banner 728x250

116 Jenazah Migran NTT Tiba di El Tari, JPIC SVD Timor: Ini Darurat Kemanusiaan!

banner 120x600
banner 468x60

KUPANG,  — Sebanyak 116 jenazah pekerja migran asal Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan tiba di Bandara El Tari, Kupang, sejak Januari hingga awal Oktober 2026. Di tengah angka yang memilukan itu, Kabupaten Malaka disebut menyumbang 23 jenazah. Data ini menjadi alarm serius bagi keselamatan warga NTT yang mencari penghidupan di luar negeri melalui jalur migrasi berisiko.

banner 325x300

Koordinator Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) SVD Timor, Pater Domi K. Dheo, SVD, menegaskan bahwa persoalan migrasi, perdagangan orang, kekerasan terhadap perempuan dan anak, kemiskinan struktural, serta kerusakan lingkungan merupakan persoalan kemanusiaan yang menuntut keterlibatan nyata Gereja dan seluruh elemen masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Pater Domi dalam dialog interaktif bertema “SVD dan Kepedulian Sosial” di Radio Verbum, Sabtu (10/10/2026), yang dipandu Isidorus Lili Jawa.

Menurut Pater Domi, kepedulian sosial bukanlah kegiatan tambahan dalam misi Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD). Kepedulian itu merupakan bagian mendasar dari panggilan misioner untuk menghadirkan Sabda Allah di tengah persoalan konkret manusia.

“SVD bukan hanya berbicara tentang doa dan misa. Panggilan misioner juga menuntut kehadiran di tengah penderitaan manusia. Tapal batas hari ini bukan hanya batas geografis, tetapi juga tapal batas kemanusiaan, tempat martabat dan keselamatan manusia dipertaruhkan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa angka 116 jenazah migran bukan sekadar statistik. Di balik setiap jenazah, terdapat keluarga yang kehilangan anggota keluarga, harapan yang kandas, dan persoalan sosial yang harus ditangani secara serius.

“Kalau NTT ini sejahtera, mengapa anak-anaknya harus mempertaruhkan nyawa untuk mencari kehidupan di Malaysia? Ini pertanyaan iman sekaligus pertanyaan kemanusiaan,” demikian penekanan Pater Domi dalam materi dialog tersebut.

Migrasi Bukan Masalah, Jalur Ilegal Harus Dihentikan

Pater Domi menegaskan bahwa bekerja di luar daerah atau luar negeri merupakan hak setiap warga negara. Karena itu, yang harus dilawan bukan semangat merantau, melainkan jalur keberangkatan yang tidak aman, praktik perekrutan ilegal, dan jaringan perdagangan orang.

Sejak 2010, ia mengaku telah mengunjungi pekerja migran asal NTT di sejumlah wilayah Malaysia, termasuk perkebunan sawit di Perak, kawasan Sekinchan, dan kawasan industri di Selangor.

Dalam kunjungan tersebut, ia menemukan persoalan yang dihadapi para pekerja migran, mulai dari kondisi tempat tinggal yang tidak layak, dugaan penahanan paspor oleh majikan, hingga keterbatasan akses untuk menjalankan kehidupan beragama.

Pengalaman itu menjadi salah satu alasan SVD menghadirkan pelayanan rohani bagi para migran, termasuk melalui pelayanan Paskah dan Natal.

Menurut Pater Domi, keberangkatan melalui jalur tidak prosedural membuat pekerja migran rentan karena tidak memiliki perlindungan hukum yang memadai. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh perekrut atau jaringan perdagangan orang.

Karena itu, ia menyerukan agar masyarakat tidak mudah percaya pada janji pekerjaan bergaji tinggi dari calo tanpa memeriksa legalitas perekrutan dan perusahaan penempatan.

“Pesan kami sangat jelas: stop jalur gelap, stop trafficking, dan berangkatlah melalui jalur prosedural,” tegasnya.

Sebagai salah satu informasi yang perlu disosialisasikan kepada masyarakat, Pater Domi menyebut adanya peluang penempatan 250 tenaga kerja melalui PT Hamparan, dengan rentang usia 20–40 tahun. Ia mengajak calon pekerja dan keluarga untuk memeriksa langsung persyaratan, legalitas penempatan, kontrak kerja, serta perlindungan yang tersedia sebelum mengambil keputusan.

Ia juga mengingatkan warga yang hendak mencari pekerjaan di Papua agar mempersiapkan keterampilan dan informasi yang memadai.

“Ke Papua untuk mencari hidup, bukan untuk mencari mati. Jangan berangkat tanpa bekal keterampilan dan informasi yang benar,” pesannya.

Perempuan dan Anak Jangan Menjadi Korban Kekerasan

Selain migrasi, JPIC SVD Timor menyoroti kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih menjadi persoalan serius di masyarakat.

Pater Domi mengaitkan persoalan tersebut dengan kemiskinan struktural, ketimpangan relasi kuasa, dan budaya patriarki yang dapat memperburuk kerentanan perempuan serta anak di dalam keluarga.

Menurutnya, penanganan kekerasan tidak cukup hanya melalui pendampingan terhadap korban. Upaya pencegahan juga harus menyentuh akar persoalan, termasuk memperkuat kemandirian ekonomi perempuan.

Salah satu upaya yang disebutkannya ialah pemberdayaan ekonomi perempuan di Halikelen, Atambua, agar mereka memiliki kemampuan ekonomi dan posisi tawar yang lebih kuat.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak menutup mata terhadap kekerasan yang terjadi di lingkungan sekitar serta mendorong korban memperoleh pendampingan dan perlindungan yang layak.

Lahan Tidur Harus Menjadi Sumber Kehidupan

Persoalan berikutnya yang menjadi perhatian JPIC SVD Timor adalah lahan tidur dan kerusakan lingkungan.

Pater Domi menilai, masyarakat di wilayah Timor menghadapi ironi ketika kemiskinan masih menjadi persoalan, sementara sejumlah lahan potensial belum dimanfaatkan secara produktif.

Menurutnya, pengelolaan lahan secara berkelanjutan dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat ekonomi keluarga, membuka peluang usaha, dan mengurangi kerentanan masyarakat terhadap tawaran pekerjaan berisiko.

SVD, kata dia, mencoba mengembangkan model pemanfaatan lahan tidur di Soverdi dan Halikelen melalui pengembangan padang penggembalaan, peternakan sapi perah, serta tanaman sorgum.

Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan ekologi integral, yakni upaya membangun hubungan yang seimbang antara manusia, tanah, hewan, dan lingkungan hidup.

“Kalau lahan di sekitar kita bisa dikelola secara produktif, mengapa tidak kita manfaatkan untuk membangun kehidupan keluarga?” demikian pesan yang disampaikan dalam dialog tersebut.

Ia mengajak masyarakat memulai dari lingkungan terdekat, termasuk mengolah pekarangan untuk menanam sayuran dan tanaman produktif lainnya.

Soroti Galian C dan Proyek Geotermal

Dalam bidang lingkungan hidup, JPIC SVD Timor juga menyoroti aktivitas pertambangan galian C di Pulau Timor serta pengembangan energi geotermal di Flores.

Pater Domi mengingatkan bahwa aktivitas pertambangan yang tidak sesuai ketentuan dapat merusak sungai, lahan pertanian, dan lingkungan hidup masyarakat. Ia menilai pengawasan terhadap aktivitas pertambangan perlu dilakukan agar manfaat ekonomi tidak dibayar dengan kerusakan lingkungan dan hilangnya sumber penghidupan warga.

Sementara itu, terkait pengembangan geotermal di Flores, ia mengangkat kekhawatiran masyarakat mengenai ruang hidup, sumber mata air, serta keterlibatan masyarakat adat dalam pengambilan keputusan.

Sejumlah wilayah yang disebut dalam materi dialog tersebut antara lain Poco Leok, Wae Sano, Wogo, dan Todabelu.

JPIC SVD Timor, tegasnya, tidak menolak pembangunan maupun pengembangan energi. Namun, pembangunan harus menghormati hak masyarakat, melindungi lingkungan, dan memastikan warga memperoleh informasi yang memadai sebelum keputusan diambil.

Ia menekankan pentingnya prinsip Free, Prior and Informed Consent (FPIC), yakni persetujuan bebas, didahulukan, dan diinformasikan secara memadai, khususnya dalam keputusan yang berdampak pada masyarakat adat dan ruang hidup mereka.

“Kami tidak anti pembangunan. Kami anti pembangunan yang memiskinkan. Pembangunan tidak boleh mengorbankan masyarakat yang seharusnya menjadi penerima manfaat,” menjadi salah satu penegasan utama Pater Domi.

Perdagangan Orang, Ancaman Serius bagi NTT

Pater Domi juga mengingatkan bahwa perdagangan orang atau human trafficking merupakan bentuk perbudakan modern yang dapat menyasar siapa saja, terutama mereka yang berada dalam kondisi ekonomi rentan.

Perekrutan dengan kedok beasiswa, tawaran pekerjaan di toko, maupun pekerjaan di restoran dapat menjadi modus yang harus diwaspadai apabila digunakan untuk menipu dan mengeksploitasi korban.

Dalam upaya pencegahan, JPIC SVD Timor bekerja bersama para suster dan jaringan Talitha Kum untuk melakukan sosialisasi di kampung-kampung, sekolah menengah atas, dan paroki-paroki.

Pater Domi menegaskan bahwa pencegahan harus dilakukan sejak awal, sebelum warga menerima tawaran yang tidak jelas atau menjadi korban jaringan perekrutan ilegal.

Data 116 jenazah migran NTT yang disebut dalam dialog tersebut, termasuk 23 jenazah asal Malaka, menjadi pengingat bahwa persoalan migrasi berisiko dan perdagangan orang membutuhkan penanganan bersama.

Meski demikian, angka tersebut perlu dibaca sesuai sumber dan kategorinya. Tidak semua kematian pekerja migran dengan sendirinya dapat dinyatakan sebagai kasus perdagangan orang tanpa hasil pemeriksaan atau penetapan yang mendukung.

Kemiskinan Struktural dan Ancaman Narkoba

Menurut Pater Domi, berbagai persoalan sosial tersebut tidak dapat dilepaskan dari kemiskinan struktural, terbatasnya akses terhadap modal, pasar, dan pendidikan vokasi, serta belum meratanya kesempatan ekonomi.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyalahkan individu sebagai penyebab kemiskinan. Sebaliknya, perlu ada perhatian terhadap kondisi sosial dan ekonomi yang membatasi pilihan hidup masyarakat.

Di samping itu, ia mengingatkan potensi ancaman narkoba bagi generasi muda NTT. Meski dalam materi dialog ia menyebut tingkat pemakaian narkoba di NTT masih rendah, ia meminta masyarakat tidak mengabaikan risiko peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

Pater Domi menilai, generasi muda yang kehilangan harapan dan kesempatan ekonomi dapat menjadi lebih rentan terhadap pengaruh negatif. Karena itu, JPIC SVD Timor mulai melakukan sosialisasi mengenai masalah adiktif di kalangan Orang Muda Katolik (OMK) dan sekolah-sekolah menengah atas.

Ia mengajak keluarga, sekolah, Gereja, dan pemerintah untuk membangun lingkungan yang mendukung generasi muda agar memiliki keterampilan, kesempatan, serta masa depan yang lebih baik.

JPIC Ajak Masyarakat Bergerak Bersama

Menutup dialog interaktif di Radio Verbum, Pater Domi menegaskan bahwa SVD tidak dapat bekerja sendiri dalam menjawab persoalan sosial di NTT.

Ia mengajak pemerintah desa, orang tua, lembaga pendidikan, Gereja, dan media massa untuk mengambil bagian dalam upaya perlindungan masyarakat.

Ada tiga pesan utama yang disampaikannya kepada para pendengar.

Pertama, keluarga yang memiliki anak atau kerabat yang hendak bekerja di luar negeri perlu memastikan jalur penempatan yang resmi dan aman. Masyarakat diminta berkonsultasi dengan JPIC SVD Timor atau Dinas Tenaga Kerja serta menghindari perekrut yang tidak jelas legalitasnya.

Kedua, masyarakat diajak mulai memanfaatkan lahan tidur di lingkungan masing-masing sebagai sumber pangan dan pendapatan keluarga.

Ketiga, warga diminta tidak diam ketika mengetahui adanya kekerasan terhadap perempuan dan anak maupun dugaan aktivitas pertambangan galian C ilegal. Informasi tersebut perlu disampaikan kepada pihak berwenang agar dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan.

Bagi Pater Domi, kepedulian sosial bukan sekadar wacana, melainkan tindakan nyata untuk menjaga martabat manusia, melindungi kehidupan, dan membangun harapan di tengah masyarakat.

“Kami ingin orang Timor tetap hidup sebagai manusia di tanahnya sendiri. Karena setiap manusia diberi hati untuk peduli dan bersolider,” tutup Koordinator JPIC SVD Timor tersebut.

 

Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!