Renungan Pesta Ratu Rosario: JPIC Dipanggil Berani Menegur Kemunafikan dan Membela Kaum Kecil
OEBUFU, – Rosario bukan sekadar rangkaian doa yang diucapkan berulang-ulang, melainkan sumber kekuatan rohani yang membentuk keberanian untuk melawan ketidakadilan, membongkar kemunafikan, dan membela mereka yang terpinggirkan. Doa yang sejati tidak membuat seseorang menjauh dari pergulatan hidup, tetapi justru menguatkannya untuk menghadirkan kasih dan keadilan Allah di tengah dunia.
Pesan reflektif ini disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, dalam renungan jiwa memperingati Pesta Santa Perawan Maria, Ratu Rosario, Rabu, 7 Oktober 2026.
Mengangkat tema “Rosario – Obat untuk Segala Kejahatan, Akar dari Segala Berkat”, P. Domi mengajak para pejuang Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) untuk menyatukan kehidupan doa dengan keberanian profetik dalam memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.
Menurutnya, dua bacaan liturgi hari ini menghadirkan pesan yang saling melengkapi: keberanian Paulus menegur kemunafikan dan ketekunan para murid untuk belajar berdoa kepada Yesus.
“Dua bacaan hari ini seperti dua sayap Rosario. Satu sayap adalah keberanian profetik, satu sayap lagi adalah keheningan doa. Dan yang menyatukan kedua sayap itu adalah Maria,” tulis P. Domi dalam renungannya dari Soverdi Oebufu.
Paulus Mengajarkan Keberanian Melawan Kemunafikan
Merujuk Galatia 2:1-2, 7-14, P. Domi menyoroti keberanian Rasul Paulus menegur Kefas atau Petrus karena sikapnya yang dinilai tidak sejalan dengan kebenaran Injil.
Petrus, yang sebelumnya makan bersama orang-orang bukan Yahudi, kemudian menarik diri ketika kelompok orang bersunat datang. Sikap tersebut memperlihatkan bagaimana ketakutan terhadap penilaian orang lain dapat membuat seseorang mengingkari prinsip yang diyakininya.
Bagi P. Domi, peristiwa itu bukan sekadar konflik di antara para rasul, melainkan persoalan mendasar mengenai universalitas keselamatan Allah.
Injil tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat identitas, sebab kasih dan keselamatan Allah ditujukan kepada semua orang.
“ Inilah jiwa JPIC! Paulus menyadari bahwa keselamatan Allah itu universal. Karena itu, ia mengarahkan perhatiannya kepada bangsa-bangsa lain, kepada mereka yang dianggap tidak layak, tidak murni, tidak bersunat,” tulisnya.
Pesan Paulus tersebut, menurut P. Domi, tetap relevan bagi para pejuang JPIC di Timor, terutama ketika berhadapan dengan berbagai bentuk ketidakadilan dan kemunafikan sosial.
Ia mengajukan pertanyaan reflektif tentang keberanian menegur mereka yang berbicara tentang keberpihakan kepada rakyat kecil, tetapi justru menjauh ketika kepentingan kelompok bermodal berhadapan dengan hak-hak masyarakat.
Ia juga menyoroti ironi ketika ekologi integral menjadi bahan pembicaraan, sementara persoalan lahan tidur dan tanggung jawab terhadap lingkungan belum mendapat perhatian yang semestinya.
“Keberanian profetik tanpa akar doa hanya akan menjadi marah-marah. Dan doa tanpa keberanian profetik hanya akan menjadi kesalehan palsu,” tegasnya.
Karena itu, Rosario disebut sebagai sekolah keberanian: membentuk pribadi yang tidak hanya tekun berdoa, tetapi juga berani memperjuangkan kebenaran.
Doa Harus Mengubah Cara Pandang
Dalam refleksinya atas Injil Lukas 11:1-4, P. Domi mengangkat permohonan para murid kepada Yesus, “Tuhan, ajarlah kami berdoa.”
Yesus menjawab permohonan itu dengan mengajarkan doa Bapa Kami. Bagi P. Domi, doa bukan sekadar rangkaian kata atau permohonan agar Tuhan mengikuti keinginan manusia. Doa sejati mengubah hati, cara pandang, dan tindakan seseorang.
Rosario, dalam perspektif ini, menjadi sarana pembentukan batin agar manusia semakin mampu melihat dunia melalui mata Allah dan mencintai sesama dengan hati-Nya.
“Rosario mengubah KITA, bukan Tuhan,” tulisnya.
P. Domi mengingatkan bahwa para pejuang JPIC harus mampu melihat setiap manusia sebagai saudara, tanpa membedakan latar belakang, identitas, maupun status sosial.
Doa yang tidak berbuah dalam kepedulian terhadap sesama berisiko berhenti pada kesalehan pribadi.
Sebaliknya, doa yang berakar kuat akan melahirkan keberanian untuk membela mereka yang rentan, termasuk para migran yang menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan.
“JPIC yang tidak berdoa akan melihat migran sebagai angka statistik. JPIC yang berdoa akan melihat mereka sebagai anak-anak Bapa yang sama,” ungkapnya.
Rosario sebagai Akar Perjuangan JPIC
Mengutip pesan yang dinisbatkan kepada Santo Yohanes Paulus II, P. Domi menggambarkan Rosario sebagai obat bagi kejahatan manusia sekaligus akar bagi segala berkat.
Rosario menjadi obat karena mengingatkan manusia akan persaudaraan universal di tengah kecenderungan membangun sekat, mempertahankan kepentingan kelompok, dan menutup mata terhadap penderitaan sesama.
Sementara itu, Rosario menjadi akar karena kehidupan rohani yang kuat merupakan fondasi bagi keberanian, ketulusan, dan ketahanan dalam menjalankan misi pelayanan.
Menurut P. Domi, perjuangan JPIC tidak boleh kehilangan akar spiritual di tengah godaan proyek, popularitas, maupun kepentingan sesaat.
“Akar itu tidak terlihat, tetapi dari sanalah semua berkat—keberanian, ketulusan, daya tahan—bertumbuh,” tulisnya.
Ia juga mengibaratkan Rosario sebagai tali penghubung antara surga dan dunia, yang menguatkan manusia untuk tetap setia dalam pergulatan hidup.
Menggenggam Rosario, Meneguhkan Perjuangan
Menutup renungannya, P. Domi mengajak para pejuang JPIC untuk kembali menghidupkan devosi kepada Bunda Maria melalui doa Rosario, sekaligus menjadikannya sumber kekuatan dalam menjalankan misi kemanusiaan.
Ia mengajak umat untuk kembali mengunjungi Gua Maria dan menghidupkan ruang-ruang doa yang mungkin telah lama ditinggalkan.
“ Saat kita menggenggam bulir-bulir Rosario, saat yang sama Bunda Maria menggenggam jari-jari kita. Engkau tidak pernah berdoa sendirian,” tulisnya.
Bagi P. Domi, menggenggam Rosario berarti meneguhkan kembali komitmen untuk berani menyuarakan kebenaran, melawan ketidakadilan, dan merawat kehidupan.
Ia mengingatkan bahwa perjuangan membela martabat manusia membutuhkan dua kekuatan yang tidak dapat dipisahkan: keberanian untuk bertindak dan kerendahan hati untuk terus berdoa.
“Jangan takut, anakku. Berjuanglah terus,” demikian pesan kontemplatif yang diangkatnya dalam penutup renungan.
P. Domi menutup refleksinya dengan doa kepada Santa Maria, Ratu Rosario dan Ratu Para Rasul yang Berani, agar senantiasa mendoakan dan menguatkan para pejuang JPIC dalam menjalankan panggilan pelayanan.
Soverdi Oebufu, Rabu, 7 Oktober 2026
P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor

















