banner 728x250

Tim Ahli Politani Kupang Petakan 171,21 Hektare Lahan SVD Timor: Tiga Zona Disiapkan untuk Model Integrated Farming

banner 120x600
banner 468x60

BELU, — Pengembangan lahan milik Provinsial SVD Timor di Nenuk dan sekitarnya memasuki tahap berbasis data ilmiah.

banner 325x300

Tim Ahli Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani Kupang) melakukan survei pemetaan spasial dan pengambilan sampel tanah pada tiga blok lahan di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, sebagai dasar penyusunan model integrated farming berbasis agrosilvopastural.

Survei berlangsung selama tiga hari, 18–20 September 2026, meliputi Blok Nenuk, Blok Haikelen, dan Blok Fatutomak. Total luasan yang menjadi objek pengolahan data spasial mencapai 171,21 hektare, terdiri dari Nenuk 94,21 hektare, Haikelen 23 hektare, dan Fatutomak 54 hektare.

Kegiatan ini tidak sekadar memetakan batas lahan. Tim melakukan inventarisasi aset, pemetaan tutupan lahan, pengukuran kondisi topografi, tracking batas menggunakan GPS, pemindaian udara menggunakan drone UAV, serta pengambilan sampel tanah komposit untuk memperoleh gambaran awal kondisi biofisik lahan.

 

Tim Ahli dan Tim Teknis

Untuk memastikan data lapangan memiliki dasar keilmuan dan teknis yang jelas, kegiatan ini melibatkan tim ahli dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

Tim Ahli terdiri atas:
Dr. Blasius Paga S. Hut., M.Si — Ahli Sumber Daya Lahan/Team Leader.
Prof. Dr. Fransiskus Xaverius Dako, S.Hut., M.Si.
Melinda R.S. Moata, PhD.

Sementara tim teknis lapangan terdiri atas:
Fredik S. Aramak, A.Md.
Yohanes Don Bosko Doke Djo, A.Md.Hut..
Abraham Manek Luan, S.Hut..

Selain tim ahli pelaksanaan lapangan
melibatkan alumni politani,: Bruder Johni SVD bersama teman-temannya serta beberapa staf untuk membantu pembersihan jalur, membawa peralatan, serta mendukung kegiatan pengambilan sampel tanah.

Komposisi tersebut terdiri atas tenaga ahli sumber daya lahan, teknisi pemetaan, operator drone dan GIS/GPS tracker, teknisi pengambilan sampel tanah, serta tenaga lokal lapangan.

Menggunakan Drone, GPS dan Sampel Tanah

Dalam survei tersebut, tim menggunakan dua pendekatan utama, yakni pemetaan spasial dan pengambilan sampel tanah.
Pemetaan udara menggunakan drone UAV dilakukan untuk memperoleh foto udara tegak atau orthophoto, sekaligus menghasilkan data Model Digital Elevasi atau DEM/DSM.

Data tersebut kemudian dapat diolah menggunakan perangkat lunak GIS untuk menggambarkan kondisi spasial dan topografi kawasan.

Sementara tracking GPS darat digunakan untuk melakukan verifikasi batas fisik lahan, patok, akses jalan, serta titik-titik batas yang ditemukan di lapangan.

Untuk mengetahui kondisi tanah, tim melakukan composite soil sampling. Setiap lokasi diwakili sampel komposit yang berasal dari beberapa titik yang dianggap representatif berdasarkan variasi kondisi dan kelerengan lahan.

Data sampel tanah selanjutnya direncanakan untuk diuji di laboratorium guna mengetahui antara lain kandungan N-P-K, C-Organik dan KTK, serta parameter fisik-kimia tanah lainnya sesuai kebutuhan analisis.

Tiga Blok, Tiga Fungsi Pengembangan

Hasil pengamatan lapangan menunjukkan adanya perbedaan karakteristik topografi pada tiga blok lahan. Perbedaan tersebut menjadi salah satu dasar dalam penyusunan konsep zonasi pemanfaatan lahan.

Pertama, Blok Nenuk.

Blok Nenuk memiliki kondisi topografi dominan datar hingga landai dengan kisaran kemiringan 0–8 persen.

Karakteristik tersebut diarahkan sebagai Zona Pertanian Intensif, terutama untuk pengembangan tanaman pangan dan hortikultura.

Komoditas yang masuk dalam konsep awal antara lain jagung, sorgum, pisang dan cabai.

Pada zona ini juga direncanakan dukungan infrastruktur air seperti sumur bor dan embung, serta fasilitas pengolahan bahan organik berupa kompos/bokashi.

Konsep tersebut diarahkan untuk mendukung sistem pertanian yang mengintegrasikan produksi, pemanfaatan limbah dan pengembalian bahan organik ke dalam sistem usaha tani.

Kedua, Blok Halikelen.

Blok Halikelen memiliki topografi landai hingga agak bergelombang dengan kisaran kemiringan 8–15 persen.
Kawasan ini diarahkan sebagai Zona Peternakan dan Bank Pakan, khususnya untuk produksi hijauan pakan ternak atau HMT.

Jenis tanaman pakan yang disebut dalam desain awal antara lain Lamtoro Teramba, Indigofera, Rumput Odot, King Grass dan Rumput Telang.

Pengembangan zona peternakan juga diarahkan menggunakan kandang terkontrol dan penerapan teknik konservasi air, termasuk parit resapan atau silt pit.

Dukungan sumber air berupa pengadaan, peningkatan dan pemeliharaan sumur bor serta infrastruktur irigasi juga menjadi bagian dari konsep pengembangan.

Ketiga, Blok Fatutomak.

Berbeda dengan Nenuk dan Halikelen, Blok Fatutomak memiliki kondisi berbukit dengan kelerengan sedang hingga curam, termasuk area dengan kemiringan lebih dari 15 persen.

Karena karakteristik tersebut, kawasan ini diarahkan sebagai Zona Kehutanan dan Konservasi dengan pendekatan agroforestri.

Tanaman kayu yang masuk dalam konsep awal antara lain cendana, mahoni, asam jawa, beringin dan taduk, yang dapat dikombinasikan dengan hijauan pakan ternak.

Pada kawasan dengan kemiringan tinggi, tim merekomendasikan penerapan teknik konservasi tanah dan air, antara lain teras bangku/teras kredit dan strip vetiver atau tanaman berakar kuat dalam barisan untuk membantu mengurangi erosi dan run off.

Sampel Tanah Menjadi Bagian Penting

Dalam desain survei, pengambilan sampel tanah dilakukan pada ketiga blok.
Pada Blok Nenuk, tercatat 11 titik pengambilan sampel yang dikelompokkan menjadi 3 sampel komposit.

Pada Blok Halikelen, terdapat 5 titik pengambilan sampel yang dikelompokkan menjadi 2 sampel komposit.

Sedangkan pada Blok Fatutomak, terdapat 15 titik pengambilan sampel yang dikelompokkan menjadi 3 sampel komposit

Dengan demikian, desain pengambilan sampel menghasilkan 8 sampel komposit dari tiga lokasi untuk kebutuhan pengujian laboratorium.

Hasil laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk mengetahui karakteristik kesuburan tanah dan menyusun strategi pemupukan organik maupun pengembangan pakan ternak secara lebih tepat.

Mengarah pada Sistem Zero Waste Farming

Konsep pengembangan lahan tidak berhenti pada pembagian zona pertanian, peternakan dan kehutanan.
Dalam desain lanskap, tim juga memasukkan prinsip Zero Waste Farming dengan pendekatan Circular Economy.

Artinya, limbah dari satu bagian sistem diupayakan dapat dimanfaatkan kembali sebagai input bagi bagian lainnya. Prinsip 3R — Reduce, Reuse dan Recycle juga dimasukkan sebagai bagian dari konsep pengelolaan limbah.

Pengembangan sumber air menjadi bagian penting lainnya. Pada lokasi yang memiliki embung eksisting, konsep awal mencakup pengembangan, pelebaran, penataan atau pengerukan untuk meningkatkan daya tampung air, khususnya dalam menghadapi kebutuhan air pada musim kemarau.

Data GPS dan Foto Udara Masuk Tahap Pengolahan

Tim Ahli Politani Kupang menyatakan bahwa rekaman koordinat GPS, foto udara dan data sampel tanah dari Nenuk, Haikelen dan Fatutomak menjadi bahan untuk tahapan pengolahan berikutnya.

Data spasial akan diproses menggunakan perangkat lunak GIS, termasuk ArcGIS/QGIS, untuk menghasilkan Peta Layout Zonasi Akhir Integrated Farming.
Peta tersebut nantinya dapat menggambarkan batas lahan, lahan budidaya, kontur, potensi kawasan dan pemanfaatan ruang lainnya.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan lahan tidur SVD Timor diharapkan tidak dilakukan hanya berdasarkan perkiraan visual, tetapi menggunakan data spasial dan biofisik sebagai dasar perencanaan.

Estimasi Operasional Survei

Dalam laporan kegiatan, total estimasi biaya operasional survei lapangan selama tiga hari di wilayah Nenuk–Haikelen–Fatutomak tercatat sebesar Rp60.281.500.

Anggaran tersebut merupakan estimasi yang mencakup honorarium/remunerasi personel, sewa peralatan pemetaan dan sampling, akomodasi, logistik serta mobilisasi, pengujian laboratorium tanah, pengolahan data spasial dan pencetakan peta tematik.

Rinciannya terdiri dari:
Honorarium/remunerasi personel lapangan: Rp12.600.000;
Sewa peralatan pemetaan, operasional spasial dan sampling: Rp3.750.000;
Akomodasi, logistik dan mobilisasi: Rp9.750.000;
Pengujian laboratorium, pengolahan data spasial dan pencetakan peta tematik: Rp34.181.500.
Total: Rp60.281.500.

Angka tersebut dalam laporan ditempatkan sebagai perkiraan RAB operasional survei, bukan sebagai laporan realisasi pengeluaran.

Urusan dana pembiayaan perlu mendapat tempat utama demi kelancaran program ini.

Basis Ilmiah untuk Pengembangan Lahan

Survei yang dilakukan Tim Ahli Politani Kupang memberikan tahapan awal bagi rencana pengembangan lahan SVD Timor di Nenuk dan sekitarnya.

Data batas aset, topografi, tutupan lahan dan karakteristik tanah menjadi komponen penting sebelum keputusan lebih lanjut mengenai pola budidaya, infrastruktur air, konservasi tanah, peternakan maupun kehutanan ditetapkan.

Dengan pembagian awal menjadi Zona Pertanian Intensif di Nenuk, Zona Peternakan dan Bank Pakan di Haikelen, serta Zona Kehutanan dan Konservasi di Fatutomak, konsep integrated farming mulai diarahkan pada pemanfaatan lahan sesuai karakteristik biofisiknya.

Tahap berikutnya adalah pengolahan data spasial dan hasil laboratorium untuk menghasilkan layout zonasi akhir yang dapat menjadi dasar perencanaan teknis pengembangan kawasan.

Sumber: Laporan Kegiatan Survei Pemetaan Spasial dan Pengambilan Sampel Tanah — Tim Ahli Politeknik Pertanian Negeri Kupang, 18–20 September 2026.

Editor : Boni Atolan

 

banner 325x300
error: Content is protected !!