Ziarah Cinta Untuk Bapak Anton yang setia
Rumah itu dulu tidak pernah sepi.
Ada suara Mama Ana memanggil ayam di halaman. Ada suara Bapak Anton membelah kayu di belakang. Ada tawa anak-anak yang berebut nasi jagung.
Lalu waktu mengajak anak-anak itu pergi. Satu per satu. Dengan tas besar dan sepatu baru. Mereka pergi jauh, bekerja di kota-kota yang hanya disebut lewat telepon.
Rumah menjadi kecil. Tinggal dua orang. Bapak Anton dan Mama Ana.
Tetapi justru di situlah kasih menjadi utuh.
Tidak perlu banyak kata. Pagi-pagi, Bapak Anton sudah buatkan kopi. Mama Ana sudah siapkan pisang goreng, jagung titi. Mereka duduk di bale-bale bambu, memandang gunung yang menghijau. Diam, tetapi saling mengerti. Cinta yang sudah selesai dengan kata-kata.
Sampai sore itu datang.
Mama Ana memegang dadanya. Wajahnya pucat seperti kapas. Tubuhnya lemas di pelukan Bapak Anton.
Sejak hari itu, dunia Bapak Anton hanya satu nama: Mama Ana harus sembuh.
Ia bawa Mama Ana dari mantri ke puskesmas. Dari puskesmas ke rumah sakit kabupaten. Ia gendong. Ia tuntun. Uang simpanan, semua untuk obat. Tidak ada satu keluhan pun keluar dari mulut Bapak Anton.
Yang ada hanya bisiknya setiap malam, sambil mengurut kaki Mama Ana yang dingin, “Mama kuat e… Bapa ada di sini.”
Sampai dokter di kampung menunduk, dan dengan berat hati menulis surat rujukan. Kertas putih tipis, tetapi rasanya lebih berat dari batu gunung.
“Pak Anton, mama harus berobat ke seberang. Ke ibu kota provinsi. Di sana baru bisa.”
Bapak Anton mengabari anak-anak. Suaranya pecah. Anak-anak menangis di telepon jauh, “Bawa Mama, Bapa. Kami kirim uang. Bapa jangan sendiri.”
Maka berangkatlah mereka. Dua orang tua renta, menyeberang laut dengan kapal yang bergoyang. Membawa satu tas dan satu harapan besar yang mereka lipat rapi di dalam map rontgen.
Di kota provinsi itu, semuanya asing, bau obat, antrian yang panjang seperti tidak ada ujung.
Tetapi Bapak Anton selalu punya cara membuat Mama Ana lupa sakitnya sebentar.
Ia tuntun Mama Ana ke pasar buah.
Mama Ana suka buah. Sangat suka.
Di sana, di antara tumpukan apel merah dan jeruk yang masih berembun, mata Mama Ana yang sudah sayu karena sakit tiba-tiba hidup lagi. Tangannya yang kurus, yang sudah susah digerakkan, memilih buah satu per satu dengan lembut. Seperti ia sedang memilih doa.
“Bapa, coba ini. Manis,” kata Mama Ana, menyuapkan seiris jeruk ke mulut Bapak Anton.
Bapak Anton tersenyum. Senyum yang sudah lama hilang. Ia bahagia. Bahagia melihat Mama Ana bahagia.
Tetapi Tuhan punya hitungan lain.
Malam itu, di kamar rumah sakit yang putih dan dingin, selang infus masih menetes. Nafas Mama Ana pendek-pendek. Lalu berhenti.
Mama Ana pergi. Pergi di dalam genggaman tangan Bapak Anton. Tenang. Seperti tertidur setelah lelah memilih buah.
Dokter datang, melepas stetoskop, dan berbisik, “Maaf, Pak Anton… Mama sudah tidak tertolong.”
Bapak Anton tidak berteriak. Ia hanya menunduk. Bahunya yang selama ini kuat memikul tanggung jawab keluarga dan menggendong Mama Ana, runtuh seketika. Air matanya jatuh satu per satu ke punggung tangan Mama Ana yang sudah dingin.
Dalam hening yang begitu mencekam, tiba-tiba dari mulut Bapak Anton keluar nyanyian… Lirih. Gemetar. Patah-patah.
_Ine Maria…_
_o Ine Maria_
Lagu Ine Maria dalam bahasa ibunya. Lagu yang dulu ia nyanyikan saat Mama Ana melahirkan anak pertama mereka. Kini ia nyanyikan lagi, untuk mengantar Mama Ana pulang ke Sang Pencipta.
Jenazah Mama Ana dibawa pulang. Menyeberang laut lagi. Kalau berangkat dulu Mama Ana duduk di samping Bapak Anton, kini Mama Ana terbaring diam di peti kayu.
Ia dimakamkan di kampung, di bawah pohon-pohon rindang yang dulu mereka tanam bersama.
*Setahun Kemudian – Ziarah Itu.*
Setahun telah lewat. Bagi orang lain setahun itu sebentar. Bagi Bapak Anton, setahun itu adalah seribu malam tanpa Mama Ana di samping.
Ia putuskan untuk berziarah. Bukan hanya ziarah ke makam. Tetapi ziarah hidup. Kembali ke kota yang pernah menghancurkan hatinya.
Bersama sahabat-sahabatnya, Bapak Anton berangkat lagi ke ibu kota provinsi itu.
Langkahnya berat. Jantungnya berdegup kencang saat kapal mendekati pelabuhan.
Tujuan pertamanya bukan rumah sakit. Tetapi lapak buah itu.
Lapak buah yang setahun lalu menjadi saksi senyum terakhir Mama Ana.
Ia berdiri di sana. Pedagang buah masih orang yang sama. Apel merah masih disusun rapi.
Bapak Anton mengulurkan tangan, menyentuh sebuah jeruk. Dingin. Segar.
Dan di situlah air mata menetes.
Bukan tangis keras. Tetapi tangis yang tumpah dari dalam dada yang sudah setahun ditahan. Air mata mengalir deras di pipinya yang keriput, jatuh ke buah jeruk di tangannya.
Ia menangis mengenang setahun lalu, di tempat yang sama persis, Mama Ana berdiri di sampingnya dan berkata, “Bapa, ini manis.”
Sekarang, buah itu masih manis. Tetapi yang bilang manis sudah tidak ada.
Setelah lama berdiam, ia kembali ke penginapan. Di beranda, ia duduk bersama sahabat-sahabat.
Datanglah seorang sahabat baru. Seorang lelaki juga, yang baru pertama ia jumpai. Wajahnya teduh.
Mereka ngobrol. Tentang kota asal Bapak Anton, tentang umur dan lain-lainnya.
Entah kenapa, Bapak Anton menceritakan semuanya. Tentang jeruk, tentang lapak buah, tentang Ine Maria yang ia nyanyikan setahun lalu.
Sahabat baru itu mendengarkan. Mendengarkan dengan hati, bukan dengan telinga.
Setelah Bapak Anton selesai, sahabat itu berkata pelan:
“Bapak Anton e… Semuanya ada batasnya, sesuai yang telah ditakdirkan. Kita manusia hanya bisa menjaga, tidak bisa menahan.”
“Siap diri untuk menerima, Bapa. Memang secara raga, Bapa dan Mama harus berpisah. Tetapi secara batin, Bapa dan Mama tidak pernah berpisah. Mama Ana tetap ada di dalam dada dan hati Bapa.”
“Bapak harus berbesar hati. Sebab di balik perpisahan ini, ada hikmah yang akan Bapa petik. Entah hari ini, entah besok. Baik yang Bapa sadari maupun tidak. Percayalah.”
Kata-kata itu seperti air sejuk.
Malam itu, setelah setahun, Bapak Anton lega.
*PUISI PENUTUP UNTUK BAPAK ANTON – AGAR HATI MENJADI KUAT*
_Bapak Anton…_
Jika kau meneteskan lagi air mata di lapak buah itu, menangislah… Jangan ditahan.
Karena setiap air matamu yang jatuh ke buah jeruk itu, bukan air mata sedih, itu adalah air suci yang menyiram cinta, agar cinta itu tetap tumbuh.
Mama Ana tidak hilang, Bapa. Ia hanya berpindah tempat, dari di sampingmu, menjadi di dalam dadamu.
Sekarang, setiap kau mengupas jeruk, Mama Ana lah yang mengupasnya untukmu.
Setiap kau menyanyikan Ine Maria dengan suara gemetar, Mama Ana lah yang menyahutnya dari langit, dengan suara yang jernih.
Kalian tidak berpisah, Bapa. Kalian hanya tidak lagi berjalan beriringan, tetapi kini berjalan bergandengan di dalam satu jiwa.
Pulanglah, Bapak Anton. Pulang ke rumah tua itu. Buat kopi dua cangkir lagi seperti dulu. Satu untuk Bapa, Satu lagi… tetap untuk Mama Ana.
Karena cinta yang setia seperti milikmu, tidak pernah mengenal kata selesai.
*TAMAT*
Yohanes Tafaib Amloki
Tun Feu Bieli, Teras Batin Oebufu Kupang, 29 September 2026

















