banner 728x250

SVD dan Unwira Tegaskan Misi Digital: Gereja Tak Cukup Sekadar Hadir di Media Sosial

banner 120x600
banner 468x60

KUPANG – Gereja tidak cukup hanya hadir di media sosial dan menyebarkan informasi. Di tengah banjir konten, polarisasi, dan maraknya kepalsuan di ruang digital, komunikasi misioner dituntut menghadirkan kebenaran, kasih, dialog, serta harapan yang menyentuh kehidupan manusia.

Pesan mendasar itu mengemuka dalam Indo-Leste Subzone Media and Communication Workshop 2026, hasil kolaborasi Serikat Sabda Allah (SVD) dan Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira), yang mengusung tema “Strengthening Digital Mission for Evangelization” di Kampus Unwira, Kupang, Senin (21/9/2026).

banner 325x300

Lokakarya tersebut menempatkan dunia digital sebagai ruang kehidupan baru sekaligus ladang misi yang membutuhkan lebih dari sekadar kecakapan teknis. Para komunikator Gereja ditantang untuk membangun perjumpaan, memperkuat persekutuan, dan menghadirkan nilai-nilai Injil melalui setiap pesan yang disampaikan.

Provinsial SVD Timor, P. Dismas Mauk, SVD, dalam sambutannya menegaskan bahwa komunikasi merupakan bagian integral dari identitas dan panggilan misioner. Pewartaan tidak berhenti pada kata-kata, gambar, cerita, dan teknologi, tetapi harus diwujudkan melalui kesaksian hidup.

Menurutnya, dunia digital bukan sekadar perangkat untuk menyampaikan pesan. Ruang tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, tempat orang berbagi kegembiraan sekaligus pergulatan dan luka. Karena itu, kehadiran Gereja harus membawa kebijaksanaan, belas kasih, dialog, dan harapan.

Pesan tersebut juga menyoroti perlunya mengubah cara mengukur keberhasilan komunikasi. Jumlah pengikut, tayangan, tanda suka, dan pembagian konten memang menunjukkan jangkauan, tetapi bukan ukuran utama keberhasilan misi.

Hal yang lebih mendasar ialah apakah komunikasi mampu menyentuh kehidupan, memulihkan harapan, mendengarkan suara yang terlupakan, dan menghadirkan belas kasih bagi sesama.

Menolak Orientasi Angka, Mengutamakan Martabat Manusia

Dalam materi bertajuk “Menenun Sabda”, P. Kasmir Nema, SVD, Ph.D., mengajak peserta melihat komunikasi digital sebagai bagian dari pembentukan murid-murid misioner, bukan sekadar ruang untuk mengasah keterampilan bermedia.

Refleksi yang mengacu pada Amanat Kapitel General SVD ke-19 dan Magnifica Humanitas menyoroti dua gambaran yang kontras: Babel dan Yerusalem.

Babel menggambarkan ambisi manusia yang terlepas dari Allah, keinginan membangun nama sendiri, serta kecenderungan menghapus keberagaman. Dalam konteks digital, situasi ini terlihat ketika perhatian lebih dihargai daripada kebenaran, jumlah tanda suka dan tayangan menjadi ukuran utama, serta algoritma dibiarkan menentukan nilai suara manusia.

Sebaliknya, Yerusalem menggambarkan komunitas yang dibangun melalui persekutuan, dialog mendalam, penghargaan terhadap keberagaman, dan kehadiran Allah yang menyatukan.

Perspektif tersebut menegaskan bahwa komunikator misioner tidak boleh terjebak dalam perlombaan mengejar popularitas. Manusia harus tetap menjadi pusat pelayanan, bukan sekadar angka dalam statistik media sosial.

Panggilan komunikator misioner juga memiliki dimensi profetis: komunikasi harus membuka ruang dialog, bukan sekadar menjadi monolog. Tanpa dialog, pesan kenabian berisiko berubah menjadi konfrontasi; tanpa keberanian menyampaikan kebenaran, dialog hanya menjadi formalitas.

Identitas SVD Harus Hadir dalam Dunia Digital

Sementara itu, P. Eduardus Dosi, SVD, melalui materi “Identitas SVD dan Landasan Evangelisasi Digital”, menekankan pentingnya mengintegrasikan identitas dan karakteristik misi SVD ke dalam ruang digital.

Karakter internasional SVD perlu berjalan seiring dengan keterakaran pada Gereja lokal. Dunia digital menjadi wilayah baru untuk menghadirkan kerasulan Kitab Suci, komunikasi, keadilan dan perdamaian, serta animasi misi.

Karena itu, kualitas konten harus menjadi perhatian. Pesan yang disampaikan perlu relevan, autentik, inklusif, dan berakar pada kesaksian nyata kehidupan manusia.

Dalam praktiknya, evangelisasi digital dapat dilakukan melalui cerita yang dekat dengan pengalaman sehari-hari, infografis, video pendek, dan podcast. Pesan yang mendalam perlu dikemas dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami tanpa kehilangan substansinya.

Etika komunikasi juga menjadi bagian penting. Komunikator Gereja diharapkan menjadi pembawa damai di tengah polarisasi dunia maya, menghindari penyebaran hoaks, menghormati hak cipta, serta menampilkan wajah Gereja yang ramah dan penuh kasih.

Visi komunikasi misioner tersebut mengarah pada perubahan mendasar: dari sekadar mengumpulkan audiens menjadi membangun komunitas, serta dari mengejar pengaruh menjadi memberikan kesaksian.

Menulis Berita sebagai Kesaksian Misioner

Aspek jurnalistik turut mendapat perhatian dalam lokakarya melalui materi P. Kasmir Nema, SVD, tentang penulisan berita dengan kerangka 5W dan 1H serta disiplin discernment atau pembedaan secara kritis.

Peserta diingatkan untuk menempatkan fakta paling penting pada bagian awal berita dengan pola piramida terbalik. Berita harus menggunakan bahasa yang jelas dan ringkas, mengutamakan akurasi, menjaga objektivitas dan keadilan, serta memperhatikan martabat manusia.

Penulisan berita juga perlu mempertimbangkan kebaruan, relevansi, dampak, kedekatan, dan sisi kemanusiaan. Kutipan langsung menjadi unsur penting untuk memperkuat bobot pemberitaan, sepanjang disampaikan secara akurat dan sesuai konteks.

Lebih dari sekadar produk jurnalistik, menulis dipahami sebagai bentuk kesaksian misioner. Artinya, komunikasi tidak boleh mengeksploitasi penderitaan manusia demi menarik perhatian, tetapi harus membantu publik memahami realitas dan menemukan makna kemanusiaan di dalamnya.

Sebelumnya, rangkaian kegiatan hari pertama diawali dengan Misa pembukaan di Kapela Sakramen Mahakudus Kampus Unwira, dipimpin Provinsial SVD Timor, P. Dismas Mauk, SVD, didampingi P. Kasmir Nema, SVD, Koordinator Komisi Komunikasi Generalat, dan P. Anthony Swamy Kannu, SVD, Koordinator Komunikasi Zona ASPAC.

Dalam refleksi bertajuk “Dipanggil untuk Mewartakan Harapan”, P. Dismas mengangkat tiga kata kunci lokakarya, yakni panggilan, komunikasi, dan perjumpaan, dengan inspirasi kisah panggilan Rasul Matius.

Setelah Misa, kegiatan berlanjut dengan penyambutan peserta oleh Ketua Pengurus Yapenkar, P. Dr. Ubaldus Djonda, SVD, bersama Rektor Unwira, P. Dr. Stefanus Lio, SVD, sebelum memasuki acara pembukaan dan sesi materi.

Melalui lokakarya ini, komunikasi digital ditempatkan bukan semata-mata sebagai persoalan teknologi dan keterampilan bermedia, melainkan sebagai tanggung jawab misioner. Tantangannya ialah memastikan setiap pesan tidak berhenti sebagai konten yang dilihat dan dibagikan, tetapi menjadi jalan menuju perjumpaan, persekutuan, dan harapan bagi manusia.

 

Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!