NENUK -Atambua – Perjuangan menegakkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan tidak selalu berjalan di jalan yang mudah. Ada ketakutan, kesalahpahaman, penolakan bahkan risiko ketika seseorang memilih berdiri bersama mereka yang kecil dan terpinggirkan.
Namun, bagi para pejuang Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) SVD Timor, rasa takut bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Pesan itulah yang ditegaskan P. Domi K. Dheo, SVD dalam renungan peneguhan dan motivasi bagi JPIC SVD Timor, Jumat, 2 Oktober 2026, bertepatan dengan Pesta Para Malaikat Pelindung, di Biara St. Yoseph Nenuk.
Mengangkat bacaan Kitab Suci dari Keluaran 23:20-23a, Mazmur 91 serta Injil Matius 18:1-5.10, P. Domi mengajak para pejuang JPIC melihat karya pelayanan mereka bukan sekadar pekerjaan sosial, melainkan bagian dari panggilan iman untuk menghadirkan perlindungan dan pembelaan bagi manusia yang martabatnya terancam.
“Lihat, Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu,” demikian kutipan Keluaran 23:20 yang menjadi pijakan utama renungan tersebut.
Bagi P. Domi, pesan itu dapat menjadi peneguhan bagi mereka yang bekerja di garis depan persoalan kemanusiaan.
Ia menyebut perjuangan JPIC hadir di tengah berbagai persoalan nyata, mulai dari pendampingan migran, persoalan tanah, pengelolaan lahan hingga solidaritas terhadap korban bencana.
Dalam situasi seperti itu, seorang pejuang JPIC tidak boleh merasa berjalan sendirian.
“Kadang kita merasa sendirian karena tidak dipahami konfrater, karena perjuangan kita dianggap terlalu politik, terlalu berisik. Ingatlah hari ini: ada Tuhan yang menyertaimu dan ada malaikat yang dipercayakan untuk menjagamu,” demikian pesan yang disampaikan dalam renungan tersebut.
Membela yang Kecil adalah Menjaga Citra Allah
Salah satu tekanan utama renungan P. Domi adalah panggilan untuk melihat manusia yang kecil dan terpinggirkan bukan sebagai objek pelayanan, tetapi sebagai pribadi yang memiliki martabat ilahi.
Ia mengaitkannya dengan pesan Yesus dalam Injil Matius agar para murid tidak merendahkan seorang pun dari “anak-anak kecil”.
Dalam perspektif iman, setiap manusia memiliki martabat sebagai Imago Dei atau citra Allah.
Karena itu, pembelaan terhadap kelompok rentan bukan sekadar aktivitas sosial.
“Ketika kamu membela hak seorang migran non-prosedural yang ditipu agen, kamu sedang membela wajah Allah yang diludahi,” demikian refleksi yang disampaikan.
Pesan serupa juga diarahkan kepada perjuangan membela tanah, hak buruh dan mereka yang menjadi korban ketidakadilan.
Bagi JPIC, keberpihakan kepada kelompok kecil merupakan konsekuensi dari iman yang mengakui martabat manusia sebagai citra Allah.
Karena itu, P. Domi mengajak anggota JPIC untuk tidak memandang tugas tersebut sebagai beban tambahan.
Sebaliknya, karya JPIC harus dilihat sebagai kepercayaan dan panggilan iman.
“Jangan melihat JPIC sebagai beban tambahan. Tetapi lihatlah sebagai sebuah kebanggaan iman,” tegasnya dalam renungan.
Takut Itu Manusiawi, Tetapi Jangan Berhenti Melangkah
P. Domi juga mengingatkan bahwa keberanian seorang pejuang JPIC tidak berarti tidak memiliki rasa takut.
Ketakutan terhadap masa depan, kegagalan, penolakan, bahkan kemungkinan disalahpahami oleh berbagai pihak merupakan bagian dari pergulatan manusia.
Termasuk dalam menjalankan advokasi dan pendampingan di tengah masyarakat.
Namun, iman mengajarkan bahwa manusia tidak harus mengetahui seluruh masa depan untuk berani melangkah.
“Kita memang tidak mengetahui masa depan. Tetapi kita tahu siapa yang memegang masa depan,” demikian salah satu pesan utama renungan tersebut.
Menurut refleksi itu, perlindungan Tuhan juga tidak berarti seorang pejuang akan terbebas dari badai persoalan.
Perlindungan Tuhan justru dimaknai sebagai kekuatan untuk tetap memiliki tempat berlindung ketika menghadapi tekanan, fitnah, ancaman maupun kegagalan.
Dalam konteks itu, komunitas JPIC sendiri dipandang sebagai ruang saling menopang.
Ketika seorang anggota jatuh, anggota lainnya mengangkat. Ketika ada yang kecewa karena sebuah perjuangan belum membuahkan hasil, komunitas menjadi tempat untuk saling menguatkan.
Dari Pekerja Sosial Menjadi “Malaikat” bagi Sesama
Puncak renungan tersebut diarahkan pada perubahan cara pandang terhadap identitas seorang anggota JPIC.
Bukan hanya sebagai seseorang yang “bekerja untuk orang miskin”, tetapi sebagai pribadi yang diutus untuk menjadi pembawa perlindungan bagi mereka yang membutuhkan.
“Dari: saya anggota JPIC yang bekerja untuk orang miskin. Menjadi: saya adalah malaikat pelindung yang diutus Tuhan untuk orang miskin itu.”
Perubahan cara pandang tersebut, menurut P. Domi, mengubah pekerjaan menjadi panggilan.
Karena itu, para anggota JPIC diajak tidak kehilangan sukacita dalam menjalankan tugas, meskipun medan perjuangan tidak selalu mudah.
Setiap perjuangan untuk kemanusiaan, setiap air mata karena penderitaan sesama dan setiap kegelisahan ketika menyaksikan ketidakadilan, harus menjadi energi untuk terus bergerak.
Di akhir renungannya, P. Domi mengajak seluruh anggota JPIC SVD Timor untuk menjadi pembawa keberanian bagi mereka yang takut, penghiburan bagi mereka yang sedih, penunjuk jalan bagi mereka yang tersesat dan pembawa kesembuhan bagi mereka yang terluka.
“Hai Team JPIC SVD Timor, bersukacitalah! Kita berada di jalan yang benar. Kita tidak buang-buang waktu,” pesannya.
Ia menutup renungan dengan sebuah ajakan yang kuat: para pejuang JPIC hendaknya menjalankan panggilannya dengan keberanian dan sukacita.
“Kita adalah malaikat pelindung Timor.”
Pesan itu kemudian dipertegas dalam seruan: berani berjuang demi kemanusiaan dan berani membela martabat manusia sebagai citra Allah.
P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor

















