OPINI
Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada periode Januari-Oktober 2026 adalah yang paling sibuk dalam sejarah. Publik bertepuk tangan. Media ramai memberitakan. Namun di kampung-kampung, dari bale-bale sampai warung kecil di kota, rakyat bertanya dengan sendu: kenapa setelah OTT, hidup tetap susah?
Jawabannya ada di data, dan jawabannya pahit.
*Data OTT KPK Januari – Oktober 2026*
Sepanjang Januari sampai Oktober 2026, KPK mencatat 22 Operasi Tangkap Tangan. Periode ini menjadi yang terpadat.
Rinciannya:
Januari: KPP Madya Jakarta Utara, Wali Kota Madiun Maidi, dan Bupati Pati Sudewo.
Februari: KPP Madya Banjarmasin, pejabat Ditjen Bea Cukai, Ketua dan Wakil Ketua PN Depok.
Maret: Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari, Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman.
April: Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo, yang menjadi OTT ke-10 tahun ini.
Mei: Tidak ada OTT.
Juni: Bupati Muara Enim Edison, Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby, ASN BPK, dan perkara terkait Wamen Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Juli: Bulan terpadat dengan 4 operasi beruntun, yaitu Bupati Langkat Syah Afandin, Bupati Sukoharjo Etik Suryani, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini, dan Bupati Pemalang Anom Widiyantoro.
Agustus: OTT ke-19 menyentuh dunia pendidikan dengan diamankannya jajaran rektorat Universitas Jenderal Soedirman.
September: Kementerian ATR/BPN dengan barang bukti uang tunai dan valas Rp106,3 miliar dalam kasus HGB, dan Bupati Bolaang Mongondow Utara Sirajudin Lasena. Dengan ini, total 13 kepala daerah terjaring OTT sepanjang 2026.
Oktober: OTT ke-22 terkait BNPB, dengan 14 orang diamankan termasuk Sekretaris Utama BNPB.
Lihatlah polanya. Dari pajak, bea cukai, pengadilan, kampus, pertanahan, sampai badan penanggulangan bencana. Artinya korupsi sudah masuk ke semua sendi yang seharusnya melayani orang kecil. OTT lancar, tapi korupsi seperti jamur di musim hujan, tumbuh di kayu lapuk kekuasaan.
*Mengapa Tetap Subur?*
OTT itu penting, tetapi ia memotong daun, bukan mencabut akar. Akarnya masih subur karena tiga hal:
Pertama, uang orang miskin itu empuk dan mudah disikat karena korbannya tidak bisa berteriak. Kedua, hukuman yang tidak menimbulkan efek jera. Selama vonis ringan dan hasil korupsi masih bisa dinikmati, korupsi dianggap sebagai bisnis. Ketiga, biaya politik yang mahal membuat jabatan dilihat sebagai investasi yang harus kembali modal.
Maka jangan heran jika OTT lancar tetapi piring rakyat tetap kosong. Karena uang yang seharusnya jadi beras, obat, dan sekolah, sudah pindah menjadi mobil mewah dan tanah sertifikat ganda.
Koruptor di tahun 2026 ini tidak lagi mencuri uang negara. Ia mencuri doa. Ia mencuri doa seorang ibu agar anaknya bisa sekolah, doa petani agar pupuknya datang, dan doa penyintas bencana yang masih tidur di tenda. Doa itu lirih, tetapi naik pelan-pelan ke langit. Dan langit tidak pernah lupa.
*Penutup*
*A. Solusi: Cabut Akarnya, Bukan Hanya Potong Daunnya*
Solusi Sistem: Tutup Celahnya. Digitalkan semua perizinan dan pengadaan. Semua anggaran desa, bantuan sosial, dan proyek harus bisa dilihat rakyat lewat HP. Jika rakyat bisa melihat sendiri berapa uang masuk dan kemana larinya, koruptor akan takut sebelum mencuri.
Solusi Hukum: Buat Jera, Bukan Hanya Malu. Miskinkan koruptor, sita sampai ke aset keluarga, dan larang seumur hidup memegang jabatan publik. Jangan biarkan pencuri nasi orang miskin masih bisa tersenyum dan dihormati.
Solusi Pendidikan: Didik Integritas dari para pejabat.OTT menangkap satu orang, tetapi pendidikan integritas menyelamatkan seribu orang. Ajarkan logika supaya anak berani berkata “ini salah” dan ajarkan pendidikan holistik supaya anak malu kalau hidupnya tidak jujur. Integritas tidak lahir di gedung KPK, tetapi lahir di bale-bale rumah, di bangku sekolah minggu, di kebun bersama mama dan bapa.
*B. Pesan Moral: Jangan Curi Doa Orang Miskin*
Pada akhirnya, korupsi bukan soal pintar atau bodoh. Ini soal mati atau hidupnya hati nurani. Kau boleh punya gelar panjang dan jabatan tinggi, tapi jika kau menyikat uang yang seharusnya jadi beras untuk janda dan buku untuk anak kecil, maka kau adalah orang paling miskin di negeri ini. Miskin hati.
Ingatlah: Uang bisa kau cuci. Jabatan bisa kau beli. Hukum bisa kau akali. Tetapi doa orang miskin yang kau curi itu tidak akan pernah bisa kau hapus. Ia akan mengikuti langkahmu dan menjadi saksi di hadapan Tuhan.
Dari Teras Batin Oebufu yang sunyi, dari bambu-bambu bengkok yang tetap setia bernyanyi saat angin datang, saya titip pesan:
Jadilah manusia sebelum menjadi pejabat. Jadilah berintegritas sebelum menjadi berkuasa. Karena jabatan akan selesai, kekayaan akan habis, tetapi nama baik atau nama busuk akan tinggal bersama anak cucumu.
Tuhan tidak tidur.

















