banner 728x250

Tiga Malaikat, Satu Misi: JPIC Tak Boleh Berjuang Sendirian Melawan Ketidakadilan

banner 120x600
banner 468x60

OEBUFU, 29 September 2026 — Perjuangan menegakkan keadilan dan membela martabat manusia tidak mungkin dikerjakan seorang diri. Di tengah persoalan perdagangan manusia, migrasi non-prosedural, kemiskinan, konflik agraria, bencana, hingga penyalahgunaan kekuasaan, para pejuang JPIC membutuhkan keberanian, jejaring, komunikasi, dan pendampingan yang berjalan bersama.

Pesan itu menjadi refleksi P. Domi Kadju Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, bertepatan dengan Pesta Malaikat Agung Mikael, Gabriel dan Rafael, Selasa (29/9/2026).

banner 325x300

Mengangkat tema “Tiga Nama, Tiga Tugas, Satu Misi: Melayani Kerajaan Allah yang Kekal (Misio Dei)”, P. Domi merefleksikan bacaan Daniel 7:9-10,13-14 dan Yohanes 1:47-51 sebagai panggilan bagi para pejuang JPIC untuk membangun kerja bersama dalam memperjuangkan keadilan.

“Kamu akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.” (Yoh 1:51)

Menurut P. Domi, penglihatan Nabi Daniel tentang Anak Manusia yang menerima kekuasaan, kemuliaan dan kerajaan yang kekal menjadi gambaran tentang tujuan akhir perjuangan: kedaulatan Allah, bukan kedaulatan uang, kekuasaan maupun perdagangan manusia.

Tiga Malaikat, Tiga Karakter Perjuangan

P. Domi menggambarkan Mikael, Gabriel dan Rafael sebagai tiga figur yang dapat menjadi inspirasi bagi gerakan JPIC.

Mikael ditempatkan sebagai gambaran keberanian menghadapi kekuatan kejahatan dan ketidakadilan.

Bagi JPIC, semangat Mikael berarti keberanian untuk menghadapi ketidakadilan struktural serta berbagai persoalan yang menindas kelompok rentan.

Gabriel menjadi simbol komunikasi dan jejaring. Sebagai pembawa kabar, Gabriel mengingatkan bahwa perjuangan keadilan membutuhkan kemampuan membangun komunikasi, advokasi dan dialog dengan berbagai pihak.

Sedangkan Rafael menjadi gambaran pendampingan dan penyembuhan. JPIC, menurut P. Domi, tidak cukup hanya berbicara mengenai keadilan, tetapi juga harus hadir bersama mereka yang mengalami luka dan trauma.

“JPIC butuh semangat Mikael: keberanian untuk melawan ketidakadilan. JPIC juga membutuhkan semangat Gabriel dalam membangun komunikasi dan jejaring, serta semangat Rafael dalam mendampingi dan menyembuhkan mereka yang terluka,” demikian inti refleksinya.

Karena itu, menurut P. Domi, Mikael tanpa Gabriel dan Rafael akan menjadi perjuangan yang pincang.

Ia mencontohkan pertemuan di Rumah Jabatan Wakil Bupati Belu yang melibatkan pemerintah daerah, unsur pekerjaan umum, pertanian, Politani, Tani Merdeka, Timor Farm, LSM dan SVD sebagai gambaran pentingnya kerja lintas pihak.

“Jangan Berjuang Sendirian”

P. Domi juga mengajak para pejuang JPIC untuk tidak kehilangan optimisme ketika berhadapan dengan persoalan yang tampak buntu.

Ia merefleksikan perkataan Yesus kepada Natanael dalam Injil Yohanes 1:47-51: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”

Bagi P. Domi, Natanael menjadi gambaran pribadi yang jujur dan tidak menjalankan perjuangan demi kepentingan pribadi.

Janji Yesus tentang “langit yang terbuka” kemudian dimaknai sebagai sumber pengharapan bagi mereka yang memperjuangkan keadilan.

Perjuangan JPIC, katanya, dapat menghadapi jalan buntu, kelelahan bahkan kekecewaan. Namun kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti.

“Ketika advokasi untuk migran mentok, ketika lahan tidur belum juga menghasilkan, ketika keadilan terasa tiada bertepi—ingatlah janji itu. Langit tetap terbuka,” demikian refleksinya.

Natanael dan Harapan yang Tidak Pernah Terlambat

P. Domi juga mengajak para pejuang JPIC belajar dari Natanael yang semula skeptis sebelum akhirnya mengalami perubahan setelah bertemu Yesus.

Bagi dia, kisah tersebut menjadi pesan bahwa keraguan dan kelelahan merupakan bagian dari perjalanan, tetapi harapan tidak boleh dihentikan.

Hal-hal baik, katanya, dapat muncul dari tempat dan situasi yang tidak selalu diperkirakan.

Karena itu, perjuangan keadilan harus terus dilakukan dengan membangun kerja sama dan jejaring.

“Jangan berjuang sendirian. Bangunlah team work. Bangunlah jejaring,” serunya.

Menurut P. Domi, kerja bersama bukan bentuk kesombongan spiritual, melainkan kebutuhan bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin melayani sesama.

Ia sekaligus mengingatkan bahwa jabatan dan kekuasaan semestinya digunakan untuk pelayanan, bukan menjadi sarana mengambil keuntungan bagi diri sendiri maupun keluarga.

“Kerajaan yang dilihat Daniel adalah Kerajaan di mana semua suku dan bangsa melayani bersama,” tegasnya.

Pada akhirnya, refleksi Pesta Malaikat Agung tersebut menjadi ajakan bagi para pejuang JPIC untuk memadukan keberanian Mikael, komunikasi Gabriel dan penyembuhan Rafael dalam satu gerakan pelayanan.

Selama perjuangan keadilan masih berlangsung, pesan P. Domi sederhana namun tegas: jangan berjalan sendiri, jangan kehilangan harapan, dan jangan berhenti memperjuangkan martabat manusia.

Selamat Pesta Malaikat Agung Mikael, Gabriel dan Rafael.

 

Editor : Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!