banner 728x250

Taurat Menjaga, Firman Mengakar: P. Domi K. Dheo SVD Teguhkan Pejuang Kemanusiaan agar Tak Menyerah dalam Kegagalan

banner 120x600
banner 468x60

SOEVERDI OEBUFU, 10 OKTOBER 2026 — Perjuangan kemanusiaan tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Migran tetap berangkat melalui jalur nonprosedural, korban kekerasan kembali ke lingkaran pelaku, lahan yang diolah belum memberikan hasil, dan advokasi sosial terkadang berhadapan dengan penolakan. Namun, bagi para pejuang keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan (JPIC), kegagalan bukan alasan untuk berhenti berjuang.

Pesan itulah yang ditegaskan P. Domi K. Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, dalam Renungan Jiwa—Peneguhan bagi Para Pejuang Kemanusiaan, Sabtu (10/10/2026). Berangkat dari bacaan Galatia 3:22-29 dan Lukas 11:27-28, ia mengajak para pejuang kemanusiaan untuk tidak sekadar menjadi penjaga aturan, tetapi membangun seluruh perjuangan di atas iman dan Firman Tuhan.

banner 325x300

Mengusung tema “Taurat adalah Penjaga, tapi Firman adalah Akar”, refleksi ini menempatkan iman bukan sekadar sebagai sumber inspirasi rohani, melainkan sebagai fondasi untuk bertahan dalam perjuangan sosial yang penuh tantangan.

Melampaui Aturan, Menemukan Dasar Perjuangan dalam Kristus

Mengulas Surat Paulus kepada jemaat di Galatia, P. Domi menjelaskan bahwa Taurat memiliki fungsi sebagai penjaga yang mengarahkan manusia kepada Kristus. Namun, penjaga tidak sama dengan penyelamat. Karena itu, kehidupan iman tidak boleh berhenti pada kepatuhan terhadap aturan, tetapi harus bertumbuh menuju persatuan dengan Kristus.

Perspektif tersebut, menurut refleksi ini, relevan bagi gerakan JPIC yang berhadapan langsung dengan persoalan kemanusiaan di Timor.

Pendampingan migran, advokasi korban kekerasan, pengumpulan data, penolakan terhadap praktik yang merusak lingkungan, hingga perjuangan menghidupkan lahan tidur merupakan bagian penting dari keterlibatan sosial. Namun, seluruh aktivitas tersebut perlu berakar pada iman yang mengakui martabat setiap manusia.

P. Domi mengingatkan bahwa perjuangan kemanusiaan tidak boleh semata-mata menjadi pekerjaan administratif, rutinitas advokasi, atau kegiatan untuk memenuhi laporan.

“Luka mereka adalah luka kita,” menjadi pesan utama yang mengalir dari refleksinya tentang persatuan semua orang di dalam Kristus.

Dasarnya terdapat dalam Galatia 3:26-28, yang menegaskan bahwa semua orang adalah anak-anak Allah karena iman kepada Yesus Kristus. Di dalam Kristus, sekat-sekat yang memisahkan manusia tidak menjadi dasar untuk membedakan martabat mereka.

Dengan perspektif itu, penderitaan migran yang meninggal di perantauan bukan sekadar persoalan angka atau laporan. Penderitaan tersebut merupakan panggilan untuk melihat sesama sebagai saudara yang martabatnya wajib dihormati.

Bagi JPIC, iman harus menjelma menjadi keberpihakan nyata kepada mereka yang rentan, tersisih, dan mengalami ketidakadilan.

Bukan Mengejar Pujian, Melainkan Melaksanakan Firman

Pesan kedua bertolak dari Injil Lukas 11:27-28. Ketika seorang perempuan memuji ibu Yesus, Ia menjawab bahwa yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan memeliharanya.

Bagi P. Domi, jawaban Yesus mengingatkan bahwa inti kehidupan beriman bukanlah kekaguman, pengakuan, atau pujian dari orang lain, melainkan kesediaan untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah.

Prinsip tersebut menjadi kritik reflektif bagi setiap pelaku gerakan kemanusiaan.

JPIC tidak cukup dikenal sebagai kelompok yang vokal menyuarakan ketidakadilan. Komitmen terhadap kemanusiaan harus terlihat dalam kesetiaan menjalankan pelayanan, mendampingi mereka yang menderita, dan tetap bekerja meskipun tidak memperoleh pengakuan.

Kebahagiaan sejati, dalam perspektif Injil tersebut, tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang memuji perjuangan seseorang. Kebahagiaan lahir dari kesetiaan menjalankan Firman, termasuk ketika perjuangan berlangsung dalam kesunyian dan menghadapi kegagalan.

P. Domi mengajak para pejuang kemanusiaan untuk terus berakar dalam Kristus, Sang Sabda yang telah menjadi manusia.

Ia juga menegaskan semangat spiritualitas SVD melalui ungkapan Verbo Dei Amorem Spiranti, yang dalam refleksi tersebut ditempatkan sebagai panggilan untuk menghidupi kasih yang bersumber dari Sabda Allah.

Bertahan dalam Kegagalan, Bukan Sekadar Menunggu Hasil

Bagian paling kuat dari refleksi ini adalah ajakan untuk bertahan ketika perjuangan tidak berjalan sesuai harapan.

P. Domi menggambarkan situasi yang mungkin dihadapi para pejuang kemanusiaan: lahan yang diolah masih bermasalah, migran yang didampingi tetap memilih jalur keberangkatan berisiko, korban kekerasan kembali kepada pelaku karena keterpaksaan, atau program pendampingan menghadapi penolakan masyarakat.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak selalu berlangsung cepat. Niat baik dan kerja keras tidak otomatis menghasilkan perubahan sebagaimana yang diharapkan.

Namun, ia mengajak para pejuang untuk tidak kehilangan harapan.

Bertahan, menurut refleksi itu, bukan semata-mata karena seseorang memiliki kekuatan atau selalu melihat hasil dari pekerjaannya. Keteguhan sejati tumbuh dari akar iman yang membuat seseorang tetap setia meskipun menghadapi keterbatasan.

“Bertahan bukan karena engkau kuat. Bertahan karena engkau berakar,” demikian inti peneguhan yang disampaikan P. Domi bagi para pejuang kemanusiaan.

Pesan tersebut menempatkan spiritualitas sebagai sumber daya batin untuk menjaga konsistensi perjuangan. Ketika hasil belum terlihat, iman membantu seseorang untuk tidak serta-merta menganggap seluruh usahanya sia-sia.

Dalam konteks JPIC, kesetiaan itu berarti terus memperjuangkan martabat manusia, mendampingi kelompok rentan, serta merawat lingkungan tanpa menjadikan pujian dan keberhasilan sesaat sebagai satu-satunya ukuran.

P. Domi juga menggunakan gambaran tentang seorang penjaga yang pulang ketika jam tugasnya berakhir dan seorang anak yang tetap tinggal di rumah bapanya, bahkan ketika rumah itu bocor.

Gambaran tersebut menegaskan perbedaan antara bekerja sekadar karena kewajiban dan berjuang karena memiliki ikatan mendalam dengan nilai yang diperjuangkan.

Kembali Menjadi Anak, Bukan Sekadar Penjaga

Menutup refleksinya, P. Domi mengajak para pejuang kemanusiaan untuk kembali menempatkan diri sebagai anak-anak Allah yang hidup dalam hubungan dengan Bapa.

Firman Tuhan, katanya dalam pesan reflektif tersebut, perlu dipelihara bukan hanya dalam doa dan perenungan, tetapi juga di tengah realitas kehidupan: di lahan yang belum produktif, dalam pendampingan migran, dalam advokasi sosial, dan di tengah air mata mereka yang mengalami penderitaan.

Dengan demikian, perjuangan kemanusiaan tidak berhenti pada keberanian mengkritik ketidakadilan. Perjuangan itu juga menuntut kesetiaan, ketekunan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk terus hadir bersama mereka yang membutuhkan pertolongan.

Bagi P. Domi, kebahagiaan seorang pejuang bukan terutama terletak pada pengakuan publik, melainkan pada keyakinan bahwa ia sedang berusaha melakukan apa yang dikehendaki Bapa.

Pesan akhirnya sederhana, tetapi mendalam: jangan berhenti hanya karena hasil belum terlihat. Teruslah berjuang, berakar dalam Firman, dan memelihara kasih di tengah kenyataan hidup yang sulit.

Sebab, perjuangan kemanusiaan yang berakar pada iman tidak hanya berbicara tentang apa yang dikerjakan, tetapi juga tentang mengapa seseorang tetap setia mengerjakannya.

Soverdi Oebufu, Sabtu, 10 Oktober 2026

P. Domi K. Dheo, SVD
Koordinator JPIC SVD Timor

banner 325x300
error: Content is protected !!