banner 728x250

P. DOMI SVD: PEJUANG JPIC JANGAN HANYA MEMINTA TANDA, TETAPI HARUS BERANI MENJADI TANDA PERUBAHAN

banner 120x600
banner 468x60

Renungan Jiwa JPIC SVD Timor: Anak Merdeka Dipanggil Melawan Ketidakpedulian dan Membela Mereka yang Menderita

KUPANG, — Perjuangan membela kaum kecil, mendampingi korban perdagangan orang, memperjuangkan migrasi aman, dan mengolah lahan tidur tidak cukup hanya mengandalkan doa serta menunggu tanda keberhasilan dari Tuhan. Para pejuang Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) justru dipanggil untuk menjadi tanda nyata kasih Allah melalui keberanian menghadapi penderitaan, melawan ketidakpedulian, dan memperjuangkan martabat manusia.

banner 325x300

Pesan kritis dan reflektif ini disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, dalam Renungan Jiwa untuk Jiwa-Jiwa Petarung JPIC SVD Timor, Senin, 12 Oktober 2026. Berangkat dari Galatia 4:22–27,31–5:1 dan Lukas 11:29–32, ia mengangkat tema “Anak Merdeka yang Bukan Berani Minta Tanda, tapi Mau Menjadi Tanda.”

Renungan ini mengajak para pejuang kemanusiaan untuk menguji kembali motivasi pelayanan mereka: apakah perjuangan lahir dari iman dan kerinduan membebaskan manusia dari penderitaan, atau justru terbelenggu oleh tuntutan program, laporan, proyek, pendanaan, dan pengakuan manusia.

Bukan Hamba Sistem, Melainkan Anak Merdeka

Mengacu pada surat Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, P. Domi mengingatkan bahwa identitas orang beriman bukanlah identitas seorang hamba, melainkan anak-anak merdeka yang hidup dalam janji dan anugerah Allah.

Ia menggunakan kisah Hagar dan Sara untuk menggambarkan dua cara menjalani kehidupan iman. Hagar melambangkan perhambaan, sedangkan Sara melambangkan kemerdekaan yang berakar pada janji Allah.

Dalam konteks pelayanan JPIC, gambaran tersebut menjadi kritik terhadap kecenderungan menjadikan pekerjaan kemanusiaan sekadar rutinitas administratif atau kewajiban program.

Para pejuang sosial dapat kehilangan kebebasan batin ketika bekerja hanya demi memenuhi target, menyelesaikan laporan, mempertahankan proyek, memperoleh pujian, atau menghindari penilaian negatif.

“Pejuang JPIC adalah orang merdeka. Kita tidak diselamatkan karena kita sudah melakukan hukum Taurat sosial, karena sudah advokasi 116 jenazah migran, karena sudah olah 10 hektar lahan tidur,” demikian penegasan dalam renungan tersebut.

Pesannya jelas: pelayanan sosial bukan alat untuk membeli keselamatan atau mencari pengakuan, melainkan tanggapan iman terhadap kasih Allah.

Karena itu, kemerdekaan rohani harus tampak dalam keberanian membela manusia tanpa dikendalikan rasa takut, kepentingan pribadi, atau ketergantungan pada sistem.

“Hanya orang merdeka yang bisa memerdekakan. Hamba tidak bisa memerdekakan hamba lain,” tulis P. Domi.

Yesus Bukan Sekadar Pemberi Tanda, tetapi Tanda Itu Sendiri

Pada bagian kedua, P. Domi menghubungkan pesan kemerdekaan dengan teguran Yesus terhadap orang banyak yang meminta tanda dalam Injil Lukas.

Menurutnya, persoalan orang banyak bukan semata-mata karena mereka meminta bukti, melainkan karena mereka tidak mampu mengenali makna kehadiran Yesus di tengah mereka.

Situasi ini menjadi refleksi bagi para pejuang JPIC yang terkadang menunggu kepastian keberhasilan sebelum berani melangkah.

Mereka ingin melihat bukti bahwa lahan tidur akan menjadi produktif, migrasi nonprosedural dapat ditekan, dan upaya membangun jalur migrasi aman benar-benar membawa kesejahteraan bagi pekerja migran asal Nusa Tenggara Timur.

Namun, renungan ini mengingatkan bahwa perjuangan tidak selalu dapat menunggu hasil yang pasti. Ada saat ketika iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata, meskipun jalan yang ditempuh penuh risiko dan ketidakpastian.

P. Domi menempatkan Yesus sebagai tanda utama melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Karena itu, mengikuti Kristus berarti tidak berhenti pada kekaguman terhadap tanda-tanda ilahi, tetapi bersedia menghadirkan kasih Allah melalui pertobatan dan tindakan konkret.

Bagi JPIC, pertobatan bukan hanya meninggalkan dosa pribadi. Pertobatan juga berarti menolak sikap acuh tak acuh terhadap penderitaan, berani melawan pembiaran, dan tidak membiarkan ketakutan mematikan kepedulian.

Sebaliknya, iman harus diwujudkan melalui kerja nyata: mendampingi korban perdagangan orang, memperjuangkan migrasi aman, mengolah lahan tidur, dan mengupayakan sumber daya agar pelayanan kemanusiaan dapat terus berjalan.

Pejuang JPIC Juga Orang Berdosa yang Dipanggil Mengangkat Sesama

Salah satu pesan penting dalam renungan ini ialah penolakan terhadap anggapan bahwa orang yang melayani sesama harus terlebih dahulu menjadi pribadi yang sempurna.

P. Domi justru menegaskan bahwa para pejuang JPIC sendiri merupakan manusia yang memiliki kelemahan dan pengalaman luka, tetapi tetap dipanggil untuk berdiri bersama mereka yang menderita.

“Para pejuang JPIC juga adalah orang-orang berdosa yang harus terjun bebas dalam mengangkat saudara-saudaranya yang menderita, terluka, terpinggirkan oleh karena sistem yang dibangun para pendosa,” tulisnya.

Pesan tersebut menempatkan pelayanan kemanusiaan bukan sebagai tindakan dari orang yang merasa lebih suci kepada mereka yang dianggap lemah, melainkan sebagai solidaritas antarmanusia yang sama-sama membutuhkan rahmat Allah.

Kesadaran akan kelemahan diri seharusnya tidak menjadi alasan untuk mundur. Sebaliknya, kesadaran itu menjadi dasar untuk melayani dengan rendah hati, tidak menghakimi korban, dan berani memasuki kenyataan hidup masyarakat yang terpinggirkan.

Menjadi Rama-Rama yang Mendekati Cahaya

Pada bagian penutup, P. Domi menggunakan metafora rama-rama dan tikus untuk menggambarkan dua pilihan hidup yang berlawanan: keberanian mendekati cahaya atau kenyamanan bersembunyi dalam kegelapan.

Ia menulis, “Rama-rama yang berputar-putar sekitar lampu hingga tewas lebih terhormat daripada seekor tikus yang hidup dalam terowongan gelap.”

Dalam konteks renungan tersebut, rama-rama melambangkan keberanian mengambil risiko demi nilai yang diyakini, sedangkan tikus menggambarkan pilihan untuk tetap aman tanpa berani menghadapi kenyataan.

Metafora itu diarahkan kepada para pejuang JPIC agar tidak memilih kenyamanan ketika sesama manusia membutuhkan pembelaan.

P. Domi mencontohkan perjuangan membangun migrasi aman melalui PT Hamparan Karya Insani serta upaya mengolah lahan tidur yang menghadapi berbagai tantangan. Ia menekankan keberanian untuk bekerja dan berjuang, bukan sekadar menunggu jaminan bahwa semua usaha akan berhasil.

“Lebih terhormat kita berjuang untuk tenaga kerja legal lewat PT Hamparan dan gagal, daripada kita diam aman di biara sambil melihat 116 peti jenazah lewat dan berkata ‘bukan urusan tentang saya’,” tulisnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa ukuran keberanian dalam pelayanan tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilan program, tetapi juga oleh kesediaan untuk hadir, mengambil tanggung jawab, dan tidak meninggalkan mereka yang menderita.

Meski demikian, keberanian yang dimaksud bukanlah tindakan nekat tanpa pertimbangan, melainkan komitmen yang berakar pada iman, tanggung jawab, dan keberpihakan terhadap martabat manusia.

Jangan Menunggu Tanda, Jadilah Tanda

Menutup renungannya dari Soverdi Oebufu, Senin, 12 Oktober 2026, P. Domi mengajak seluruh jiwa petarung JPIC SVD Timor untuk kembali meneguhkan komitmen pelayanan.

Menurutnya, Tuhan tidak semata-mata meminta para pejuang kemanusiaan membuktikan keberhasilan, tetapi menghendaki mereka hidup sebagai anak-anak merdeka yang berani menghadirkan tanda kasih-Nya di tengah masyarakat.

Seruan itu sekaligus menjadi ajakan untuk melawan kelelahan yang membuat orang kehilangan arah, menolak kenyamanan yang membungkam suara hati, dan terus bekerja bagi mereka yang terpinggirkan.

Renungan ini ditutup dengan penegasan dari Galatia 5:1: “Kristus telah memerdekakan kita, supaya kita sungguh-sungguh merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”

Bagi para pejuang JPIC SVD Timor, pesan utamanya tegas: jangan hanya menunggu tanda bahwa dunia akan berubah. Jadilah tanda perubahan itu melalui keberanian membela kehidupan, memperjuangkan keadilan, merawat ciptaan, dan mengangkat martabat sesama manusia.

Soverdi Oebufu, Senin, 12 Oktober 2026

P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor

banner 325x300
error: Content is protected !!