OEBUFU — Injil hari ini tidak berhenti sebagai teori tentang kasih. Injil justru menjadi cermin bagi setiap pejuang keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan (JPIC): ketika berhadapan dengan manusia yang terluka dan membutuhkan pertolongan, apakah kita berhenti untuk menjadi sesama, atau memilih berjalan melewati mereka?
Pertanyaan ahli Taurat kepada Yesus, “Siapakah sesamaku manusia?”, sesungguhnya membuka persoalan yang lebih dalam. Di balik pertanyaan itu terdapat kecenderungan untuk membuat batas: siapa yang wajib dikasihi dan siapa yang boleh diabaikan.
Yesus tidak memberikan definisi panjang. Ia menjawab dengan kisah orang Samaria yang baik hati sekaligus membalikkan pertanyaan tersebut.
Bukan lagi, “Siapa yang pantas menjadi sesamaku?”
Melainkan, “Bagi siapakah aku dipanggil untuk menjadi sesama?”
Berhenti Bertanya Siapa Sesamaku
Bagi pejuang JPIC, perubahan pertanyaan itu merupakan sebuah pertobatan.
Sesama bukan hanya orang Katolik. Bukan hanya orang Belu. Bukan hanya anggota kelompok tani, satu suku, satu komunitas, satu kelompok kepentingan atau satu lingkungan dengan kita.
Sesama adalah siapa pun yang terluka dan Tuhan tempatkan di jalan hidup kita.
Mereka bisa berupa perempuan migran yang ditipu agen ilegal, anak yang tidak mendapatkan susu yang layak, petani yang lahannya tidak produktif karena keterbatasan alat, korban perdagangan orang yang terlantar, bahkan orang yang kita anggap sebagai musuh ketika pada saat tertentu ia membutuhkan pertolongan.
Di situlah kasih diuji.
St. Fransiskus yang dipestakan sehari sebelumnya telah memberikan teladan konkret. Ia tidak terlebih dahulu bertanya apakah orang kusta pantas dipeluk. Ia melihat manusia yang menderita, lalu bergerak dengan belas kasih.
Dari jiwa yang berbelas kasih lahir keberanian untuk mendekat, menyentuh dan memeluk mereka yang sakit serta menderita.
Karena itu, pejuang JPIC tidak boleh hidup dengan daftar tentang siapa yang pantas ditolong dan siapa yang tidak.
Pertanyaan yang seharusnya dibawa setiap pagi adalah:
“Hari ini, bagi siapakah saya dapat menjadi sesama?”
Kasih Sejati Selalu Memiliki Harga
Inilah yang membedakan pejuang dengan penonton.
Imam dan Lewi dalam kisah Injil juga melihat orang yang terluka. Mereka mungkin saja memiliki rasa iba. Namun, mereka memilih melewati dari seberang jalan.
Orang Samaria mengambil jalan berbeda.
Ia tidak berhenti pada rasa kasihan. Ia bertindak.
Ia membalut luka. Ia menyentuh darah.
Ia menuangkan minyak dan anggur. Ia memberikan apa yang dimilikinya untuk merawat luka.
Ia menaikkan orang yang terluka ke atas keledainya sendiri. Ia rela mengorbankan kenyamanannya.
Ia membawanya ke penginapan. Ia mengubah rutenya demi keselamatan orang lain.
Ia mengeluarkan uang dari kantongnya.
Bahkan ia masih memberikan komitmen agar orang tersebut dirawat.
Pesannya jelas: kasih selalu mempunyai harga.
Kadang harganya adalah waktu. Kadang tenaga. Kadang uang. Kadang kenyamanan. Bahkan terkadang nama baik dan kepentingan pribadi harus dipertaruhkan.
Jika kasih hanya diberikan ketika tidak membutuhkan pengorbanan, maka kasih itu masih sangat terbatas.
JPIC dan Kasih yang Menyentuh Tanah
Dalam konteks perjuangan JPIC SVD Timor, kasih yang nyata juga harus hadir dalam kehidupan masyarakat dan keutuhan ciptaan.
Launching lahan seluas 171 hektare menjadi salah satu gambaran bahwa kepedulian tidak cukup hanya diucapkan.
Ada proses panjang di belakangnya: terik matahari, negosiasi, survei bersama Politani, tracking drone, pengambilan sampel tanah, hingga kerja sama dengan desa.
Semua itu menunjukkan bahwa kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan membutuhkan keberanian untuk turun langsung.
Lahan yang tidur tidak cukup hanya dikasihani.
Ia harus disentuh, diolah dan dipulihkan agar kembali menghasilkan.
Di sinilah semangat orang Samaria menemukan relevansinya: melihat luka, mendekat, menyentuh dan melakukan sesuatu.
Jangan Tinggalkan Injil yang Asli
Bacaan pertama dari Surat Paulus kepada jemaat di Galatia juga memberikan peringatan keras.
Paulus merasa heran karena jemaat begitu cepat berbalik dari Injil Kristus kepada “injil lain”.
Bagi pejuang JPIC hari ini, godaan terhadap “injil lain” dapat muncul dalam berbagai bentuk.
“Yang penting diri sendiri.”
“Balas saja kalau disakiti.”
“Jangan peduli orang lain, urus saja komunitas sendiri.”
“Yang penting saya untung.”
“Yang penting saya menang.”
Semua sikap itu bertentangan dengan semangat Injil Kristus.
Kristus mengajarkan pengampunan ketika dunia mengajarkan balas dendam.
Kristus mengajarkan pelayanan ketika dunia mendorong egoisme.
Kristus mengajarkan kepedulian ketika dunia membiarkan penderitaan berlangsung di depan mata.
Karena itu, sabda Yesus kepada ahli Taurat menjadi penegasan sekaligus perintah:
“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Iman Harus Menjadi Tindakan
Pejuang JPIC tidak dipanggil hanya untuk mengetahui siapa yang pantas disebut sesama.
Kita dipanggil menjadi sesama.
Iman bukan hanya sesuatu yang kita ketahui, tetapi sesuatu yang harus kita hidupi melalui tindakan nyata.
Kasih dimulai ketika kita bersedia melihat penderitaan, berhenti sejenak, mendekat, lalu berani membayar harga untuk menolong.
Hari ini, di jalan dari Nenuk ke Oebufu, dari Atambua ke Motaain, ada manusia yang mungkin sedang tergeletak dalam berbagai bentuk penderitaan.
Pertanyaannya sederhana:
Apakah kita akan lewat dari seberang jalan?
Ataukah kita akan berhenti dan menjadi sesama?
Karena pada akhirnya, Injil bukan sekadar meminta kita untuk berbicara tentang kasih.
Injil meminta kita melakukan kasih.
Pergilah, dan perbuatlah demikian!
Tuhan memberkati.
Soverdi Oebufu, Senin, 5 Oktober 2026
P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor

















