Homili Minggu Biasa XXVIII: Ekaristi Harus Melahirkan Hati yang Peduli dan Solider
SOEVERDI OEBUFU, 11 Oktober 2026 — Kehadiran di gereja, kesetiaan mengikuti Ekaristi, dan penerimaan Komuni Kudus tidak dengan sendirinya menjamin seseorang hidup dalam kasih. Ukuran iman yang sesungguhnya terlihat dari kepedulian terhadap penderitaan sesama, keberanian melawan ketidakadilan, serta kesediaan berbagi dengan mereka yang berkekurangan.
Pesan tajam ini disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, dari JPIC SVD Timor, dalam homili Minggu Biasa XXVIII/A, Minggu, 11 Oktober 2026, bertema “Perjamuan Kemenangan: Tapi Kamu Peduli atau Tidak?”
Berangkat dari bacaan Kitab Suci Yesaya 25:6-10a, Filipi 4:12-14.19-20, dan Injil Matius 22:1-14, P. Domi mengajak umat merenungkan undangan Allah ke dalam perjamuan-Nya. Persoalan mendasar bukan lagi apakah manusia telah menerima undangan Tuhan, melainkan apakah mereka sungguh peduli dan menanggapi undangan itu melalui kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, dosa yang berbahaya bukan hanya penolakan terhadap Tuhan secara terang-terangan, tetapi sikap tidak peduli yang perlahan-lahan membuat hati manusia kehilangan kepekaan terhadap sesama.
“Kita tidak menolak Tuhan secara terang-terangan. Kita hanya tidak peduli pada-Nya. Kita lebih peduli pada status-jabatan kita, pada HP kita, pada usaha kita,” demikian penegasan dalam homili tersebut.
Tidak Peduli terhadap Penderitaan adalah Peringatan bagi Orang Beriman
Mengulas Injil tentang perjamuan kawin, P. Domi menyoroti para undangan yang memilih mengurus ladang dan usaha masing-masing daripada memenuhi undangan sang raja.
Baginya, kisah tersebut menjadi cermin kehidupan manusia masa kini. Kesibukan, pekerjaan, urusan pribadi, dan kepentingan duniawi dapat mengambil alih ruang yang seharusnya ditempati oleh kasih kepada Allah dan sesama.
Ia mengingatkan bahwa ketidakpedulian tampak ketika manusia kehilangan kepekaan terhadap penderitaan di sekitarnya, termasuk kekerasan dalam keluarga dan persoalan kemiskinan masyarakat.
Ia secara khusus menyinggung penderitaan para ibu yang mencucurkan air mata akibat kekerasan fisik maupun verbal dalam keluarga. Ia juga mengangkat ironi kehidupan masyarakat Timor yang masih berhadapan dengan kemiskinan, sementara terdapat tanah yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Orang NTT miskin di atas tanahnya yang subur,” menjadi salah satu ungkapan kritis dalam homili tersebut.
Pesan ini mengajak umat untuk tidak berhenti pada rasa prihatin, tetapi membangun kepedulian yang nyata terhadap persoalan sosial di lingkungan masing-masing.
Berada di Dalam Gereja, tetapi Kehilangan Pakaian Pesta
Bagian lain yang menjadi sorotan ialah kisah tentang seorang tamu yang berada di ruang perjamuan, tetapi tidak mengenakan pakaian pesta.
P. Domi menggunakan gambaran tersebut untuk mengajak umat memeriksa kualitas kehidupan imannya sendiri. Seseorang dapat rajin mengikuti Misa, menerima Komuni, bahkan selalu hadir dalam kegiatan gereja, tetapi tetap menyimpan iri hati, gosip, fitnah, dendam, kebencian, dan sikap tidak peduli terhadap orang yang menderita.
Dalam refleksinya, ia menegaskan bahwa pakaian pesta melambangkan hati yang peduli dan solider.
Karena itu, Ekaristi tidak boleh dipahami hanya sebagai ritual keagamaan, melainkan sebagai perjumpaan dengan Kristus yang harus mengubah cara seseorang memperlakukan sesamanya.
P. Domi mengingatkan bahwa menerima Tubuh Kristus harus berjalan seiring dengan kesediaan membangun persaudaraan, mengampuni, berbagi, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih manusiawi.
Ia mengajukan pertanyaan reflektif kepada umat: apa artinya menyantap roti yang sama dalam Ekaristi, tetapi tidak bersedia berbagi dengan tetangga yang kelaparan?
Pertanyaan tersebut menegaskan hubungan erat antara perayaan iman dan tanggung jawab sosial. Kesatuan dengan Kristus seharusnya melahirkan kesatuan dengan sesama, terutama mereka yang mengalami penderitaan dan ketidakadilan.
Ekaristi Harus Menggerakkan Kepedulian Nyata
Dalam penutup homilinya, P. Domi mengajak umat agar tidak meninggalkan gereja tanpa membawa pulang perubahan hati. Setiap orang perlu memeriksa kembali apakah masih memiliki kepekaan ketika melihat orang lain menderita atau justru memilih berlalu tanpa memberikan perhatian.
Menurut pesan homili tersebut, Perjamuan Kemenangan yang disiapkan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari cara manusia menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Kemenangan iman bukan sekadar pengakuan sebagai orang beragama, melainkan kesediaan menghadirkan kasih dalam tindakan nyata: membantu mereka yang berkekurangan, menolak kekerasan, membangun solidaritas, dan tidak menutup mata terhadap ketidakadilan.
“Tuhan sudah memberimu hati untuk peduli. Masihkah hati itu berdetak?” menjadi pertanyaan penutup yang menggugah kesadaran umat.
Melalui homili ini, P. Domi K. Dheo, SVD, mengingatkan bahwa perayaan Ekaristi seharusnya melahirkan manusia yang semakin peka terhadap penderitaan, bukan semakin nyaman dengan ketidakpedulian.
Sebab, seseorang tidak cukup hanya berada di dalam ruang perjamuan. Ia juga harus mengenakan pakaian pesta: hati yang hidup dalam kasih, kepedulian, dan solidaritas terhadap sesama.
Amin.
Soverdi Oebufu, Minggu, 11 Oktober 2026
P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor

















