SOVERDI OEBUFU, 30 September 2026 — Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, aktivitas, ambisi, dan berbagai suara yang berebut perhatian, ada satu suara yang justru sering kita abaikan: suara Sabda Allah.
Kita terlalu sibuk mendengar dunia sampai lupa menyediakan waktu untuk mendengar Dia.
Padahal, sejak awal mula penciptaan, kehidupan lahir dari Sabda. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yohanes 1:1).
Kejadian 1:1-3 memperlihatkan bagaimana Allah menciptakan bukan dengan kegaduhan, melainkan dengan Sabda: “Jadilah terang.” Dan terang itu jadi.
Karena itu, sumber kehidupan, sumber penciptaan, sekaligus sumber perutusan manusia beriman hanya satu: Sabda Allah.
Misionaris Lahir dari Sabda
Seorang misionaris tidak pertama-tama lahir dari program, strategi, banyaknya kegiatan atau keberhasilan karya. Misionaris lahir ketika ia setiap hari menyediakan ruang untuk diam, mendengar, dan membiarkan Sabda Allah membentuk hidupnya.
Yehezkiel 2:1-3, 8 memberikan gambaran yang kuat. Sebelum diutus, Yehezkiel terlebih dahulu dipanggil untuk berdiri dan mendengarkan suara Tuhan. Ia bahkan diminta menerima dan menyantap gulungan kitab.
Pesannya jelas: isi dahulu sebelum diutus; dengarkan dahulu sebelum berbicara; biarkan Sabda membentuk diri sebelum membentuk dunia.
Tanpa Sabda, kegiatan bisa menjadi rutinitas. Pelayanan bisa berubah menjadi pekerjaan. Dan misi bisa kehilangan roh perutusannya.
Komunitas Ciptaan dan Manusia Terluka Ketika Jauh dari Sabda
Kejadian 1 memperlihatkan Allah menciptakan dunia dalam keteraturan dan kebaikan. Itulah komunitas ciptaan.
Sementara Yohanes 1 memperlihatkan Sabda yang menjadi manusia dan tinggal di tengah manusia. Itulah komunitas manusia.
Keduanya saling berkaitan.
Ketika manusia menjauh dari Sabda, hubungan dengan ciptaan dan sesama pun dapat ikut rusak. Keserakahan, keinginan mendapatkan hasil secara cepat, serta kecenderungan menghalalkan berbagai cara dapat membawa kerusakan terhadap tanah, air dan udara.
Penggunaan bahan-bahan kimia secara tidak bertanggung jawab, misalnya, bukan hanya menjadi persoalan ekologis. Ketika lingkungan rusak, manusia pun ikut menanggung akibatnya.
Karena itu, persoalan ekologi tidak semata-mata persoalan lingkungan. Ia juga menjadi persoalan spiritual.
Ketika hidup tidak lagi berakar pada Sabda, manusia mudah kehilangan batas antara kebutuhan dan keserakahan.
Ciptaan menjerit. Sesama manusia ikut terluka.
Mengenal Suara Roh Kudus di Tengah Kegaduhan
Roh Kudus berbicara melalui Sabda. Namun Sabda membutuhkan keheningan agar dapat didengar.
Di penghujung Bulan Kitab Suci 2026, ada tiga pertanyaan yang layak kita bawa ke dalam keheningan pribadi maupun komunitas.
1. Apakah Sabda masih menjadi kebutuhan harian saya?
Atau Sabda sudah tergeser oleh media sosial?
Apa yang pertama kali kita cari ketika membuka mata di pagi hari: Kitab Suci atau notifikasi?
Jika makanan pertama bagi batin kita setiap hari adalah scrolling, jangan heran apabila hati menjadi mudah cemas, mudah marah dan mudah kehilangan arah.
2. Apa kegaduhan terbesar dalam diri, komunitas dan karya kita?
Ada kegaduhan batin: ambisi, iri hati dan luka yang belum dibereskan.
Ada kegaduhan komunitas: gosip, kompetisi dan kebiasaan saling menyalahkan.
Ada pula kegaduhan dalam karya: begitu banyak kegiatan, tetapi begitu sedikit ruang untuk berdoa dan mendengarkan Tuhan.
Sibuk melayani belum tentu berarti hidup dekat dengan Tuhan.
3. Setelah 150 tahun perjalanan SVD, pertanyaan terpenting bukan hanya tentang karya
Bukan semata-mata: berapa banyak karya yang telah kita bangun?
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
Apakah kita masih hidup dari Sabda?
Tuhan tidak pertama-tama bertanya berapa banyak bangunan yang telah kita dirikan atau berapa banyak kegiatan yang telah kita selenggarakan.
Ia mengundang kita untuk tinggal di dalam Dia.
Sebagaimana ditegaskan dalam Yohanes 15, kehidupan dan buah perutusan hanya mungkin jika kita tetap tinggal di dalam-Nya.
Karya tanpa Sabda menjadi proyek.
Komunitas tanpa Sabda menjadi organisasi.
Hidup tanpa Sabda menjadi bising.
Berhenti Sejenak dan Dengarkan
Roh Kudus tidak selalu hadir dalam kegaduhan. Kepada Elia, Tuhan hadir dalam suara yang lembut dan tenang.
Karena itu, untuk kembali mendengar suara-Nya, kita membutuhkan setidaknya tiga langkah sederhana:
Pertama, kembali kepada Sabda setiap hari.
Kedua, merawat komunitas ciptaan dengan tanggung jawab.
Ketiga, merawat komunitas manusia dengan kasih.
Maka, di penghujung Bulan Kitab Suci ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak.
Tutup media sosial selama sepuluh menit.
Buka Kejadian 1:1-3 dan Yohanes 1:1.
Duduk dalam keheningan.
Dengarkan Sabda itu.
“Jadilah terang.”
Mungkin bukan hanya dunia yang membutuhkan terang.
Mungkin Tuhan juga sedang mengatakan kata-kata yang sama kepada hidup kita—kepada hati yang mulai gelap, kepada komunitas yang mulai gaduh, dan kepada karya yang mulai kehilangan kedalaman rohaninya.
Hidup bukan pertama-tama tentang seberapa banyak yang kita kerjakan. Hidup adalah tentang dari mana kita memperoleh kekuatan untuk mengerjakannya.
Dan bagi seorang misionaris, sumber itu adalah Sabda.
Tuhan memberkati.
Soverdi Oebufu, Rabu, 30 September 2026
P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor

















