KUPANG – Di tengah derasnya arus komunikasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), misi pewartaan Gereja menghadapi tantangan yang lebih mendasar daripada sekadar menguasai teknologi: menjaga kebenaran, merawat martabat manusia, dan membangun komunikasi yang menyentuh hati.
Pesan tersebut mengemuka dalam hari kedua Indo-Leste Subzone Media and Communication Workshop 2026, hasil kolaborasi Serikat Sabda Allah (SVD) dan Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira), yang berlangsung di Kupang, Selasa (22/9/2026).
Mengusung semangat Strengthening Digital Mission for Evangelization, lokakarya ini menempatkan media digital bukan semata-mata sebagai alat penyebaran informasi, melainkan sebagai ruang perjumpaan, dialog iman, dan pewartaan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam refleksi misa harian di Kapela Sakramen Mahakudus Kampus Unwira, peserta diajak menyadari bahwa keberhasilan komunikasi tidak boleh diukur hanya dari jangkauan, popularitas, atau keuntungan. Komunikasi digital yang berakar pada iman harus bertumpu pada hati, integritas, kebenaran, dan pengalaman manusiawi yang autentik.
Pesan utamanya jelas: teknologi dapat memperluas jangkauan pesan, tetapi kualitas komunikasi tetap ditentukan oleh kemampuan manusia untuk mendengarkan, memahami, dan menyentuh kehidupan sesamanya.
Wawancara Penginjilan Harus Menghormati Martabat Manusia
Materi utama yang dibawakan P. Anthony Swamy Kannu, SVD, Koordinator Komunikasi Zona ASPAC, membahas wawancara dan penulisan naskah untuk penginjilan.
Peserta diajak memahami bahwa wawancara penginjilan bukan sekadar aktivitas mengajukan pertanyaan dan menyampaikan jawaban. Proses tersebut merupakan dialog iman yang membutuhkan persiapan matang, tujuan yang jelas, kepekaan pastoral, serta penghormatan terhadap martabat narasumber.
Persiapan dimulai dengan mengenali narasumber, memahami peristiwa yang dibahas, menentukan audiens, dan merumuskan tujuan wawancara. Pewawancara juga perlu menggunakan pertanyaan terbuka, menghindari pertanyaan yang bias, serta memberikan kesempatan kepada narasumber untuk menyampaikan pemikirannya secara utuh.
Etika menjadi prinsip penting. Integritas, persetujuan narasumber, transparansi, dan penghormatan terhadap pengalaman pribadi harus dijaga, baik dalam wawancara langsung maupun melalui media digital.
Dalam konteks pewartaan iman, dialog dinilai lebih bermakna daripada komunikasi satu arah yang berisiko berubah menjadi khotbah. Wawancara penginjilan bukan bertujuan memaksakan perpindahan keyakinan, melainkan memberikan kesaksian, menginspirasi, dan mengundang orang untuk memperdalam relasinya dengan Tuhan.
Materi tersebut juga menekankan pentingnya menyesuaikan teknik komunikasi dengan karakter setiap media. Radio membutuhkan artikulasi dan pengaturan intonasi yang baik, televisi menuntut perhatian terhadap ekspresi serta bahasa tubuh, sedangkan media digital memerlukan format yang sesuai, kualitas audio-visual, teks pendamping, dan interaksi yang jelas.
Era AI Menuntut Tanggung Jawab Etis
Perkembangan media digital membuka peluang besar bagi pewartaan Injil. Namun, jangkauan yang luas juga membawa tanggung jawab etis yang tidak dapat diabaikan.
Risalah kegiatan tersebut menggarisbawahi pentingnya perlindungan martabat manusia dalam komunikasi pada era AI, sejalan dengan perhatian yang dikaitkan dengan Paus Leo XIV.
Tantangan ini menuntut para komunikator Gereja untuk tidak hanya terampil memproduksi konten, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan pesan yang disebarkan. Kebenaran harus berjalan bersama kasih, sementara bahasa komunikasi perlu dibuat sederhana, inklusif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Dengan pendekatan tersebut, media digital dapat menjadi ruang yang menghadirkan harapan, mempererat hubungan antarmanusia, serta membuka kesempatan bagi dialog yang lebih bermakna.
Foto dan Video Harus Menceritakan Kisah
Selain materi wawancara, P. Ronald D’Silva, SVD, membahas keterampilan fotografi dan videografi untuk menghasilkan karya visual yang berkualitas dan bermakna.
Peserta diperkenalkan pada sejumlah unsur teknis, mulai dari posisi tangan dan kaki, cara memegang peralatan, sudut pengambilan gambar, komposisi, fokus, hingga pengaturan sarana produksi foto dan video.
Prinsip Rule of Thirds, kesederhanaan komposisi, dan Leading Lines turut menjadi bagian dari materi.
Namun, pesan yang menonjol bukan hanya soal teknik. Foto dan video harus mampu menceritakan sesuatu. Gambar yang baik bukan sekadar menarik secara visual, melainkan sanggup menyampaikan makna, menghadirkan suasana, dan membantu audiens memahami kisah di balik sebuah peristiwa.
Dalam konteks misi Gereja, keterampilan visual menjadi bagian dari upaya menyampaikan pengalaman iman dan nilai kemanusiaan secara lebih komunikatif kepada masyarakat.
Kesaksian Hidup Menjadi Pesan Pewartaan
Hari kedua lokakarya juga menghadirkan poin-poin wawancara dengan P. Salvator Towary, SVD, Sr. Marieta Ose Melburan, SSpS, dan Frederikus Tjeunfin, Sekretaris Paguyuban Soverdia TTU.
P. Salvator Towary membagikan pengalaman panggilan hidupnya, termasuk perjalanan dari cita-cita menjadi guru hingga memilih jalan imamat. Ia menekankan pentingnya kedisiplinan, kejujuran, pelayanan kepada orang kecil, serta pengabdian kepada orang sakit.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil untuk berbuat baik. Hati yang bersih dan damai, menurut pesan yang dicatat dalam risalah, dapat menyalurkan energi positif kepada sesama.
Sementara itu, Sr. Marieta Ose Melburan menyoroti keberanian meninggalkan kenyamanan demi menjalankan misi Allah. Baginya, kehidupan di biara maupun di luar biara bergantung pada cara seseorang menjalani panggilan hidup, bekerja, berdoa, dan mewujudkan kasih.
Adapun Frederikus Tjeunfin menceritakan pengalamannya mengenal Paguyuban Soverdia melalui kehidupan keluarganya yang dekat dengan para misionaris SVD. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman pelayanan, doa, dan keteladanan dapat meninggalkan pengaruh dalam perjalanan hidup seseorang.
Ketiga kesaksian itu memperlihatkan bahwa pewartaan tidak berhenti pada kata-kata. Pengalaman hidup, pilihan untuk melayani, dan tindakan nyata dapat menjadi pesan yang menginspirasi orang lain.
Dari Produksi Konten Menuju Perjumpaan
Rangkaian materi pada hari kedua memperlihatkan satu benang merah: keberhasilan misi digital tidak cukup ditentukan oleh kecanggihan perangkat atau kemampuan menghasilkan konten yang menarik.
Persiapan yang baik, keterampilan teknis, etika komunikasi, dialog yang terbuka, serta kesaksian hidup harus berjalan bersama.
Media digital memiliki potensi besar untuk menjangkau masyarakat lintas wilayah dan generasi. Namun, teknologi itu perlu digunakan secara bertanggung jawab agar komunikasi tidak kehilangan dimensi manusiawi dan spiritualnya.
Pada akhirnya, misi digital Gereja bukan hanya tentang bagaimana berbicara kepada dunia, melainkan bagaimana berjalan bersama dunia—mendengarkan pengalaman manusia, menyampaikan kebenaran dengan kasih, dan menghadirkan pesan yang membawa harapan.
Catatan: Berita ini disusun berdasarkan Risalah Kegiatan Hari II, Indo-Leste Subzone Media and Communication Workshop 2026, Selasa, 22 September 2026.
Boni Atolan

















