Opini –
Setiap 24 September kita berdiri tegak menyanyikan pujian untuk Ibu Pertiwi. Katanya kita negeri agraris. Hamparan sawah luas terbentang dari kaki Timor sampai ujung Sumatera. Negeri yang kaya raya akan hasil bumi, katanya.
Namun elegi panjang dan suram itu masih bercerita sama. Banyak anak Nusantara masih kekurangan beras.
Di NTT, tanah retak, air melimpah di Januari lalu hilang tanpa pamit di Juli. Di media, negeri ini bilang produksi pupuk melimpah. Namun di NTT petani berteriak pupuk langka, harga pupuk melambung. Alat pertanian melimpah di tempat lain, langka di tempat lain. Petani teriak minta pemerataan.
Musim panen tiba, harga gabah anjlok. Pengeluaran lebih tinggi dari pemasukan. Inilah litani panjang petani tanpa ujung batas.
Data BPS tidak bisa berbohong. Luas panen padi nasional pada 2024 hanya sekitar 10,05 juta hektare. Padahal daratan Indonesia 191 juta hektare. Hanya secuil yang kita tanami. Hasil Sensus Pertanian 2023 mencatat Usaha Pertanian Perorangan tinggal 29,34 juta unit, turun 7,45% dalam 10 tahun. Dari jumlah itu, 16,89 juta adalah petani gurem, yang lahannya kurang dari 0,5 hektare.
Separuh penjaga perut bangsa ini hidup pas-pasan di atas tanah yang lebih kecil dari halaman rumah orang kota. Kita minta mereka menjaga kedaulatan pangan, tetapi mereka tidak berdaulat atas tanahnya sendiri.
Jadi salahkah Ibu Pertiwi? Tidak. Salahkah anak bangsa?
Kita semua salah. Kita terlalu lama memuliakan petani di atas panggung pidato, tetapi membiarkannya kelaparan di pematang. Kita bangga swasembada di atas kertas, tetapi impor beras diam-diam. Kita bangga foto pejabat di sawah, tetapi setelah foto, pejabat pulang ke hotel ber-AC, petani kembali ke gubuk beratap seng bocor.
24 September ini mari kita menunduk dan merenung: Bagaimana perut anak bangsa, sudahkah cukup diisi dengan nasi? Sudahkah kebutuhan petani kita dicukupi?
*LALU APA JALAN KELUARNYA?*
1. Bereskan Tanahnya Dulu. Reforma agraria sejati. Beri kepastian sertifikat untuk petani gurem di Bijeli, Kuanfatu, Amanuban.
2. Pupuk Harus Sampai di Tangan. Pangkas birokrasi Kartu Tani. Kembalikan kios pupuk desa yang diawasi BUMDes dan tokoh adat. Bangun pupuk organik dari kotoran ternak.
3. Air Adalah Darah. NTT butuh ribuan embung kecil, sumur bor tenaga surya, dan irigasi tetes, bukan hanya bendungan raksasa hanya sebatas nama dan hiasan belaka tanpa manfaat untuk petani
4. Jaga Harga, Jangan Biarkan Tengkulak Jadi Raja. Bulog dan BUMDes harus jadi pembeli pertama saat panen dengan harga wajar.
5. Buat Anak Muda Bangga Jadi Petani. Beri mereka teknologi, bukan cangkul tua. Drone, traktor mini, pasar digital, dan kredit tanpa agunan.
*PUISI: JAGUNG TITI DI MEJA HARI TANI*
Sore itu nona menyapu halaman,
Debu naik pelan, seperti doa yang tak sampai,
Di lumbung, padi telah lama pergi,
Yang tinggal hanya janji yang menguning lalu gugur.
Bukit cadas masih setia di sana, kokoh menjaga kampung,
air telah pergi, mengalir jauh tak kembali,
Bapak masih mencangkul bayangannya sendiri di tanah retak,
Ibu masih menanak air mata menjadi nasi untuk anak-anaknya.
Ia yang memberi negeri ini beras,
Negeri memberinya harga yang pedas,
Ia yang menyuapi jutaan mulut anak bangsa,
Anaknya sendiri belajar menahan lapar di beranda.
Wahai angin sampaikan salam,
Kepada topi lusuh yang lebih jujur dari dasi-dasi di kota,
Selamat Hari Tani, bapakku, mamaku,
Tetaplah menanam, meski negeri kadang lupa berterima kasih.
Karena dari telapak tanganmu yang pecah-pecah itulah,
Negeri ini masih bisa menyebut dirinya: Ibu Pertiwi.
*Putra Timor dari*
*Tun Feu Bijeli*
Teras Batin
Oebufu
24 September 2026

















