banner 728x250

MISA DI KAPELA PAPIN KEFAMENANU: “JAGALAH BERKAT TUHAN DENGAN SADAR DIRI, JANGAN  LUPA DIRI”

banner 120x600
banner 468x60

Kefamenanu, Radar Perbatasan — Suasana penuh khidmat dan refleksi iman mewarnai perayaan Misa Hari Minggu Biasa XXVII di Kapela St. Mikhael Papin, Minggu, 4 Oktober 2026.

banner 325x300

Perayaan Ekaristi bersama umat KUB St. Yohanes Rasul Papin tersebut dipimpin oleh Romo Jeky Bau, Pr., dengan pesan utama agar umat tidak hanya menerima berkat Tuhan, tetapi mampu menjaga, mengelola, dan menghasilkan buah yang manis bagi sesama.


Perayaan Misa yang dihadiri umat dengan penuh sukacita tersebut juga bertepatan dengan Pesta Santo Fransiskus dari Assisi, sosok kudus yang dikenal karenaMISA kesederhanaan hidup, kecintaan terhadap ciptaan, dan kedekatannya dengan Tuhan.

KUB St. Yohanes Rasul Papin sendiri diketuai oleh Ibu Inggrid Helo. Suasana liturgi semakin hidup melalui pelayanan para dirigen, yakni Oktaviona Maonnain, Roswita G. Bani, dan Maria Andita Stefania Nino, dengan organis V.Sintu Lopes yang mengiringi umat dalam pujian dan nyanyian liturgis.

Kebun Anggur Tuhan dan Tanggung Jawab Manusia

Tema liturgi hari itu mengajak umat merenungkan kehidupan sebagai kebun anggur Tuhan. Melalui bacaan pertama dari Yesaya 5:1–7, umat diajak melihat bagaimana Tuhan telah menanam dan merawat kebun anggur-Nya dengan penuh kasih. Namun, Tuhan mengharapkan kebun tersebut menghasilkan buah yang baik.

Pesan tersebut semakin kuat dalam Injil Matius 21:33–43 tentang perumpamaan penggarap-penggarap kebun anggur yang jahat.

Dalam kotbahnya, Romo Jeky Bau mengajak umat untuk menyadari bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia sesungguhnya merupakan berkat dan titipan Tuhan.

“Jagalah berkatmu dengan sadar diri. Jangan lupa diri. Kita yang hadir di sini, Tuhan telah memberikan kita berkat. Ada yang besar, ada yang kecil,” ungkap Romo Jeky.

Menurutnya, persoalan utama bukanlah seberapa besar atau kecil berkat yang diterima seseorang, melainkan sejauh mana manusia mampu menjaga dan mengelola berkat tersebut.

“Tuhan mengharapkan agar berkat yang diberikan kepada kita menghasilkan buah yang manis,” tegasnya.

Romo Jeky kemudian mengajak umat melakukan refleksi pribadi: Sejauh mana kita menjaga berkat Tuhan? Apakah kita hanya menginginkan berkat-Nya, tetapi lupa mencintai Tuhan yang memberikan berkat itu?
Jangan Diperbudak Kekurangan

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali terjebak dalam kekhawatiran dan ketidakpuasan. Ketika perhatian terlalu banyak diarahkan kepada apa yang belum dimiliki, kesadaran untuk mensyukuri apa yang sudah diberikan Tuhan justru dapat semakin berkurang.

Romo Jeky menggambarkan kondisi tersebut dengan sebuah perbandingan sederhana namun mengena.

Ia mengajak umat melihat kisah Adam dan Hawa. Pada awal kehidupan mereka, manusia bahkan tidak memiliki pakaian seperti manusia zaman sekarang, tetapi hidup dalam rasa aman dan percaya kepada Tuhan.

“Sekarang pakaian penuh di lemari, tetapi rasa percaya diri bisa nol persen. Tidak puas dengan berkat Tuhan, masih terus poles sana, poles sini,” ujarnya.

Pesan tersebut bukan sekadar berbicara tentang pakaian atau penampilan, tetapi menjadi gambaran tentang ketidakpuasan manusia terhadap berkat yang telah diterimanya.

Manusia terkadang memiliki banyak hal, tetapi tetap merasa kurang. Memiliki rumah, keluarga, pekerjaan, kesehatan, sahabat dan berbagai kesempatan, namun hati masih terus mengejar sesuatu yang belum dimiliki.

Kita Bukan Pemilik, Kita Hanya Pengelola
Romo Jeky mengingatkan umat bahwa manusia bukanlah pemilik mutlak atas segala sesuatu yang ada dalam hidupnya.

“Kita bukan pemilik anggur. Kita hanya pengelola. Maka, jagalah berkat Tuhan baik-baik. Sadar diri, jangan lupa diri.”

Kalimat tersebut menjadi salah satu pesan kuat dalam perayaan Ekaristi tersebut.
Menurutnya, setiap berkat yang diterima manusia harus dipertanggungjawabkan. Harta, keluarga, pekerjaan, jabatan, kepandaian, kesehatan bahkan kesempatan hidup merupakan bagian dari “kebun anggur” yang dipercayakan Tuhan kepada manusia.

Karena itu, berkat tidak boleh hanya dinikmati untuk diri sendiri. Berkat harus dirawat, dikembangkan dan menghasilkan buah bagi kehidupan bersama.

Bawa Semua Kekhawatiran dalam Doa
Lebih jauh, Romo Jeky mengajak umat agar tidak diperbudak oleh kekurangan dan kekhawatiran.

“Biarlah segala berkat dibawa dalam doa dengan penuh syukur. Jangan diperbudak oleh kekurangan. Sadar diri dan berdoa,” pesannya.

Pesan tersebut sejalan dengan Bacaan II dari Filipi 4:6–9 yang mengajak umat untuk tidak dikuasai kekhawatiran, tetapi membawa segala sesuatu kepada Tuhan dalam doa, permohonan dan ucapan syukur.

Dengan demikian, kehidupan beriman bukan hanya tentang meminta berkat, tetapi juga tentang belajar mengenali, menjaga,mensyukuri dan membagikan berkat Tuhan.

Menghasilkan Buah yang Manis

Perayaan Misa di Kapela Papin akhirnya menjadi ruang refleksi bagi umat: Apa yang sudah kita lakukan dengan kebun anggur kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada kita?

Apakah kehidupan kita sudah menghasilkan buah yang manis bagi keluarga, Gereja dan masyarakat?

Ataukah kita justru sibuk menikmati buahnya sendiri tanpa menyadari bahwa kebun itu bukan milik kita?

Pesan Injil hari itu mengingatkan bahwa Tuhan telah mempercayakan sesuatu kepada setiap manusia. Tugas manusia bukan menguasai berkat itu seolah-olah menjadi milik mutlak, melainkan mengelolanya dengan kesadaran, tanggung jawab, kasih dan rasa syukur.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan hidup bukan semata-mata berapa banyak berkat yang kita kumpulkan, tetapi berapa banyak buah kebaikan yang kita hasilkan dari berkat tersebut.

Dan dari Kapela Papin, pesan sederhana itu kembali menggema:

“Jagalah berkatmu dengan selalu mengucap syukur kepada Tuhan dan berdoa kepada-Nya. Sebab kita hanyalah pengelola kebun anggur Tuhan.”

V.Sintu Lopez

banner 325x300
error: Content is protected !!