BINTAN, Radar Perbatasan.com – Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) yang juga menjabat sebagai Ketua HKTI Provinsi Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, mendorong penuh pengembangan Perkebunan Salak Sari Intan di Kabupaten Bintan. Komoditas pertanian ini dinilai menjadi salah satu potensi unggulan daerah yang mampu memperkuat kemandirian pangan sekaligus mendongkrak kesejahteraan petani.
Hal tersebut ditegaskan Nyanyang saat melakukan kunjungan lapangan ke Perkebunan Salak Sari Intan di Jalan Bumi Indah Gesek KM 25, Kabupaten Bintan, pada Senin 12 Oktober 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Nyanyang meninjau langsung area perkebunan dan berdialog interaktif dengan para petani. Sesi diskusi dan tanya jawab digelar untuk menyerap aspirasi, mendengarkan kendala di lapangan, serta memetakan peluang pengembangan komoditas salak di wilayah Kepri.
Apresiasi Kegigihan Petani di Daerah Kepulauan
Nyanyang mengapresiasi tinggi semangat para petani yang konsisten mengembangkan buah lokal unggulan di tengah tantangan geografis kepulauan, mulai dari perubahan iklim, curah hujan yang tak menentu, hingga karakteristik tanah yang memerlukan teknik budidaya khusus.
“Keberhasilan mengembangkan Perkebunan Salak Sari Intan ini bukan sekadar urusan bercocok tanam biasa. Ini bukti bahwa dengan dedikasi, disiplin, dan inovasi, tanah Bintan mampu menghasilkan buah unggulan yang membanggakan,” tegas Nyanyang.
Dia menambahkan, pengembangan sektor pertanian di Kepri membutuhkan sinergi kokoh antara pemerintah, HKTI, kelompok tani, penyuluh, hingga pelaku usaha agribisnis. Kolaborasi ini penting agar petani memperoleh pendampingan berkelanjutan, akses sarana produksi, dan daya saing produk yang kuat.
Peran HKTI dan Potensi Agrowisata Bintan
Sebagai Ketua HKTI Kepri, Nyanyang berkomitmen menjadikan organisasi tani ini sebagai ruang pembinaan yang adaptif dan solutif.
“HKTI tidak boleh hanya sekadar nama. HKTI harus menjadi wadah pembinaan yang profesional, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi pertanian modern,” ujarnya.
Dia menilai, perkebunan produktif seperti Salak Sari Intan memiliki peran strategis untuk mengurangi ketergantungan Kepri terhadap pasokan buah dari luar daerah.
Lebih dari itu, jika dikembangkan secara terintegrasi dengan sektor pariwisata melalui konsep agrowisata, perkebunan ini berpeluang menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Dampak positifnya akan menggerakkan berbagai sektor pendukung seperti UMKM, kuliner, hingga transportasi.
Instruksi Pendampingan dan Pemasaran Digital
Menyikapi tantangan modernisasi, Nyanyang meminta Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan Kepri bersama HKTI untuk meningkatkan pendampingan teknis, penyediaan bibit unggul, serta pelatihan pemasaran digital (digital marketing) bagi para petani.
“Jangan biarkan petani kita berjalan sendiri menghadapi tantangan iklim dan persaingan pasar yang dinamis. Pendampingan berkelanjutan sangat diperlukan agar produk lokal semakin berkualitas dan bersaing,” pungkasnya.
Turut hadir mendampingi dalam kegiatan tersebut Ketua BKOW Provinsi Kepri Nenny Dwiyana, Ketua DPC HKTI Bintan, Ketua Asosiasi Petani Salak Sari Intan Bintan (APSSI-BINTAN), serta Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bintan.
Editor: Budi Adriansyah
Penulis: Ron

















