banner 728x250

Hari Migran Sedunia, P. Domi SVD: Migran Tak Butuh Khotbah, Mereka Butuh “Kebun Anggur” yang Nyata

banner 120x600
banner 468x60

KUPANG — Perumpamaan dua anak dalam Injil Matius 21:28-32 pada Minggu Biasa XXVI, 27 September 2026, menghadirkan teguran yang tajam: Tuhan tidak menilai manusia dari seberapa saleh kata-katanya, melainkan dari kesediaannya melakukan kehendak Bapa.

Pesan itu menjadi semakin kuat ketika Gereja memperingati Hari Migran Sedunia. Bagi P. Domi K. Dheo, SVD, Injil tersebut tidak cukup direnungkan di dalam gereja. Ia harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata bagi para migran, terutama mereka yang berada dalam situasi rentan.

banner 325x300

Dalam renungan bertajuk “Renungan Jiwa”, P. Domi mengangkat perumpamaan tentang dua anak yang diperintahkan ayahnya bekerja di kebun anggur. Anak pertama berkata tidak, tetapi kemudian pergi. Anak kedua mengatakan ya, namun tidak melaksanakan perintah tersebut.

“Siapa yang melakukan kehendak Bapa?” tanya Yesus.

Jawabannya adalah anak yang akhirnya pergi bekerja.

P. Domi menilai, pesan tersebut sekaligus membalik logika kesalehan manusia. Mereka yang secara sosial dan keagamaan dianggap berdosa justru dapat lebih dahulu masuk Kerajaan Allah ketika mereka mau percaya dan bertobat.

“Di hadapan Tuhan, tidak ada yang mulia karena jubahnya. Kita ini hanya beda jenis dosa dan salahnya saja.”

Menurutnya, pertobatan menjadi inti pesan Injil. Bukan panjangnya doa atau banyaknya kata-kata kesalehan yang menjadi ukuran utama, tetapi keberanian untuk menyadari kesalahan dan berbalik melakukan kehendak Tuhan.

“Jika anda tidak bisa bersaing dengan orang-orang soleh dalam ibadat dan doa-doanya yang panjang, berlombalah dengan pendosa dalam taubatnya,” tulisnya.

JPIC dan Cermin Ketidakadilan

Refleksi tersebut kemudian diarahkan pada perjuangan Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC).

P. Domi mengingatkan bahwa perjuangan menegakkan keadilan tidak boleh berhenti pada keberanian mengkritik ketidakadilan di luar komunitas sendiri.

Ia mengajukan pertanyaan yang lebih sulit: apakah JPIC juga berani melakukan koreksi ketika menemukan persoalan ketidakadilan di lingkungan sendiri?

Menurutnya, keberanian memperjuangkan keadilan harus dimulai dari lingkungan terdekat. Termasuk ketika terdapat persoalan penyalahgunaan kuasa, pengelolaan uang yang tidak benar, pembungkaman, atau ketimpangan dalam kehidupan komunitas.

“JPIC yang hanya berani melawan ketidakadilan di luar, tapi bungkam terhadap ketidakadilan di dalam, belum bertobat,” tulis P. Domi.

Ia menegaskan, tujuan koreksi bukan untuk menghancurkan seseorang, tetapi membuka ruang pertobatan sekaligus menegakkan keadilan.

Hari Migran Sedunia dan Tangisan di Balik Migrasi

Pesan tersebut kemudian bersentuhan langsung dengan realitas migrasi.

P. Domi menyoroti para migran non-prosedural yang berangkat meninggalkan kampung halaman karena tekanan kehidupan dan keterbatasan pilihan ekonomi.

Sebagian pergi ke Malaysia untuk bekerja di perkebunan sawit, kilang, maupun sektor lainnya. Dalam situasi tertentu, mereka menghadapi risiko penipuan, kekerasan, persoalan ketenagakerjaan, hingga kematian.

Karena itu, menurut P. Domi, peringatan Hari Migran Sedunia tidak boleh berhenti pada misa dan khotbah mengenai kasih kepada sesama.

“Mereka tidak butuh khotbah. Mereka butuh kebun anggur yang nyata,” tegasnya.

“Kebun anggur” yang dimaksud bukan sekadar simbol dalam Injil, tetapi gambaran tentang tindakan nyata yang memberikan harapan dan pilihan hidup kepada mereka yang berada dalam situasi rentan.

Hadir Sebelum Mereka Berangkat

Bagi migran non-prosedural, JPIC perlu hadir bahkan sebelum keberangkatan.

P. Domi mendorong edukasi mengenai bahaya perdagangan orang, risiko migrasi non-prosedural, serta pentingnya jalur migrasi yang aman melalui paroki dan kampung-kampung.

Sementara bagi migran yang mengalami kekerasan atau persoalan hukum, ia menekankan pentingnya rumah aman, bantuan hukum, dan pendampingan agar hak-hak mereka dapat diperjuangkan.

“JPIC harus menjadi pengacara bagi mereka yang tidak punya pengacara,” tulisnya.

Bagi keluarga migran yang meninggal dunia, pendampingan juga tidak boleh berhenti ketika jenazah tiba di kampung halaman.

Menurut P. Domi, perjuangan harus dilanjutkan hingga hak-hak keluarga, termasuk persoalan asuransi, dapat diperjuangkan dan dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.

Dari Migrasi Menuju “Kebun Harapan”

Salah satu gagasan yang diangkat dalam refleksi tersebut adalah pentingnya reintegrasi mantan migran, termasuk mereka yang mengalami persoalan migrasi dan tidak lagi memiliki banyak pilihan setelah kembali ke tanah air.

P. Domi menghubungkannya dengan pemanfaatan lahan tidur SVD di wilayah Belu, termasuk Mafuas, Halikelen, Fatutomak, dan Nenuk, sebagai ruang untuk membangun kembali harapan melalui pengolahan lahan.

Gagasan tersebut menempatkan tanah bukan hanya sebagai aset, tetapi sebagai bagian dari proses reintegrasi: memberi ruang kepada mereka yang kembali dari migrasi untuk memperoleh kesempatan mengembangkan kehidupan di daerah asal.

Di titik ini, “kebun anggur” dalam Injil mendapatkan makna baru.

Bukan hanya tempat seseorang membuktikan ketaatannya kepada Tuhan, tetapi juga ruang nyata untuk membangun kehidupan, memulihkan martabat, dan membuka pilihan bagi mereka yang selama ini terdesak untuk mencari penghidupan di luar negeri.

Dari Altar ke Ladang Perbatasan

Pada akhirnya, P. Domi mengajak Gereja dan JPIC untuk bergerak dari kata-kata menuju tindakan.

Dari altar menuju ladang-ladang di wilayah perbatasan. Dari khotbah menuju pendampingan migran. Dari keprihatinan terhadap jenazah yang pulang menuju perjuangan memastikan hak keluarga. Dan dari migrasi menuju penciptaan sumber penghidupan yang memungkinkan masyarakat membangun masa depan di tanah sendiri.

“Injil hari ini mengajak kita dari ‘berkata Ya’ di altar, menuju ‘bekerja di kebun anggur’ di ladang-ladang perbatasan, di bandara El Tari saat menjemput jenazah, di sawah-sawah Belu dan Malaka bersama mantan migran,” tulisnya.

Sebab, bagi P. Domi, ukuran keberpihakan kepada migran bukan semata-mata seberapa sering Gereja berbicara tentang mereka.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: seberapa nyata Gereja hadir agar mereka memiliki pilihan hidup yang lebih aman dan bermartabat di tanah sendiri.

“Tuhan tidak akan bertanya berapa kali kita misa untuk migran, tetapi berapa hektar tanah yang kita olah bersama mereka agar mereka tidak perlu lagi menjadi migran.”

Tuhan memberkati.

P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor

banner 325x300
error: Content is protected !!