banner 728x250

JPIC SVD Timor: Kemiskinan Bukan Takdir, Kuasa Allah Harus Melawan Korupsi dan Ketidakpedulian

banner 120x600
banner 468x60

OEBUFU, KUPANG – Kemiskinan, perdagangan manusia, korupsi, dan pembiaran terhadap potensi lahan produktif menjadi tantangan kemanusiaan yang tidak boleh diterima sebagai takdir. Perjuangan melawannya membutuhkan lebih dari sekadar program dan wacana: iman yang hidup, keberanian menyuarakan kebenaran, serta tindakan nyata bersama masyarakat.

Pesan keras ini disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, dalam refleksi “Renungan Jiwa – Untuk Meneguhkan Para Pejuang JPIC”, Jumat (9/10/2026), di Soverdi Oebufu. Berangkat dari bacaan Galatia 3:7-14 dan Injil Lukas 11:15-26, ia mengangkat tema “Dengan Kuasa Apa Kita Melawan?” sebagai pertanyaan mendasar bagi para pejuang Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) SVD Timor.

banner 325x300

Dalam refleksinya, P. Domi mengajak para pejuang kemanusiaan melihat persoalan kemiskinan di Timor bukan semata-mata melalui angka statistik, tetapi dengan mata iman yang mampu membaca persoalan struktural dan mendorong perubahan.

Ia menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari lahan produktif yang belum dimanfaatkan secara optimal, air yang melimpah pada musim hujan tetapi menjadi persoalan ketika kemarau, hingga kerentanan masyarakat terhadap perdagangan manusia melalui jalur migrasi nonprosedural.

“Ini bukan takdir. Ini bukan karena orang Timor malas,” demikian penegasan dalam refleksi tersebut.

P. Domi mengaitkan persoalan-persoalan itu dengan apa yang disebutnya sebagai lingkaran kuasa yang memiskinkan, termasuk korupsi, pembiaran, ketidakpedulian, dan ketakutan untuk bersuara menghadapi ketidakadilan.

Iman Harus Menjadi Kekuatan untuk Bertindak

Merujuk Injil Lukas 11:15-26, P. Domi menegaskan bahwa perjuangan melawan berbagai bentuk ketidakadilan harus berakar pada kuasa Allah, bukan semata-mata mengandalkan kekuatan manusia, jaringan, data, ataupun dana program.

Ia menggarisbawahi perkataan Yesus dalam Lukas 11:20: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.”

Bagi para pejuang JPIC, pesan tersebut menjadi panggilan untuk menghadirkan iman dalam tindakan konkret. Iman bukan sekadar perasaan atau pengakuan, melainkan keberanian untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih bermartabat, sekalipun perubahan belum sepenuhnya terlihat.

Refleksi itu juga menghubungkan pesan Injil dengan kisah Abraham dalam bacaan pertama. Abraham menjadi berkat bagi bangsa-bangsa karena imannya. Demikian pula, para pejuang kemanusiaan dipanggil menjadikan iman sebagai dasar keberanian untuk membela masyarakat yang rentan dan memperjuangkan kehidupan yang lebih sejahtera.

JPIC Ditantang Bersuara dan Bekerja Bersama Rakyat

P. Domi menggarisbawahi dua bentuk tindakan yang perlu diwujudkan para pejuang JPIC dalam menghadirkan Kerajaan Allah.

Pertama, keberanian menyampaikan suara profetik. JPIC tidak boleh memilih diam ketika berhadapan dengan korupsi, pembiaran terhadap lahan produktif, perdagangan manusia, dan berbagai bentuk ketidakadilan. Suara kenabian harus berpihak pada kebenaran, martabat manusia, serta keberlanjutan ciptaan.

Kedua, membangun tindakan pemberdayaan yang berkelanjutan. Menurut refleksi tersebut, program kemanusiaan tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat, pembagian bibit, atau kegiatan seremonial. Pemberdayaan harus disertai pendampingan dan keterlibatan masyarakat agar hasilnya tidak hilang setelah program berakhir.

Peringatan ini merujuk pada Injil Lukas 11:24-26 tentang rumah yang telah dibersihkan, tetapi dibiarkan kosong sehingga kembali dikuasai oleh roh jahat. Dalam konteks pemberdayaan, pesan tersebut menjadi ajakan agar setiap upaya mengatasi kemiskinan diikuti langkah nyata untuk membangun kemandirian masyarakat.

Lahan yang belum produktif, misalnya, perlu ditindaklanjuti dengan pengolahan, penanaman, penyiraman, dan kerja bersama warga. Dengan demikian, pemberdayaan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi menjadi proses yang menghasilkan perubahan dalam kehidupan keluarga.

Ukuran Keberhasilan Ada pada Perubahan Hidup

Dalam refleksi tersebut, P. Domi menekankan bahwa keberhasilan misi kemanusiaan tidak semestinya hanya diukur dari laporan program, melainkan dari perubahan nyata yang dialami masyarakat.

Ia menggambarkan perubahan itu melalui contoh konkret: keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan pangan dari hasil ternaknya sendiri, lahan tidur di kawasan Nenuk–Atambua yang mulai menghijau, serta anak-anak pekerja migran yang dapat terhindar dari bahaya perdagangan manusia.

Gambaran tersebut menegaskan orientasi perjuangan JPIC: membangun kemandirian, melindungi martabat manusia, dan merawat ciptaan melalui kerja yang nyata serta berkelanjutan.

Peneguhan bagi Pejuang yang Lelah

Menutup refleksinya, P. Domi menyampaikan peneguhan kepada para pejuang JPIC yang mungkin merasa lelah menghadapi besarnya persoalan kemanusiaan.

Ia mengingatkan bahwa Tuhan tidak menuntut seseorang menyelesaikan seluruh persoalan sekaligus. Yang diperlukan ialah iman yang tetap hidup dan kesediaan mengambil langkah nyata, dimulai dari lingkungan dan tanggung jawab masing-masing.

Ajakan untuk mengusir “setan ketidakpedulian” dari dalam diri sendiri menjadi inti peneguhan tersebut. Perubahan sosial, menurut pesan refleksi itu, juga menuntut pembaruan sikap pribadi: berani peduli, bersuara terhadap ketidakadilan, dan terlibat dalam perjuangan bersama masyarakat.

Bagi JPIC SVD Timor, pesan Jumat itu menjadi panggilan untuk menyatukan iman dan aksi. Perjuangan kemanusiaan tidak cukup berhenti pada doa, seminar, atau laporan kegiatan. Iman harus menjelma menjadi keberanian membela yang rentan, kerja nyata memberdayakan masyarakat, serta komitmen menghadirkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

“Jangan takut. Kita berperang dengan Kuasa Allah,” menjadi pesan penutup yang meneguhkan para pejuang untuk terus melangkah di tengah tantangan.

 

Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!