banner 728x250

171 Hektare Lahan Tidur SVD Timor Mulai Dibangkitkan, Belu Bidik Pangan hingga Dukung MBG

banner 120x600
banner 468x60

BELU,  — Bertahun-tahun tidak produktif, hamparan sekitar 171 hektare lahan milik SVD Timor di kawasan Nenuk, Fatu Tomak dan Halikelen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, mulai dibangkitkan kembali.

banner 325x300

Sabtu, 3 Oktober 2026, alat berat Dinas Pertanian Kabupaten Belu mulai membuka lahan tersebut. Bukan sekadar seremoni, langkah ini menjadi titik awal pemanfaatan aset tanah yang selama ini tidur untuk dikembangkan menjadi lahan produktif.

Pembukaan lahan dilakukan melalui kegiatan Launching Pembukaan Lahan Tidur SVD Timor, yang berlangsung di tengah kawasan lahan di Jalan Raya Atambua–Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat.

Wakil Bupati Belu, Vicente Hornay Gonsalves, ST, hadir bersama Kepala Dinas Pertanian Belu Silvia O. Do Amaral, S.STP, Kabid Sarana Prasarana Dinas Pertanian Helena Abuk, SP, serta sejumlah unsur SVD Timor dan mitra JPIC.

Bagi Pemerintah Kabupaten Belu, pemanfaatan lahan tidur merupakan bagian dari upaya mendorong tanah produktif agar memberikan nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat.

“Kita harus hidup lebih layak di atas tanah yang subur ini,” demikian pesan Wakil Bupati Belu dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, lahan seluas sekitar 171 hektare yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari hortikultura, padi, jagung, bawang hingga tanaman pakan ternak.

Namun, arah pengembangan lahan tidak hanya berhenti pada produksi tanaman.

Di kawasan Halikelen, SVD Timor saat ini memiliki 21 ekor sapi perah. Karena itu, sebagian lahan nantinya diarahkan untuk menghasilkan pakan ternak sehingga keberadaan sapi perah dapat terus dikembangkan.

“Kalau lahannya tidak ditanami, akan sulit mendapatkan pakan,” ujar Wakil Bupati.

Dari Lahan Tidur ke Pangan untuk Masyarakat

Pemanfaatan lahan tersebut juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan pangan lokal, termasuk mendukung rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Wakil Bupati Belu menyebut rencana pengembangan ayam petelur di kelompok-kelompok masyarakat di Halikelen dan Fatu Tomak. Produksi telur, ayam, bawang merah, bawang putih dan komoditas lainnya diharapkan dapat memenuhi sebagian kebutuhan bahan pangan untuk program tersebut.

Selama ini, menurutnya, masih terdapat kebutuhan bahan baku dapur MBG yang didatangkan dari luar daerah.

Karena itu, produksi pangan dari lahan lokal dipandang sebagai peluang agar Kabupaten Belu tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mampu menjadi pemasok kebutuhan pangan bagi masyarakatnya sendiri.

Pengembangan sektor peternakan juga dikaitkan dengan ketersediaan susu. Sapi perah yang dimiliki SVD Timor berpotensi mendukung pemenuhan kebutuhan susu masyarakat apabila produksinya terus dikembangkan.

SVD: Bukan Hanya Soal Aset, Tetapi Ekologi dan Kesejahteraan

Koordinator JPIC SVD Timor, Pater Domi Kadju Dheo, SVD, mengatakan pembukaan lahan tersebut merupakan bagian dari perhatian JPIC terhadap pengembangan ekologi integral dan keutuhan ciptaan.

Menurut Pater Domi, pemanfaatan lahan yang selama ini tidak produktif menjadi bagian dari tanggung jawab untuk mengelola aset secara lebih bermanfaat.

Sementara itu, Ekonom SVD Timor, Pater Tarsi Atok, SVD, menegaskan bahwa lahan seluas itu tidak mungkin dikelola hanya oleh SVD sendiri.

Karena itu, kerja sama dan kolaborasi menjadi prinsip utama dalam pengembangan kawasan tersebut.

“Ini bukan soal keuntungan siapa, tetapi bagaimana memanfaatkan peluang ini untuk pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Belu sendiri,” demikian substansi pesan Pater Tarsi.

Ia berharap Pemerintah Desa Naekasa dan masyarakat sekitar dapat dilibatkan sehingga program tersebut tidak dipandang sebagai program eksklusif milik SVD Timor, melainkan menjadi bagian dari gerakan bersama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

SVD Timor, kata dia, akan mengatur dinamika pengolahan dan pemanfaatan lahan melalui Ekonom SVD Timor.

Tidak Mendadak, Berbasis Kajian Lahan

Pembukaan lahan tersebut juga tidak dilakukan secara spontan.

Sebelum launching, proses persiapan telah dilakukan melalui survei tenaga ahli dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang, tracking, pengambilan titik koordinat menggunakan drone, pemetaan hingga pengambilan sampel tanah di sejumlah titik.

Kajian tersebut melibatkan Dr. Blasius Paga, S.Hut., M.Si., Prof. Dr. Fransiskus Xaverius Dako, S.Hut., M.Si., dan Melinda R.S. Moata, PhD.

Sementara tim teknis Land Assessment & Planning (LAP) melibatkan Fredik S. Aramak, A.Md., Yohanes Don Bosko Doke Djo, A.Md.Hut., dan Abraham Manek Luan, S.Hut.

Hasil kajian kelayakan lahan kemudian menjadi salah satu dasar dimulainya pengolahan kawasan seluas sekitar 171 hektare tersebut.

Ada Dukungan Bibit Bawang untuk 1.000 Hektare

Momentum pembukaan lahan SVD Timor juga bersinggungan dengan rencana pengembangan komoditas bawang di Kabupaten Belu.

Wakil Bupati menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pertanian direncanakan membantu bibit bawang untuk 1.000 hektare lahan pada tahun depan.

Karena itu, masyarakat Belu yang masih memiliki lahan tidur diharapkan dapat mulai mempersiapkan lahannya sehingga peluang dukungan tersebut dapat dimanfaatkan.

Pesannya jelas: lahan yang selama ini tidak produktif perlu diubah menjadi sumber produksi.

Bagi SVD Timor, pembukaan 171 hektare tersebut menjadi langkah awal. Bagi Pemerintah Kabupaten Belu, lahan itu menjadi salah satu ruang untuk memperkuat produksi pangan lokal.

Dan bagi masyarakat sekitar, tantangannya adalah memastikan lahan yang telah dibuka tidak kembali tidur.

Acara launching ditutup dengan doa berkat oleh Pater Domi Kadju Dheo, SVD. Setelah itu, pengerjaan lahan menggunakan alat berat Dinas Pertanian Kabupaten Belu mulai dilaksanakan.

Dari tanah yang lama diam, sebuah pertanyaan besar kini dimulai: seberapa jauh lahan 171 hektare itu mampu diubah menjadi sumber pangan, peternakan dan kesejahteraan bagi masyarakat Belu?

 

Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!