SURABAYA — Sekolah tidak boleh hanya mencetak siswa yang kuat di ruang kelas. Talenta olahraga, seni, organisasi, dan berbagai potensi lain harus diberi ruang untuk tumbuh tanpa mengorbankan pendidikan akademik.
Prinsip itulah yang menarik perhatian para kepala sekolah dan pelatih asal Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), saat melakukan studi tiru pelaksanaan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler di sejumlah sekolah di Kota Surabaya, Rabu (7/10/2026).
Rombongan yang terdiri dari Kepala SMAN Harekakae Robertus Bria Tahuk, S.Pd., Kepala SMAN Bolan Donatus Bria Seran, S.Pd.Gr., Kepala SMKN Kletek Eusibius, serta Pelatih SSB Aintasi Sakarias, mengunjungi SMAN 2 Surabaya, SMAN 1 Surabaya, SMAN 5 Surabaya, dan SMAN 9 Surabaya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 2 Surabaya. Tercatat 32 kegiatan ekstrakurikuler dikelola dan terdokumentasi dengan baik.
Menariknya, kegiatan tersebut dapat diikuti siswa tanpa mengganggu pelaksanaan kegiatan intrakurikuler.
Sistem tersebut membuka ruang lebih luas bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai minat dan bakatnya.
Bahkan, siswa diberikan kesempatan bergabung dengan cabang olahraga yang dikelola organisasi atau pihak ketiga. Ketika terdapat agenda kompetisi maupun training camp (TC), siswa dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan izin sekolah.
Pola kerja sama dengan pihak ketiga ini menunjukkan bahwa pengembangan prestasi siswa tidak harus seluruhnya dibebankan kepada sekolah.
Talenta siswa juga didata secara baik. Prestasi yang dimiliki siswa menjadi bagian penting dari rekam jejak mereka, termasuk ketika kelak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Bagi para pendidik dari Malaka, pola tersebut menjadi pembelajaran penting. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga ruang untuk menemukan, mendata, membina, dan mengembangkan potensi setiap anak.
Studi tiru tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung praktik pendidikan yang dapat menjadi referensi untuk pengembangan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah Kabupaten Malaka.
Dengan demikian, prestasi siswa tidak berhenti di lapangan atau panggung, tetapi menjadi bagian dari perjalanan pendidikan mereka menuju masa depan.
Boni Atolan

















