banner 728x250

Renungan JPIC: Tuhan Tidak Salah Memilih Penggarap, Manusianya yang Lupa Diri

banner 120x600
banner 468x60

ATAMBUA — Tuhan tidak pernah salah memilih manusia untuk menggarap kebun-Nya. Yang sering terjadi justru sebaliknya: manusia yang diberi kepercayaan lupa bahwa dirinya hanya penggarap, lalu bertindak seolah-olah menjadi pemilik.

Pesan tajam itu menjadi inti Renungan Jiwa Minggu Biasa XXVII sekaligus Pesta St. Fransiskus Assisi, yang disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, dari Biara St. Yoseph Nenuk, Atambua, Minggu, 4 Oktober 2026.

banner 325x300

Mengambil inspirasi dari bacaan Yesaya 5:1-7, Filipi 4:6-9 dan Matius 21:33-43, P. Domi mengajak para petarung JPIC membaca kembali perumpamaan tentang kebun anggur dengan hati yang kritis sekaligus reflektif.

Dalam Injil, seorang tuan tanah membangun kebun anggur dengan sungguh-sungguh. Ia memasang pagar perlindungan, menggali tempat pemerasan anggur dan mendirikan menara jaga. Setelah semuanya tersedia, kebun itu dipercayakan kepada para penggarap.

Namun kepercayaan tersebut justru dikhianati.

Para hamba yang datang untuk mengambil hasil kebun dipukul, dibunuh dan dirajam. Bahkan anak pemilik kebun pun dibunuh karena para penggarap ingin menguasai warisan.

Dalam perspektif manajemen modern, kisah itu seakan menggambarkan sebuah kegagalan dalam membangun jaringan dan kerja tim.

Namun, menurut P. Domi, justru di situlah letak pesan Injil.

Tuhan tidak gagal memilih penggarap. Manusialah yang gagal menjaga kepercayaan.

Kebun Tuhan Bukan Milik Kita

P. Domi menempatkan kesadaran sebagai “penggarap” sebagai kunci pertobatan bagi setiap petarung JPIC.

Kebun anggur Tuhan, katanya, dapat ditemukan dalam berbagai bentuk kehidupan: Biara Nenuk, lahan 171 hektare di Atambua yang baru diluncurkan untuk dibuka kembali, komunitas, keluarga, jabatan, hingga Timor dan NTT dengan seluruh persoalannya.

Semua itu bukan milik manusia secara mutlak.

Manusia hanya dipercaya untuk mengelola dan menghasilkan buah.

Karena itu, bahaya terbesar seorang penggarap bukan semata-mata kekurangan kemampuan, tetapi lupa diri—ketika orang yang dipercayakan mengelola sesuatu mulai merasa dirinya sebagai pemilik.

P. Domi mengingatkan, fenomena tersebut dapat muncul di berbagai ruang kehidupan.

Pejabat dapat lupa bahwa tanah dan kekuasaan merupakan amanah rakyat. Imam dapat lupa bahwa biara adalah bagian dari misi. Pengusaha dapat lupa bahwa kekayaan merupakan titipan. Bahkan aktivis dapat kehilangan arah ketika perjuangan untuk kepentingan bersama berubah menjadi panggung untuk popularitas pribadi.

Dalam konteks tersebut, St. Fransiskus Assisi menjadi teladan yang berlawanan dengan sikap penggarap yang lupa diri.

Fransiskus justru melepaskan berbagai kemewahan dan memilih hidup dalam kesederhanaan karena menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan.

JPIC Tidak Boleh Hanya Menjadi Penonton

Renungan tersebut kemudian diarahkan pada tugas konkret JPIC dalam menghadapi persoalan sosial, ekonomi dan ekologis di Timor.

P. Domi menggunakan gambaran kebun anggur dalam Kitab Yesaya untuk menggambarkan kenyataan ketika tanah yang seharusnya menghasilkan buah justru menghasilkan “buah anggur asam”.

Menurutnya, persoalan tersebut dapat dilihat dalam realitas Timor dan NTT: kemiskinan, lahan tidur, perdagangan orang, persoalan ekologis serta berbagai bentuk ketidakadilan.

Karena itu, JPIC tidak boleh berhenti pada aktivitas spiritual yang hanya berlangsung di ruang kapel.

JPIC harus hadir di tengah kebun yang tandus dan ikut membuatnya kembali subur.

Membuka lahan tidur, menurut P. Domi, bukan sekadar aktivitas pertanian. Itu menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali potensi yang dipercayakan Tuhan kepada manusia.

Mendampingi korban perdagangan orang berarti membersihkan “kebun Tuhan” dari ilalang yang merusak martabat manusia.

Sementara perjuangan untuk keadilan ekologis merupakan bagian dari usaha membangun kembali perlindungan terhadap ciptaan yang dirusak oleh keserakahan.

Tuhan Tidak Pernah Keliru Memilihmu

Di bagian akhir renungannya, P. Domi memberikan peneguhan khusus kepada para pejuang JPIC yang mungkin merasa lelah, tidak dihargai atau bahkan menghadapi tekanan karena perjuangan mereka.

Mereka yang membela tanah adat bisa dimusuhi. Mereka yang mendampingi migran dapat dicurigai. Mereka yang memperjuangkan ekologi integral bisa dianggap terlalu idealis.

Namun, pesan P. Domi sederhana sekaligus kuat:

Jangan berhenti.

Tuhan, katanya, tidak pernah keliru memilih seseorang untuk menjadi penggarap kebun-Nya.

Manusia memang tidak sempurna. Ada ketakutan, kelemahan dan keterbatasan. Tetapi kepercayaan Tuhan tetap diberikan dan tugas perutusan tetap dijalankan.

Karena itu, seorang petarung JPIC dipanggil untuk tetap setia, jujur, berkorban, bertanggung jawab, pantang menyerah, tulus dan tahu diri.

Sebab pada akhirnya, setiap penggarap akan diminta mempertanggungjawabkan kebun yang dipercayakan kepadanya.

Bukan soal berapa luas kebun yang dimiliki, melainkan buah apa yang dihasilkan dari kepercayaan tersebut.

“Berdirilah, Petarung JPIC SVD Timor! Kebun anggur memanggilmu!”

Pesan itu menjadi penutup renungan P. Domi dari Biara St. Yoseph Nenuk, Atambua.

Tuhan memberkati.

 

Boni Atolan.

banner 325x300
error: Content is protected !!