Pukul 02.17 WITA. Di sudut Perpustakaan Universitas UPG 45 di Kupang yang hening, hanya satu lampu yang masih enggan padam.
Di bawahnya duduk Jen, mahasiswi Jurusan Bahasa semester 5. Jari-jarinya menari di atas keyboard. Di layar terbentang proposal bertajuk “Clean Water for Desa”. Di headset, terdengar logat Filipina dari teman diskusinya di Zoom.

Ia tidak sedang mengejar nilai A.
Ia sedang mengejar masa depan desanya.
Di era ketika dunia bergerak secepat kedipan, mahasiswa tidak lagi cukup jadi penonton.
Kita dituntut menjadi *agen pembangunan*.
Dan salah satu *senjata* paling tajam di tangan kita hari ini bernama: *Bahasa Inggris*.
*I. BAHASA: JEMBATAN ATAU TEMBOK?*
Globalisasi tidak bertanya siapa kita. Ia hanya membuka pintu.
Masalah kekeringan di Timor bisa jadi bahan sidang di Jenewa.
Kearifan lokal tenun ikat Sumba bisa jadi tren di Paris.
Tetapi semua itu akan mati di tengah jalan… jika kita bisu.
Data tidak berbohong.
*EF English Proficiency Index 2024* menempatkan Indonesia di peringkat 79 dari 116 negara, dengan skor 468 – masih tertatih di zona “Low Proficiency”.
Sementara tetangga kita, Filipina di peringkat 22. Malaysia di 25.
*BPS 2023* mencatat luka yang lebih dalam: hanya 9,35% lulusan perguruan tinggi Indonesia yang mampu menggunakan bahasa Inggris secara profesional.
Artinya? Dari 10 sarjana, hanya 1 yang bisa bicara langsung dengan dunia.
Padahal 90% pintu beasiswa bergengsi LPDP, IISMA, KNB dikunci dengan IELTS dan TOEFL.
Padahal 75% ilmu pengetahuan baru di dunia lahir dalam bahasa Inggris.
Jika kita tidak menguasainya, kita bukan hanya ketinggalan. Kita mengucilkan diri sendiri.
“Bahasa Inggris bukan untuk melupakan NTT. Ia untuk memperkenalkan NTT,”.
*II. DARI RUANG KELAS KE MEJA PERUNDINGAN DUNIA*
UU No. 12 Tahun 2012 menyebut kita: agent of change, social control, iron stock.
Tetapi *agen perubahan tanpa bahasa, ibarat pemanah tanpa anak panah*.
Lihatlah bukti nyatanya.
*Pertama: Uang untuk mimpi.*
Program YSEALI, UNDP Youth Co:Lab, AUSAID dan LPDP menaruh dana hibah sampai puluhan ribu dolar untuk ide-ide anak muda. Syarat wajibnya satu: proposal dan presentasi dalam bahasa Inggris.
*Data Kemendikbud 2023*: Program IISMA mengirim 2.364 mahasiswa Indonesia ke 104 universitas di 32 negara. 100% seleksinya pakai bahasa Inggris. Dari NTT, mahasiswa Undana dan Unwira sudah ada yang lolos dan pulang membawa kurikulum baru untuk kampusnya.
*Kedua: Suara untuk yang tak bersuara.*
Isu NTT sudah tembus dunia karena mahasiswa yang berani menulis.
Contoh: Riset mahasiswa tentang *stunting dan kekeringan di NTT* banyak dipublikasikan di jurnal internasional berbahasa Inggris dan jadi rujukan *UNICEF Indonesia* serta *World Bank*.
Tanpa bahasa Inggris, data tentang anak NTT tidak akan pernah masuk ke laporan global dan tidak akan dapat perhatian dana bantuan internasional.
Bahasa Inggris membuat tangis ibu-ibu di pedalaman Timor didengar di kantor PBB di New York.
*Ketiga: Ilmu untuk desa.*
*Data UNESCO 2024*: 80% konten pembelajaran terbaik dunia di Coursera, MIT OpenCourseWare, dan Khan Academy menggunakan bahasa Inggris.
Mahasiswa teknik dan pertanian di NTT yang mengakses materi itu, kini menerapkan di lapangan. Contoh nyata: banyak kelompok mahasiswa KKN di Sumba dan Flores yang memperkenalkan teknik drip irrigation dan solar dryer yang mereka pelajari dari modul berbahasa Inggris untuk bantu petani hadapi musim kemarau panjang.
*Bahasa Inggris tidak membuat kita jadi orang lain*.
*Ia membuat kita jadi jembatan antara luka di desa kita, dengan solusi dari dunia*.
*III. KETAKUTAN YANG HARUS KITA LAWAN*
“Takut kehilangan budaya,” kata sebagian orang.
Padahal yang kita butuhkan bukan memilih. Tetapi merangkul ketiganya.
Bahasa Daerah untuk berakar.
Bahasa Indonesia untuk bersatu.
Bahasa Inggris untuk terbang.
*Prof. Nababan* menyebutnya “trilingual untuk bertri loka”: lokal, nasional, global.
Tantangannya nyata. *Kemendikbud 2024* mencatat, hanya 32% kampus di Indonesia Timur yang punya English Language Center yang hidup.
Internet masih mahal. Dosen bersertifikat masih langka.
Tetapi kemiskinan akses bukan alasan untuk miskin aksi.
*IV. LALU, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?*
Jangan tunggu kampus berubah. Mulai dari dirimu.
1.*15 Menit Revolusi*: Satu video TEDx. Satu artikel BBC. Satu kalimat speaking ke cermin. Setiap hari.
2 *Hidupkan Kampus*: Desak BEM buat English Club. Jadikan seminar bilingual. Jadikan mading dua bahasa.
3.*Tulis, Bersuara, Bertindak*: Ajukan proposal. Buat konten. Kirim opini ke media internasional tentang stunting, kekeringan, pariwisata NTT.
Dunia tidak akan datang jika kita tidak memanggil.
Seperti kata Nelson Mandela:
“Jika kau bicara dengan seseorang dalam bahasanya, itu masuk ke kepalanya.
Jika kau bicara dalam hatinya, itu masuk ke jiwanya.”
Kita butuh keduanya.
Bahasa Indonesia untuk menyentuh jiwa rakyat.
Bahasa Inggris untuk mengguncang kepala dunia.
*PENUTUP: KATA ADALAH KUASA*
Dulu, pembangunan dibangun dengan cangkul dan semen.
Hari ini, ia dibangun dengan kata dan narasi.
Siapa yang menguasai narasi, dia yang menentukan arah.
Dan narasi global ditulis dalam bahasa Inggris.
Maka, wahai mahasiswa…
Jangan hanya belajar bahasa Inggris untuk lulus.
Belajarlah karena ada desa yang menunggumu bicara.
Belajarlah karena ada anak yang menunggumu membawa perubahan.
Belajarlah karena sejarah sedang menunggu siapa yang berani angkat suara.
*SENJATA BARU UNTUK DUNIA BARU*
Puisi untuk Para Mahasiswa.
*Biarkan aku berbicara,*
bukan dengan lidah pinjaman,
tetapi dengan suara yang memikul desaku di pundak.
*Biarkan aku menulis,*
bukan untuk terdengar seperti Barat,
tetapi agar dunia bisa membaca kekeringan di tanahku.
*Biarkan aku belajar,*
bukan untuk meninggalkan rumah,
tetapi untuk kembali membawa api, membawa alat, membawa harapan.
Karena di zaman tanpa batas ini,
Mahasiswa dengan Bahasa Inggris bukanlah pengkhianat akar.
Ia adalah jembatan.
Ia adalah *senjata*.
Ia yang akan membelah jalan
dari ruang kelas kecil di Kupang
menuju meja-meja besar tempat masa depan diputuskan.
Maka berikan aku kata.
Berikan aku keberanian.
Dan aku akan memberimu hari esok yang lebih baik.
“Biarkan aku bercerita tentang negeriku…
dan saksikan bagaimana kami bangkit..
*DATA PENDUKUNG*
1. *EF EPI 2024*: Indonesia peringkat 79/116 dunia, skor 468.
2. *BPS 2023*: Hanya 9,35% lulusan PT punya kemampuan Bahasa Inggris profesional.
3. *Kemendikbud 2023*: 2.364 mahasiswa lolos IISMA, termasuk dari NTT.
4. *UNESCO 2024*: 80% konten pembelajaran global berbahasa Inggris.
*Tentang Penulis*
Yohanes Tafaib Amloki
Mantan Guru dan Dosen
Alumni Pasca Sarjana UGM Jurusan Linguistik.
Halen S Taka
Guru Bahasa SMKN 4 Kupang
Alumni Pasca Sarjana Undana Kupang
Jurusan Linguistik.
Kupang , 16 September 2026

















