Kefamenanu ,Radar Perbatasan
— Suasana penuh khidmat dan sukacita iman mewarnai perayaan Misa Minggu, 27 September 2026, di Kapela St. Mikhael Papin, Paroki Naesleu, Kefamenanu. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Frengky Atitus, Pr., dengan warna liturgi hijau, dalam nuansa Hari Minggu Biasa XXVI.

Perayaan Ekaristi semakin semarak melalui pelayanan musik dan koor dari Kelompok Umat Basis (KUB) Bunda Penolong Abadi, di bawah koordinasi Paskalis Senu, S.Pd.
Lantunan nyanyian liturgi dibawakan dengan penuh penghayatan. Dua dirigen, Alexandra Opat dan Erga Ussubun, tampil mantap memimpin umat dalam pujian, sehingga suasana perayaan terasa semakin hidup dan membawa umat masuk lebih dalam ke dalam misteri Ekaristi,dengan iringan organis V.Sintu Lopes.

Dalam homilinya, Romo Frengky Atitus mengajak umat untuk tidak berhenti pada kata-kata tentang iman, melainkan menghadirkan iman melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Mengangkat pesan dari Injil Matius 21:28-32 perumpamaan tentang dua anak di kebun anggur, Romo Frengky mengajak umat bercermin pada sikap anak yang pada awalnya menolak perintah ayahnya, tetapi kemudian bertobat dan pergi melaksanakan pekerjaan yang diminta.
“Jangan biarkan rasa bersalah memenjarakan kita. Jangan pula membiarkan diri merasa paling benar atau merasa diri paling suci,” pesan Romo Frengky dalam kotbahnya.
Menurutnya, manusia bisa jatuh dalam kesalahan, tetapi kesalahan bukanlah akhir dari perjalanan hidup. Yang terpenting adalah keberanian untuk bangkit, bertobat, memperbaiki diri dan kembali melakukan kehendak Allah.
Karena itu, umat diajak mengajukan pertanyaan sederhana namun mendalam kepada diri sendiri:
“Bagaimana kita mengikuti ketaatan anak pertama?”
Pertanyaan tersebut bukan sekadar untuk dijawab dengan kata-kata, tetapi diwujudkan dalam tindakan. Sebab, iman yang hidup tidak hanya terdengar dari mulut, tetapi terlihat melalui kasih, pelayanan, pengampunan, kepedulian dan kerendahan hati.
Pesan tersebut semakin kuat melalui Bacaan Kedua dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi 2:1-11, yang menghadirkan Kristus sebagai teladan kerendahan hati.
Romo Frengky menegaskan bahwa kerendahan hati Kristus merupakan kunci untuk meninggalkan ego-ego manusia.
“Kita diminta untuk rendah hati selalu,” tegasnya.
Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan kesediaan untuk membuka hati, mengakui kekurangan, menerima sesama, serta menempatkan kasih dan kehendak Tuhan di atas kepentingan diri sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, sikap merasa paling benar dapat menjadi tembok yang menjauhkan manusia dari sesama. Sebaliknya, kerendahan hati membuka pintu rekonsiliasi dan memungkinkan seseorang melihat bahwa setiap manusia sedang berjuang dalam proses pertobatannya masing-masing.
Bacaan pertama dari Yehezkiel 18:25-28 juga mengingatkan bahwa Allah menghendaki pertobatan yang sungguh-sungguh. Sementara Mazmur Tanggapan menggemakan doa:
“Ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan.”
Pesan liturgi Minggu ini akhirnya membawa umat pada sebuah kesadaran penting: Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita katakan, tetapi juga apa yang kita lakukan.
Seorang manusia mungkin pernah berkata “tidak”, tetapi masih memiliki kesempatan untuk berubah menjadi “ya” melalui tindakan. Sebaliknya, kata “ya” yang indah di bibir menjadi tidak berarti apabila tidak pernah diwujudkan dalam perbuatan.
Ekaristi yang Mengutus
Perayaan Misa di Kapela St. Mikhael Papin tidak berhenti ketika berkat penutup diberikan. Ekaristi justru menjadi awal bagi umat untuk kembali ke tengah keluarga dan masyarakat sebagai pembawa damai, kasih dan kebaikan.
Misa berjalan dengan baik berkat dukungan berbagai pihak, terutama pelayanan liturgi dan koor KUB Bunda Penolong Abadi yang dengan penuh dedikasi mempersembahkan talenta mereka untuk kemuliaan Tuhan.
Di balik suara gitar, organ, nyanyian dan kepemimpinan para dirigen, tersimpan sebuah kesaksian sederhana bahwa Gereja hidup karena umat bersedia melayani.
Pada akhirnya, pesan Injil Minggu ini terasa seperti cermin bagi setiap orang Katolik:
Jangan hanya mengatakan “ya” kepada Tuhan dengan bibir. Katakan “ya” melalui kehidupan.
Ketika pernah jatuh, bangkitlah.
Ketika pernah salah, bertobatlah.
Ketika merasa paling benar, belajarlah merendahkan hati.
Dan ketika ego mulai meninggi, pandanglah kembali Kristus yang memilih jalan kerendahan hati.
Sebab, iman bukan hanya tentang apa yang kita katakan kepada Tuhan, tetapi tentang apa yang kita lakukan bagi Tuhan dan bagi sesama.
Dari Kapela St. Mikhael Papin, pesan itu menggema sederhana namun dalam:
“Jadilah pelaku Sabda. Rendahkan hati. Tinggalkan ego. Dan jadikan hidup sebagai kesaksian kasih Kristus.”
Semoga berita ini dapat menjadi renungan sekaligus kesaksian iman bagi umat, khususnya bahwa pertobatan bukan sekadar ucapan, melainkan keberanian untuk mengubah hidup melalui perbuatan nyata.
Vinsentius Sintu Lopes

















