JAKARTA, RADAR PERBATASAN.COM —
Perjalanan pendidikan Kristiani Yanti Kana, atau yang akrab disapa Miss Kristin, dari keluarga petani di Sabu Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), berbuah manis.
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Kristen (PAK) Program Doktor, Program Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta itu menerima Piagam Penghargaan atas prestasi akademik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00.
Penghargaan tersebut diberikan dalam Sidang Terbuka Senat Universitas Kristen Indonesia dalam rangka penerimaan mahasiswa baru Program Doktor, Magister, dan Sarjana Tahun Akademik 2026/2027, Senin (14/9/2026).
Bagi Miss Kristin, penghargaan itu menjadi momen yang penuh haru. Ia mengaku sama sekali tidak menyangka akan menerima apresiasi atas capaian akademiknya.
“Sebagai manusia saya tidak menyangka mendapatkan penghargaan ini. Saya sungguh kaget dan terharu. Semua ini campur tangan Tuhan dan pertolongan Yesus,” ungkap Kristin.
Ia kemudian mengutip pesan dalam Kitab Yeremia tentang pentingnya mengandalkan Tuhan dalam menjalani kehidupan.
“Seperti dikatakan Nabi Yeremia, diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan dalam hidupnya,” katanya.
Dari Keluarga Petani, Menatap Dunia Akademik
Bagi Kristin, pencapaian akademik tersebut bukan sekadar angka IPK. Ia melihat ilmu yang diperolehnya sebagai tanggung jawab untuk terus memberikan manfaat bagi sesama.
Dengan disiplin ilmu Pendidikan Agama Kristen yang ditekuninya, ia berkomitmen untuk terus mengembangkan pengetahuan melalui pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, pengembangan Pendidikan Agama Kristen tidak hanya berlangsung di ruang kuliah, tetapi dapat memberikan dampak nyata bagi keluarga, sekolah, gereja, maupun perguruan tinggi.
Kristin juga menaruh perhatian pada Dampak Pendidikan Agama Kristen (DPAK).
Menurut dia, pendidikan agama Kristen memiliki peran penting dalam membentuk karakter moral, memperkuat iman, sekaligus membangun sikap toleransi di tengah masyarakat yang majemuk.
“Dampak Pendidikan Agama Kristen melalui pembentukan karakter moral, penguatan iman dan pembangunan sikap toleransi dalam masyarakat yang majemuk. Hal ini membantu mengarahkan individu hidup sesuai dengan nilai-nilai kasih dari Yesus Kristus,” ujar anak kedua dari pasangan Daud dan Yuliana tersebut.
Kristin berharap ilmu yang dikembangkan melalui pendidikan yang dijalaninya dapat menjadi berkat bagi banyak orang dan pada akhirnya membawa kemuliaan bagi Tuhan Yesus.
Pesan untuk Mahasiswa: Berdoa dan Belajar Satu Paket
Sebagai Wakil Ketua DPP Perkumpulan Flobamora Indonesia Berkarya, Kristin juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa dan generasi muda yang sedang menempuh pendidikan.
Ia meminta mahasiswa yang memilih bidang Pendidikan Agama Kristen maupun program pendidikan lainnya untuk tetap fokus mengejar cita-cita, disiplin dalam belajar, dan tidak meninggalkan doa.
“Bagi semua mahasiswa yang sedang berjuang dalam belajar, berdoa dan belajar itu satu paket,” pesannya.
Menurut Kristin, tantangan akan semakin besar bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan perkuliahan.
Karena itu, diperlukan usaha yang lebih besar untuk mengatur waktu agar kewajiban akademik tetap dapat dijalankan dengan baik.
“Bahkan jika sementara kerja sambil kuliah harus lebih effort untuk mengatur waktu dalam hal belajar,” tambahnya.
Kisah Miss Kristin menjadi gambaran bahwa latar belakang keluarga bukanlah batas bagi seseorang untuk terus menempuh pendidikan dan mengejar prestasi.
Dari keluarga petani di Sabu Timur, ia kini berdiri di ruang akademik jenjang doktoral dengan capaian IPK 4,00.
Baginya, pendidikan bukan hanya tentang meraih gelar, tetapi juga tentang bagaimana ilmu yang diperoleh dapat kembali menjadi berkat bagi sesama.
Yuven Fernandez

















