banner 728x250

Provinsial SVD Timor: Tahbisan Bukan Garis Akhir, Enam Imam Baru Diutus untuk Misi

banner 120x600
banner 468x60

ATAMBUA — Tahbisan bukan garis akhir perjalanan seorang imam, melainkan awal dari perutusan yang sesungguhnya. Karena itu, altar tidak boleh menjadi tempat berhenti, tetapi sumber kekuatan untuk membawa kehidupan rohani dan pelayanan ke tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Provinsial SVD Timor, P. Dismas Mauk, SVD, dalam perayaan tahbisan enam imam baru di Biara St. Yoseph Nenuk, Atambua, Kamis (1/10/2026).

banner 325x300

Kepada keenam imam baru, P. Dismas menegaskan bahwa perjalanan panjang pendidikan filsafat dan teologi hingga mencapai tahbisan bukanlah sebuah garis finis.

“Tahbisan itu awal perjalanan. Altar Tuhan bukan titik akhir. Imamat untuk memberi hidup rohani,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutannya.

Pesan tersebut menjadi peneguhan penting bagi keenam imam baru agar tidak memandang tahbisan sebagai pencapaian pribadi, tetapi sebagai awal tanggung jawab perutusan yang lebih luas.

Jangan Kehilangan Rasa Kagum di Depan Altar

Salah satu pesan kuat P. Dismas adalah agar para imam baru tidak pernah kehilangan rasa kagum ketika merayakan Ekaristi.

Ia mengajak para imam untuk merayakan Misa dengan kesadaran bahwa setiap perayaan Ekaristi memiliki makna yang mendalam dan tidak boleh berubah menjadi rutinitas semata.

“Rayakan Misa seolah-olah ini Misa pertamamu, satu-satunya Misamu, inilah Misa terakhirmu.”

Pesan tersebut mengingatkan para imam baru agar tetap menjaga kekhusyukan, penghormatan dan rasa kagum terhadap misteri Ekaristi.

Bagi P. Domi K. Dheo, SVD, yang merefleksikan pesan Provinsial tersebut, pengalaman di altar harus berlanjut dalam kehidupan nyata.

Apa yang dirayakan di altar harus diteruskan dalam pelayanan di tengah masyarakat.

Dengan demikian, Ekaristi tidak berhenti di dalam gereja, tetapi menjadi kekuatan untuk menghadirkan kepedulian di tengah mereka yang mengalami penderitaan, termasuk korban bencana, masyarakat perbatasan, kaum migran dan kelompok rentan.

Sabda Harus Menjadi Kehidupan

Sebagai misionaris dari Societas Verbi Divini (SVD) atau Serikat Sabda Ilahi, para imam juga diingatkan untuk menjadikan Sabda sebagai dasar hidup dan pelayanan.

P. Dismas menekankan pentingnya keterlibatan nyata seorang imam dalam kehidupan umat.

Salah satu pesan yang disampaikannya:

“Khotbah bisa lupa. Tapi umat ingat keterlibatan, tindakan…”

Pesan ini menempatkan tindakan nyata sebagai bagian penting dari kesaksian seorang imam.

Umat mungkin tidak selalu mengingat seluruh isi khotbah, tetapi pengalaman ketika seorang imam hadir, mendengarkan, mendampingi dan terlibat dalam pergumulan mereka dapat meninggalkan kesan yang jauh lebih panjang.

Dalam perspektif JPIC, semangat tersebut berarti menghadirkan Sabda melalui keberpihakan pada kehidupan, keadilan, kemanusiaan dan kelestarian ciptaan.

Jangan Mengutus Diri Sendiri

Pesan lain yang menjadi perhatian adalah mengenai hakikat perutusan.

P. Dismas mengingatkan para imam baru agar tidak memisahkan pelayanan dari misi.

“Jangan pisahkan pelayanan dari misi. Misi itulah jiwa yang menggerakkan perutusan dan karya-karya. Misi harus ada yang mengutus dan diutus. Bukan mengutus diri sendiri.”

Bagi seorang misionaris SVD, perutusan tidak dapat dilepaskan dari ketaatan terhadap misi dan komunitas yang mengutus.

Karena itu, semangat hidup religius—termasuk ketaatan, kemiskinan dan kemurnian—menjadi bagian penting dalam menghidupi panggilan sebagai misionaris.

Ketaatan bukan sekadar mengikuti perintah, tetapi menjadi bagian dari kesadaran bahwa seorang misionaris hidup dalam perutusan, bukan semata-mata menjalankan agenda pribadi.

Enam Imam, Satu Perutusan

Keenam imam baru yang menerima tahbisan adalah P. Kanisius Bauk, SVD; P. Yosef Mario Ambasan, SVD; P. Clitus Marselinus Hausufa, SVD; P. Febronius Meni Subun, SVD; P. Wilfridus Oki, SVD; dan P. Robertus Bellarminus Meak, Sch.P.

Bagi mereka, hari tahbisan menjadi awal perjalanan baru sebagai pelayan Tuhan dan misionaris.

Pesan Provinsial SVD Timor tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa altar dan ladang misi tidak boleh dipisahkan.

Dari altar, seorang imam menerima kekuatan untuk pergi. Dari Sabda, ia menerima arah perutusan. Dan dalam keterlibatan bersama umat, ia menghadirkan kesaksian iman melalui kehidupan nyata.

Dalam refleksi P. Domi K. Dheo, SVD, keenam imam baru tidak lagi dipanggil untuk hidup hanya bagi diri sendiri.

Mereka dipanggil menjadi milik Sabda dan misi, siap diutus ke mana pun Gereja dan perutusan SVD menghendaki.

Tahbisan adalah awal. Altar adalah sumber. Misi adalah jalan. Dan Sabda adalah jiwa perutusan.

P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor

banner 325x300
error: Content is protected !!