan berarti tidak pernah bertemu penderitaan. Kebahagiaan adalah tetap mampu merawat harapan, memperjuangkan martabat manusia, dan menemani mereka yang terluka menemukan jalan untuk bangkit kembali.

Dari Susteran SSPS Atambua, Jumat, 16 Oktober 2026, refleksi itu menjadi pengingat bahwa perjuangan kemanusiaan tidak cukup hanya menyelamatkan manusia dari perdagangan orang. Perjuangan itu juga harus membantu mereka menemukan kembali alasan untuk hidup, harapan untuk bangkit, dan keberanian untuk percaya bahwa masa depan masih mungkin diperjuangkan.

Sebab, tugas seorang pejuang kemanusiaan bukan hanya menolong orang keluar dari luka, tetapi juga menemani mereka menemukan kembali kehidupan. *

 

Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!