banner 728x250

Gereja Bethlehem Penkase Ubah Sampah Jadi Gerakan Ekonomi dan Teologi Lingkungan

banner 120x600
banner 468x60

KUPANG — Radar Perbatasan.Com

Persoalan sampah tidak lagi ditempatkan semata sebagai urusan pemerintah. Gereja Bethlehem Penkase, Kelurahan Penkase Oeleta, Kota Kupang, memilih masuk langsung ke jantung persoalan dengan meluncurkan Rumah Barang-Barang Bekas (Rumah Bedu), Jumat, 25 September 2026.

banner 325x300

Inisiatif yang dimotori Pdt. Ita Lado tersebut menjadi gerakan nyata gereja dalam menerjemahkan Teologi Ciptaan ke dalam aksi lingkungan. Sampah yang selama ini dipandang sebagai persoalan, mulai dikelola menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus sarana membangun kesadaran ekologis jemaat.

Peluncuran Rumah Bedu dihadiri Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Lingkungan Hidup (P3E) Bali dan Nusa Tenggara Wilayah III Ade Suharso, Anggota DPRD Provinsi NTT Dr. Intje Sayuna, SH., M.Hum, Asisten III Setda Kota Kupang, Camat Alak, Lurah Penkase, Direktur PIAR-NTT Ir. Sarah Lery Mboeik, Wakil Ketua Klasis Kota Kupang Pdt. Yes Djonaga, serta seluruh jemaat Gereja Bethlehem Penkase.

Gereja Tak Boleh Diam Melihat Krisis Sampah

Pdt. Ita Lado menegaskan, krisis sampah merupakan persoalan serius di Indonesia, termasuk Kota Kupang. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga menyentuh ekosistem dan kualitas hidup masyarakat.

Karena itu, menurutnya, persoalan sampah tidak dapat terus-menerus dibebankan hanya kepada pemerintah maupun petugas kebersihan.

“Gereja berperan penting menjaga lingkungan hidup sebagai wujud tanggung jawab iman untuk merawat bumi ciptaan Tuhan melalui aksi nyata pendidikan, kesadaran jemaat, dan pengelolaan sampah,” ujar Pdt. Ita.

Ia menegaskan, gereja juga memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan kritik terhadap berbagai bentuk kerusakan alam melalui Teologi Ciptaan.

Dalam perspektif tersebut, manusia bukan penguasa yang bebas mengeksploitasi alam, melainkan penatalayan yang memiliki tanggung jawab untuk merawat bumi sebagai ciptaan Tuhan.

Rumah Bedu kemudian menjadi salah satu bentuk konkret dari tanggung jawab tersebut.

Sampah Dipilah, Nilai Ekonomi Diciptakan

Rumah Bedu dikembangkan sebagai pusat pengelolaan dan rantai pasok sampah daur ulang yang memiliki nilai ekonomi.

Untuk saat ini, material yang dikelola antara lain plastik yang diolah menjadi biji plastik (recycled plastic) serta kaleng bekas. Sampah dipilah secara sistematis sebelum masuk dalam proses pengelolaan lebih lanjut.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa sampah tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Dengan pengelolaan yang tepat, sebagian sampah dapat kembali masuk ke dalam rantai ekonomi melalui proses daur ulang.

Namun, gerakan Bethlehem Penkase tidak berhenti pada sampah anorganik.

Dari Sampah ke Pekarangan Produktif

Halaman gereja yang cukup luas juga dimanfaatkan menjadi lahan sayuran dan tanaman hortikultura.

Pengelolaan pekarangan tersebut dikembangkan dengan pendekatan ekonomi sirkular (circular economy), termasuk pemanfaatan air limbah domestik yang diolah untuk kebutuhan penyiraman tanaman.

Dengan demikian, Rumah Bedu tidak berdiri sebagai program pengumpulan barang bekas semata. Ia dikembangkan dalam satu rangkaian gerakan yang menghubungkan pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber daya, penghijauan dan produktivitas pekarangan.

Dukungan Lintas Sektor

Inisiatif tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak yang hadir dalam peluncuran.

Kepala P3E Bali dan Nusa Tenggara Wilayah III Ade Suharso memberikan apresiasi terhadap langkah Pendeta dan Jemaat Gereja Bethlehem Penkase yang memilih melakukan aksi nyata dalam pengelolaan lingkungan.

Sementara itu, Asisten III Setda Kota Kupang secara resmi meluncurkan program Rumah Bedu.

“Atas nama Pemerintah Kota Kupang, kami menegaskan komitmen untuk mendukung inisiasi warga gereja yang berkomitmen kuat untuk Kota Kupang bersih dari sampah. Semoga ini menjadi motivasi bagi masyarakat lain,” ungkapnya.

Anggota DPRD Provinsi NTT Dr. Intje Sayuna, SH., M.Hum, melihat Rumah Bedu sebagai momentum membangun kolaborasi untuk kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, gerakan tersebut juga memiliki relevansi dengan upaya penanganan berbagai persoalan sosial di Penkase Oeleta.

“Kami di DPRD memberikan apresiasi tinggi dan dukungan penuh. Ke depan, DPRD akan terus menjalankan fungsi pengawasan secara ketat agar pelaksanaan program berjalan transparan, tepat sasaran, dan langsung menyentuh masyarakat yang membutuhkan tanpa keterlibatan pihak ketiga yang berbelit-belit,” tegasnya.

PIAR-NTT: Pengorganisasian Jadi Kunci

Direktur PIAR-NTT Ir. Sarah Lery Mboeik, yang turut mendampingi gerakan tersebut, menilai Rumah Bedu bukan hanya berbicara tentang sampah, tetapi juga menyentuh persoalan kemiskinan struktural serta pemenuhan hak masyarakat atas lingkungan dan hunian yang layak.

Namun, Sarah mengingatkan bahwa membangun gerakan berbasis masyarakat membutuhkan pengorganisasian yang kuat.

“Mengorganisir masyarakat dalam kerja bersama ini bukan hal mudah, sehingga pengorganisasian menjadi hal penting. Ibu Pdt. Ita punya pengalaman luar biasa dalam memanajemen jemaat di Pasar Lili, kiranya pengalaman tersebut bisa diaplikasikan dalam membangun organisasi Rumah Bedu ini. PIAR NTT akan terus bersama,” pungkasnya.

Rumah Bedu akhirnya tidak sekadar menjadi tempat barang-barang bekas dikumpulkan. Di tangan Gereja Bethlehem Penkase, sampah ditempatkan sebagai pintu masuk untuk membangun kesadaran ekologis, menggerakkan jemaat, memanfaatkan pekarangan, sekaligus membuka ruang ekonomi dari sesuatu yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai.

Yuven Fernandez

banner 325x300
error: Content is protected !!