BETUN — Pembangunan fisik Gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Malaka belum bergerak seragam. Dari 127 lokasi yang masuk dalam monitoring pemerintah daerah, sebanyak 29 gerai tercatat telah mencapai progres 100 persen, sementara puluhan lokasi lainnya masih berada pada berbagai tahapan pembangunan, bahkan terdapat sejumlah desa yang progresnya masih 0 persen.
Data resmi Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Malaka per 7 Oktober 2026 itu menunjukkan kesenjangan progres pembangunan antardesa masih cukup lebar. Laporan tersebut mencatat perkembangan pembangunan sejak 19 Februari 2026 hingga 7 Oktober 2026.
Gerai yang telah mencapai 100 persen antara lain berada di Desa Babulu, Kapitan Meo, Tesa, Tniumanu, Uabau, Besikama, Motaain, Raimataus, Umalor, Umatoos, Bakiruk, Barada, Bereliku, Fahiluka, Harekakae, Dirma, Kusa, Numponi, Raiulun, Wemeda, Naet, Niti, Angkaes, Haitimuk, Kleseleon, Lamudur, Umalawain dan Wederok serta Wesey. Data laporan mencantumkan status “Selesai Pembangunan” pada lokasi-lokasi tersebut.
Namun, capaian 100 persen tersebut belum menggambarkan keseluruhan kondisi pembangunan KDMP di Malaka.
Pada kelompok berikutnya, progres pembangunan masih sangat beragam. KDMP Fatuaruin tercatat 92,44 persen, Rabasahain 91,60 persen, Weoe 88,79 persen, Rainawe 88,51 persen, Raisamane 87,97 persen, hingga KDMP Suai 87,86 persen.
Di sisi lain, sejumlah gerai masih berada pada progres di bawah 50 persen. KDMP Kletek misalnya baru mencapai 49,44 persen, Oenaek 47,84 persen, Kamanasa 44,69 persen, Lakekun 41,41 persen, Sisi 39,10 persen, Beaneno 37,98 persen, Lawalu 37,64 persen dan sejumlah lokasi lainnya masih berada di kisaran tersebut.
Kondisi lebih berat terlihat pada sejumlah lokasi yang progresnya masih sangat rendah. KDMP Wekmidar tercatat 13,15 persen, Tafuli I 12,68 persen, Muke 12,55 persen, Babotin Maemina 11,83 persen, Babotin 10,84 persen, Boen 9,81 persen, Nanin 7,39 persen dan Nabutaek baru 2,78 persen. Bahkan KDMP Babotin Selatan tercatat 0 persen, sementara KDMP Tafuli baru 1,35 persen.
Yang paling mencolok, laporan pemerintah daerah juga mencatat sejumlah lokasi masih berada pada angka 0 persen, yakni KDMP Oanmane, Fatoin, Lasaen, Maktihan, Naas, Sikun, Wehali dan Lotas.
Untuk beberapa lokasi, persoalan pembangunan berkaitan dengan kesiapan lahan.
Di Desa Lasaen, pemerintah desa disebut tidak memiliki aset tanah selain lahan Kantor Desa sehingga berencana memanfaatkan lahan kantor desa untuk pembangunan gerai KDMP. Sementara Desa Maktihan masih melakukan pendekatan dengan kepala suku dan masyarakat untuk memperoleh kesepakatan penggunaan lahan atau mencari alternatif lahan.
Di Desa Naas, pemerintah desa telah dua kali mengupayakan pembelian lahan, tetapi belum terealisasi karena pemilik lahan membatalkan rencana penjualan. Sedangkan Desa Sikun disebut telah memiliki lahan yang dibuktikan dengan surat pernyataan penyerahan tanah.
Desa Wehali sementara menggunakan lahan KUD lama di Dusun Pasar Baru sambil menunggu kejelasan rencana pembangunan tahap II. Desa Lotas juga telah memiliki lahan, namun masih menunggu proses penyerahan lahan yang dituangkan dalam Berita Acara Penyerahan Lahan.
Laporan progres tersebut ditandatangani Plh. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Malaka, Herman Klau, S.Pi., M.Si., di Betun pada 7 Oktober 2026.
Data ini sekaligus memperlihatkan bahwa tantangan pembangunan KDMP di Malaka bukan hanya menyelesaikan pekerjaan fisik, tetapi juga memastikan seluruh lokasi memiliki kesiapan lahan dan mampu bergerak menuju target penyelesaian.
Publik kini memiliki dasar untuk melihat secara terbuka: mana gerai yang sudah tuntas, mana yang masih berproses, dan mana yang belum bergerak…
Boni Atolan.

















