banner 728x250

Nafsu Berkuasa Melahirkan Konflik, JPIC Dipanggil Membawa Damai

banner 120x600
banner 468x60

OEBUFU, 28 September 2026 — Perjuangan keadilan dapat kehilangan rohnya ketika berubah menjadi arena perebutan kuasa, pencarian panggung, dan kepentingan diri. Karena itu, JPIC tidak hanya dituntut berani melawan ketidakadilan, tetapi juga harus mampu menjaga kerendahan hati, ketulusan dan sikap inklusif dalam menjalankan pelayanan.

Pesan tersebut disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, dalam Renungan Jiwa di Soverdi Oebufu, Senin (28/9/2026), dengan refleksi atas Kitab Ayub 1:6-22 dan Injil Lukas 9:46-50.

banner 325x300

Mengangkat gagasan “Libido Dominandi—Nafsu Berkuasa vs Bersujud Saat Kehilangan”, P. Domi mengajak para pejuang JPIC belajar dari Ayub yang tetap bersujud ketika kehilangan seluruh harta dan anak-anaknya.

“Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” (Ayub 1:21)

Ayub: Bersujud Ketika Kehilangan

P. Domi menggambarkan kisah Ayub sebagai salah satu gambaran iman yang radikal.

Dalam satu rangkaian musibah, Ayub kehilangan harta kekayaan dan sepuluh anaknya. Dalam situasi yang secara manusiawi dapat memicu kemarahan dan keputusasaan, Ayub justru berdiri, mengoyak jubahnya, mencukur kepala, kemudian bersujud dan menyembah.

Ayub tidak menyembah karena sedang menikmati kekayaan. Ia menyembah justru ketika kehilangan segalanya.

Menurut P. Domi, kerendahan hati tidak ditunjukkan dengan membanggakan kelebihan, melainkan dengan kesediaan menempatkan diri di hadapan Tuhan.

“Orang yang rendah hati itu menyembunyikan banyak keunggulannya. Sementara yang angkuh dan sombong menutupi banyak kekurangannya,” demikian refleksinya.

Bagi P. Domi, pesan Ayub juga relevan dengan pelayanan JPIC yang berhadapan dengan berbagai bentuk kehilangan: kehilangan tanah adat, keluarga yang kehilangan anggota akibat migrasi, korban bencana, serta mereka yang kehilangan harapan di wilayah perbatasan.

Namun, penderitaan tidak boleh berhenti pada ratapan.

“Sujudlah, dan dari sujud itu, bangkitlah untuk bekerja,” menjadi salah satu pesan utama refleksi tersebut.

“Siapa yang Terbesar?”

Berbeda dengan Ayub yang bersujud dalam kehilangan, Injil Lukas menampilkan persoalan lain: murid-murid Yesus justru memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka.

P. Domi menyebut kecenderungan tersebut sebagai libido dominandi, yakni nafsu untuk berkuasa atau mendominasi.

Yesus kemudian mengambil seorang anak kecil dan menjadikannya contoh bahwa yang terkecil justru memiliki tempat penting dalam Kerajaan Allah.

Ketika Yohanes melaporkan bahwa ada orang di luar kelompok mereka yang mengusir setan dalam nama Yesus dan hendak dicegah, Yesus kembali menegaskan sikap terbuka: orang yang tidak melawan mereka berada di pihak mereka.

Bagi P. Domi, dua pesan itu menegaskan pentingnya kerendahan hati dan penolakan terhadap eksklusivitas.

Pelayanan JPIC, katanya, harus mampu melampaui batas budaya, agama, geografis maupun kelompok.

Semangat tersebut dirangkum dalam gagasan sin fronteras—tanpa batas.

JPIC Bukan Arena Mencari Panggung

P. Domi mengingatkan bahwa pelayanan kemanusiaan tidak seharusnya dibangun atas prinsip pertukaran kepentingan atau do ut des—memberi dengan harapan mendapatkan sesuatu sebagai balasan.

“JPIC yang sejati memberi tanpa menghitung untung. Melayani tanpa mencari panggung,” tegasnya.

Karena itu, perjuangan keadilan harus terlebih dahulu membersihkan motivasi dari dalam diri para pelayan.

Sebab, menurut refleksi tersebut, perjuangan melawan ketidakadilan akan kehilangan makna apabila orang yang meneriakkan keadilan justru menggunakan kekuasaan untuk menindas atau mencari keuntungan bagi dirinya sendiri.

“Pembawa Damai, Bukan Pembawa Virus”

P. Domi kemudian memberikan peringatan keras kepada para pejuang keadilan agar tidak berubah menjadi sumber konflik baru.

JPIC, menurut dia, harus menjadi pembawa damai, bukan pembawa “virus” konflik.

Ia mengkritik kontradiksi ketika seseorang berbicara tentang keadilan di ruang publik, tetapi justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai tersebut dalam kehidupan komunitas.

Ia mencontohkan bentuk-bentuk kontradiksi seperti meneriakkan antikorupsi tetapi melakukan penyalahgunaan waktu, uang atau kekuasaan dalam lingkup kecil.

Bagi P. Domi, perlawanan terhadap model tersebut tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan dengan kerendahan hati, bukan dengan melahirkan kesombongan baru.

“Rawat Wajah dan Suaramu”

Salah satu pesan paling kuat dalam renungan tersebut adalah ajakan untuk menjaga wajah dan suara sebagai cermin pelayanan.

P. Domi menggambarkan wajah sebagai sesuatu yang dilihat orang dan suara sebagai sesuatu yang didengar orang.

Menurut dia, kata-kata dapat menjadi alat pelayanan, tetapi juga dapat melukai ketika digunakan untuk memfitnah, menghakimi atau menebarkan kebencian.

“Lidah yang suka memfitnah, lidah yang suka menghakimi, lidah yang suka menebar kebencian atas nama keadilan—itulah yang melukai,” demikian refleksinya.

Karena itu, JPIC SVD Timor dipanggil untuk menghadirkan wajah yang bersih dan suara yang jernih di tengah realitas perbatasan yang penuh persoalan.

Pada akhirnya, P. Domi mengajak para pejuang JPIC meneladani dua gambaran utama dari bacaan hari itu: Ayub yang tetap memuji Tuhan dalam kehilangan dan Yesus yang merangkul yang kecil serta menolak eksklusivitas.

Pesannya sederhana namun tegas: tulus, rendah hati, tanpa batas.

Amin.

P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor – Soverdi Oebufu

banner 325x300
error: Content is protected !!