OEBUFU, – Jubah religius yang bersih, khotbah yang menyentuh, dan wacana keberpihakan kepada kaum miskin kehilangan maknanya ketika kehidupan di balik tembok biara justru dikuasai kemewahan, kenyamanan, dan ketidakpedulian terhadap penderitaan sesama.
Kritik tajam ini disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, dari JPIC SVD Timor melalui renungan Renungan Jiwa bertema “Biara yang Bersih di Luar, tapi Penuh Rampasan di Dalam”, Selasa (13/10/2026), dalam Pekan Biasa XXVIII.
Berangkat dari Injil Lukas 11:37-41 dan Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia 4:31b–5:6, P. Domi mengajak kaum religius bercermin secara jujur: apakah kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan sungguh membebaskan mereka untuk melayani, atau justru menjadi simbol kesalehan yang menutupi praktik hidup yang bertentangan dengan semangat Injil?
Pesan utamanya tegas: persoalan kaum religius bukan semata-mata bagaimana mereka terlihat suci di hadapan umat, melainkan apakah kehidupan mereka sungguh menghadirkan keadilan, solidaritas, dan keberpihakan kepada orang miskin.
Teguran Yesus yang Menembus Tembok Biara
Dalam renungannya, P. Domi mengangkat teguran Yesus kepada kaum Farisi yang membersihkan bagian luar cawan dan pinggan, sementara bagian dalamnya penuh rampasan dan kejahatan.
“Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan” (Lukas 11:39).
Bagi P. Domi, teguran tersebut tidak berhenti pada kaum Farisi dalam kisah Injil. Sabda itu juga menjadi cermin bagi kehidupan kaum religius masa kini, termasuk komunitas SVD.
Ia menggambarkan Yesus seolah-olah hadir di meja makan biara-biara, menyaksikan bukan hanya kebersihan ruang makan dan penampilan para penghuninya, tetapi juga cara mereka mengelola harta, memperlakukan sesama, dan menggunakan sumber daya komunitas.
Pertanyaan yang diajukan bukan sekadar apakah seorang religius rajin berdoa, berkhotbah, atau mengikuti seminar tentang keadilan sosial. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah semua kegiatan itu sejalan dengan pilihan hidupnya sehari-hari.
Menurut refleksi tersebut, kesenjangan antara kata dan tindakan merupakan persoalan integritas yang tidak boleh disembunyikan di balik jubah, jabatan, maupun reputasi pelayanan.
Kaul Kemiskinan Jangan Berhenti pada Ikrar
Mengacu pada Galatia 5:1, P. Domi mengingatkan bahwa Kristus memerdekakan manusia agar hidup dalam kebebasan yang bertanggung jawab.
Kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan seharusnya menjadi jalan pembebasan bagi seorang religius untuk mengabdikan hidupnya kepada Tuhan dan sesama, bukan kesempatan membangun kenyamanan atau kekuasaan pribadi.
Namun, kebebasan itu dapat kehilangan makna ketika seorang religius justru terikat pada gengsi, kemapanan, dan gaya hidup mewah.
P. Domi menyoroti ironi ketika kaum religius berbicara tentang option for the poor atau keberpihakan kepada kaum miskin, tetapi dalam praktiknya orang miskin hanya dipandang sebagai sumber pemasukan bagi lembaga pelayanan.
Ia juga mengkritik gaya hidup yang mempertontonkan kemewahan di tengah masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Dalam konteks lembaga pendidikan, ia mengajak kaum religius mempertanyakan penggunaan uang yang berasal dari pengorbanan keluarga-keluarga sederhana. Apakah sumber daya tersebut sungguh digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan, memperluas akses bagi anak-anak miskin, dan memperkuat pelayanan, atau justru lebih banyak menopang kenyamanan para pengelolanya?
Kritik ini merupakan panggilan untuk mengevaluasi prioritas penggunaan sumber daya, bukan sekadar perdebatan mengenai merek kendaraan atau barang pribadi.
Ketika Kemewahan Menjauhkan Misionaris dari Orang Miskin
Salah satu bagian paling keras dalam renungan itu ialah gambaran seorang biarawan yang melintas dengan kendaraan mewah di jalan berlumpur, sementara di sekitarnya keluarga-keluarga miskin berjuang menghadapi kehilangan, kemiskinan, dan ketidakpastian hidup.
Bagi P. Domi, persoalannya bukan semata-mata kepemilikan kendaraan, telepon genggam, komputer, atau barang mahal lainnya. Persoalan mendasarnya adalah kesenjangan antara gaya hidup seorang misionaris dan realitas penderitaan masyarakat yang dilayaninya.
Di tengah masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, kemewahan yang dipertontonkan tanpa kepekaan sosial dapat melukai rasa keadilan dan kepercayaan umat.
Seorang misionaris seharusnya tidak hanya berbicara tentang Yesus yang lahir dalam kesederhanaan, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kesederhanaan itu melalui keputusan konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, P. Domi mengajak kaum religius menilai kembali apakah cara hidup mereka memperpendek jarak dengan kaum miskin atau justru menciptakan jurang sosial dan spiritual.
Sedekah sebagai Jalan Membersihkan Hati
Kunci pertobatan dalam renungan ini ditemukan pada Lukas 11:41: “Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.”
P. Domi membaca sabda tersebut sebagai ajakan untuk bergerak melampaui kesalehan lahiriah menuju pembaruan hidup yang nyata.
Pertobatan tidak cukup dilakukan melalui penampilan religius, doa, atau kata-kata yang terdengar indah. Pertobatan harus menyentuh cara seseorang menggunakan harta, mengelola kekayaan komunitas, dan memperlakukan orang yang hidup dalam keterbatasan.
Karena itu, ia mengajukan pertanyaan reflektif: apa yang tersimpan dalam rekening, gudang, dan garasi komunitas? Seberapa jauh sumber daya yang dimiliki telah digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi undangan untuk melakukan evaluasi secara jujur terhadap prioritas anggaran dan praktik solidaritas di lingkungan biara.
Pesannya jelas: kebersihan spiritual tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral atas harta dan sumber daya yang dipercayakan kepada komunitas.
JPIC Harus Berani Mengoreksi Diri Sendiri
Dalam perspektif Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (JPIC), P. Domi menegaskan bahwa perjuangan keadilan tidak boleh hanya diarahkan ke luar komunitas.
JPIC tidak cukup lantang mengkritik kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, atau ketidakadilan sosial apabila kehidupan internal komunitas sendiri tidak terbuka terhadap evaluasi.
Sebelum mengkritik pihak lain, komunitas religius perlu berani memeriksa tata kelola keuangan, pola konsumsi, penggunaan fasilitas, dan keberpihakan anggarannya kepada kelompok rentan.
P. Domi mengajukan sejumlah pertanyaan yang menantang kehidupan komunitas: beranikah sebuah biara mengaudit gaya hidupnya sendiri? Beranikah para konfrater membandingkan pengeluaran untuk kenyamanan dengan dukungan bagi pendidikan anak-anak miskin? Beranikah seorang religius menegur sesama saudaranya ketika gaya hidupnya dinilai tidak sejalan dengan semangat misioner?
Pertanyaan-pertanyaan ini menempatkan JPIC bukan hanya sebagai gerakan advokasi di luar lembaga, melainkan juga sebagai panggilan pembaruan dari dalam.
Keberanian memperjuangkan keadilan harus disertai kesediaan menerima kritik, mengoreksi kebiasaan, dan membenahi tata kelola komunitas.
Warisan Santo Arnoldus Janssen dan Panggilan Pertobatan
P. Domi juga mengingatkan semangat Santo Arnoldus Janssen, pendiri Serikat Sabda Allah (SVD). Dalam refleksinya, ia menegaskan bahwa semangat misioner SVD seharusnya melahirkan pelayan Sabda yang dekat dengan orang miskin, bukan sosok yang menjadikan status religius sebagai jalan menuju kemapanan.
Kedekatan dengan kaum miskin tidak cukup dinyatakan dalam dokumen Kapitel atau khotbah. Kedekatan itu harus terlihat dalam pilihan hidup, penggunaan sumber daya, dan kesediaan berbagi dengan mereka yang paling membutuhkan.
Pada akhirnya, renungan P. Domi merupakan kritik internal sekaligus ajakan pertobatan bagi kaum religius.
Jubah yang bersih tidak dengan sendirinya menjamin hati yang bersih. Kesalehan yang diucapkan dari mimbar juga tidak otomatis menghadirkan keadilan dalam kehidupan nyata.
Ukuran integritas seorang misionaris bukan hanya apa yang dikhotbahkannya, melainkan sejauh mana cara hidupnya menjadi kabar baik bagi orang miskin.
Dari Soverdi Oebufu, Selasa (13/10/2026), P. Domi mengajak komunitas religius untuk berani “menumpahkan isi cawan”: memeriksa diri, membenahi penggunaan harta, dan menjadikan solidaritas sebagai bagian nyata dari kehidupan membiara.
Sebab, pertobatan sejati bukan tentang terlihat bersih di luar, melainkan keberanian membersihkan bagian dalam kehidupan—agar pelayanan kepada Tuhan sungguh menjadi pelayanan kepada manusia, terutama mereka yang paling membutuhkan.
P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor

















