banner 728x250

*๐Ÿ”ฅMAMPUKAH KITA TETAP MENJADI PIONIR? โ€” Setelah 150 Tahun: Kembali ke Akar, Bangun Kemandirian, Menjadi Satu dalam Misi!* รทรทรทรทรท —- รทรทรทรทรทรท Petrus Salu, SVD

banner 120x600
banner 468x60

Rekoleksi Umum SVD Provinsi Timor โ€” Biara Nenuk, 7 September 2026

*โ€œBukan berapa banyak gedung yang kita tinggalkan, melainkan seberapa dalam kita berakar pada Kristus yang mengutus kita.โ€*

banner 325x300

*Besok, 8 September 2026, Gereja sejagad merayakan Pesta Kelahiran Bunda Perawan Maria. Dan Societas Verbi Divini (SVD) sejagad memilih hari mulia ini sebagai nafas ilahinya memasuki usia 151 tahun, dan Provinsi SVD Timor berusia 113 Tahun. Ini penyelenggaraan Tritunggal mahakudus.*

*I. KEMBALI KE SUMBER: DARI STEYL, DENGAN ROH YANG SAMA*

Saudara-saudara Konfrater terkasih,

Ketika kita menyebut nama Steyl, kita tidak sekadar menyebut sebuah tempat di Belanda. Kita menyebut sumber asal panggilan kita. Di sana, di bawah pimpinan Santo Arnoldus Janssen, Roh Kudus menyalakan obor yang sampai kini masih menyala di tangan kita โ€” obor misi yang dibawa dari sebuah desa kecil ke seluruh dunia, termasuk ke tanah Timor yang kita cintai ini.

Santo Arnoldus pernah berkata:

*”Pohon raksasa pun bermula dari benih yang kecil. Kita tidak mampu melakukan tugas ini dengan kekuatan sendiri, tetapi kita berharap kepada Allah yang baik, Ia akan menyelenggarakan.”*

Di Steyl, tidak ada kemewahan. Yang ada hanyalah kerendahan hati, ketergantungan penuh pada Tuhan, dan keberanian pergi ke tempat yang belum dikenal. Pendiri kita tidak menunggu undangan yang megah, tidak menunggu jaminan yang pasti. Ia mendengar panggilan: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakan Injil kepada segala makhluk.” Dan ia melangkah. Itulah pionir sejati: bukan yang membangun menara tertinggi, melainkan yang berani melangkah ke tempat yang belum ada jejaknya.

Dari Steyl, obor itu sampai ke Lahurus. Kadang saya tertegun, memikirkan: “koq 151 tahun silam, seorang Arnoldus Janssen bisa tahu bahwa di Jagad Raya ini ada sebuah tempat bernama *Lahurus di pulau Timor.”* Di sana, para pendahulu kita โ€” tanpa jalan yang mulus, tiada komunikasi secanggih sekarang, tanpa fasilitas yang lengkap โ€” menanam Benih Injil dengan keringat, air mata, dan doa, bahkan dalam proses panjang itu bertemu dengan aneka ‘kemartiran’. Mereka tidak datang untuk menguasai, melainkan untuk melayani. Mereka tidak datang untuk bergantung pada kenyamanan, melainkan untuk menanam kehidupan. Dan benih itu tumbuh menjadi Gereja Lokal yang kini berdiri tegak di Dioses Atambua, di Dioses Agung Kupang, di Dioses Agung Makasar โ€” di mana karya SVD Timor berkarya hari ini.

Santo Yosef Freinademetz, yang berangkat pertama kali ke negeri China dengan tangan nyaris kosong, meninggalkan pesan ini untuk kita semua:

*”Bahasa yang dipahami semua orang adalah kasih.”*
*”Menjadi misioner bukanlah pengorbanan yang kuperbuat, melainkan anugerah yang Allah berikan kepadaku.”*

Namun pertanyaan besar kini berdiri di hadapan kita โ€” tegas dan tak dapat dihindari: *Apakah roh yang membakar hati para pendahulu di Steyl, di Lahurus, dan di China, masih menyala di dada kita hari ini? Atau obor itu perlahan meredup, digantikan oleh kenyamanan, kebiasaan, dan kepuasan diri yang murahan?*

*II. SETELAH 150 TAHUN: BUKAN “MENARA GADING”, MELAINKAN BERAKAR PADA SABDA ALLAH.*

Para Konfrater, 150 tahun bukan sekadar angka yang patut dirayakan dengan pesta. Ia adalah cermin jujur yang menatap wajah kita.

Seringkali kita mengukur keberhasilan dengan hal-hal yang tampak: jumlah kapela dan gedung-gedung gereja, jumlah rumah komunitas, jumlah seminari, luas tanah, nama yang dikenal, jabatan yang diemban. Namun setelah 150 tahun, pertanyaan Tuhan kepada kita bukanlah: *”Berapa banyak karya besar, berapa banyak ‘menara gading’ yang telah SVD bangun?”*

Pertanyaan Tuhan jauh lebih mendasar dan menyentuh jati diri kita:

*”Apakah kalian masih berakar di dalam Sabda-Ku? Apakah Yesus Kristus โ€” Sang Sabda yang menjadi manusia โ€” masih menjadi jati diri yang pertama dan utama dalam hidup kalian?”*

Santo Arnoldus Janssen menamai serikat kita Societas Verbi Divini โ€” Serikat Sabda Allah โ€” karena ia tahu: kita tidak hidup dari gedung, tidak hidup dari tanah, tidak hidup dari nama. *Kita hidup dari Sabda Allah!*

Dalam hal ini, Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus, Pr, telah menyampaikan pesan yang sangat dalam dalam audensi bersama Provinsial dan Dewan SVD Timor, beliau pesan: “Gereja lokal tidak membutuhkan dari kita semata-mata tangan yang bekerja, melainkan hati yang berakar pada Sabda Allah.” Demikian pula Uskup Agung Kupang, Mgr. Hieronimus Pakaenoni, Pr, ketika bersama Komisi Kitab Suci sangat mendukung berdirinya Centrum Kitab Suci di Rumah Pembinaan Iman Soverdi Laat Manekan Noemeto โ€” beliau memesan “Kitab Suci tidak hanya dibaca, tetapi dihayati, dipelajari, dan diwartakan. Sangat dibutuhkan Program pelatihan Kitab Suci, dan disiapkan para fasilitator serta relawan yangn berkualitas dan berkesinambungan.” Namun di sinilah pertanyaan tajam muncul: Pada pertemuan Dewan Kegiatan Regio Nusra di Bali, Uskup Silvester San memberikan apresiasi bahwa SVD selalu mengutus konfraternya mengikuti “Program Dei Verbum” di Nemi, Roma โ€” Uskup San bertanya, “Apa dampaknya setelah pulang dari Kursus Dei Verbun?” Lantas saya melemparkan dua pertanyaan: 1). Bagaimana pengejawantahannya di komunitas- komunitas, di unit-unit karya, seperti STM Nenuk, SMA St. Arnoldus Janssen Kupang dan Unika Kupang? 2). Bagaimana Dei Verbum itu menjawabi kebutuhan nyata Gereja-gereja lokal?

Kita menghadapi kenyataan yang jujur: banyak di antara kita yang seolah lupa bahwa merayakan Ekaristi Kudud saja belumlah seluruh karya misi. Benarlah Ekaristi Kudus 100% adalah sumber dan puncak hidup, tetapi *dari sana kita harus pergi* โ€” diutus ke ladang, ke jalan, ke tengah-tengah umat yang menanti. Semangat belajar, rasa ingin tahu, keberanian membarui diri โ€” *seolah perlahan padam. Kita menjadi penjaga tempat kudus, bukan lagi pionir yang berani melangkah. Kita kembali ke biara, menunggu perintah* โ€” sementara para Uskup menatap dalam tanya diam: *”Apa lagi yang baru, yang bisa kalian tawarkan untuk menjawabi pastoral zaman digital?”*

Jika Yesus tidak lagi menjadi pusat โ€” jika pelayanan kita bukan jawaban atas panggilan-Nya, melainkan sekadar rutinitas โ€” maka seberapa pun besarnya gedung, seberapa pun luasnya tanah, seberapa pun jumlah anggota, *kita hanyalah tembok bisu tanpa fondasi. Angin sedikit saja, dan rubuhlah semuanya.*

Jati diri SVD bukanlah di dalam apa yang kita bangun, melainkan *di dalam SIAPA yang mengutus kita!*

*III. KEMANDIRIAN: Bukan Sekadar Mengurus Tanah, Melainkan Membangun Kemandirian Rohani dan Misi*

Sudah pukuhaj tahun, Pimpinan Generalat SVD, mantan Superior Pater Toni Pernia mengajak kita membangun kemandirian โ€” bahkan mendesak seluruh Provinsi dan Regio SVD di lima benua. Bantuan dari Eropa telah berhenti; kita tidak boleh lagi disuapi terus bagai anak kecil. Ini bukan hukuman, melainkan panggilan untuk tumbuh dewasa. Ini pula bukan kutukan, melainkan sebuah universitas kehidupan termahal hendak “meraba alam sekaligus meraba Tuhan.” Inilah implementasi nyata “Ora et labora.”; dengan kata lain, boleh dibilang, inilah Inkarnasi Sejati: “Sabda Menjadi Daging.”

Namun kemandirian sejati bukan sekadar mengelola ratusan hektare tanah, mendirikan sekolah atau asrama. Tentu semua itu penting โ€” tetapi itu hanya kulit luarnya. Kemandirian sejati berakar pada hal-hal yang jauh lebih dalam, saya menawarkan empat akar kemandirian:

โœ… *Kemandirian rohani* โ€” tidak menunggu disuruh, tidak menunggu SK dari Provinsial dulu, tidak tunggu ada modal, tetapi mendengar panggilan Tuhan sendiri dan melangkah!
โœ… *Kemandirian pemikiran* โ€” hadiah gratis terbesar dan termahal dari Tuhan kepada manusia adalah Otak, apalagi semua imam dan bruder pernah melintasin proses formasi dan pendidikan akademik/spiritual sampai rambut uban, berani bertanya, berani belajar,, berani menciptakan cara-cara baru mewartakan Injil bagi manusia zaman ini.
โœ… *Kemandirian inisiatif* โ€” tidak menunggu para Uskup menawarkan peluang dan pekerjaan, melainkan terus menerus mendatangi mereka dan berkata: “Inilah yang kami lihat, inilah yang ingin kami kerjakan bersama โ€” mari maju bersama.”
โœ… *Kemandirian ekonomi yang bermakna* โ€” mengolah tanah, membuka karya, bukan sekadar demi perut sendiri, melainkan agar misi dapat berjalan bebas, tanpa ikatan, tanpa rasa takut kekurangan. Hasil tanah, hasil pendidikan, hasil pelayanan โ€” semuanya merupakan sarana agar Injil sampai ke tempat yang belum terjangkau.

Tanah yang kita miliki bukan warisan untuk dinikmati, melainkan ladang misi. Setiap jengkal yang dikelola, setiap talenta yang dikembangkan โ€” tujuannya satu: agar kita tidak bergantung pada siapa pun selain Tuhan, sehingga tangan kita bebas melayani siapa saja tanpa pamrih.

Kemandirian berarti: kita tidak lagi meminta arah, tetapi kita yang menawarkan arah. Kita bukan sebagai tamu yang menumpang, melainkan sebagai rekan sekerja yang siap berjuang bahu-membahu.

*IV. SERATUS TAHUN MINGGU MISI SEDUNIA: Satu Dalam Kristus, Bersatu Dalam Misi*

Bulan Oktober 2026, Gereja Universal merayakan peristiwa besar: 100 Tahun Minggu Misi Sedunia dengan tema:

“One In Christ, United In Mission — Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi”

Ini bukan sekadar perayaan kenangan. *Ini panggilan mendesak bagi kita* โ€” Serikat Misi yang lahir dari semangat universal โ€” untuk menengok ke dalam diri sendiri:

*Apakah “pastoral kehadiran” para pendahulu masih hidup di antara kita? Apakah semangat kehadiran yang dirasakan rakyat โ€” yang membuat nama SVD dicintai dan dihormati โ€” masih terasa hari ini?*

Pater Edu Dosi pernah mengingatkan: “Kita ini memiliki begitu banyak konfrater hebat di Provinsi Timor.” Lalu mengapa sumbangsih dan kreativitas mereka belum tampak sepenuhnya? Apa kendalanya?

Jujur kita akui:

– Rasa memiliki terhadap Serikat semakin lemah.
– Persaudaraan dan hidup berkomunitas melemah.
– Saling mencurigai, bukan saling menguatkan.
– Fokus bergeser ke diri sendiri dan kesenangan pribadi โ€” hedonisme yang perlahan merayap.
– Ada yang sibuk dengan proyek pribadi, sulit diatur.
– Ada yang diberi kepercayaan, namun menyalahgunakannya sehingga mengorbankan kemuliaan dan nama baik Serikat.

Di sinilah pesan sederhana Bruder Beatus bergema sangat kuat:

“Para pimpinan terdahulu telah membangun banyak โ€” itu sudah cukup. Sekarang, marilah kita membangun persaudaraan yang sejati dan manusiawi.”

Satu dalam Kristus berarti: tidak ada yang lebih senior, tidak ada yang lebih muda, tidak ada yang “tidak mampu” โ€” semuanya sama-sama diutus. Tidak ada feodalisme, tidak ada ambisius, tidak ada pencitraan โ€” semuanya sama-sama hamba yang diberi tugas berbeda.

Bersatu dalam misi berarti: tidak bekerja sendiri-sendiri, tidak bekerja sembunyi-sembunyi. Imam tidak sendiri, Bruder tidak sendiri, Rektorat tidak single fighter. Provinsial dan Dewannya tidak sendiri. Kita saling membuka, saling menguatkan โ€” para senior membagi pengalaman, para muda membawa semangat baru. Bersama-sama mendatangi para Uskup: *”Kami datang bukan membawa kepentingan sendiri, melainkan membangun Gereja yang satu โ€” bersama-sama.”*

*V. PERTANYAAN TERAKHIR YANG KITA TINGGALKAN DI HADAPAN TUHAN*

Sama saudara terkasih, ketika kita pulang dari pertemuan ini, pertanyaan besar ini harus tetap bergema di hati masing-masing:

Setelah 150 tahun SVD sejagad dan 113 tahun SVD Timor โ€” *apakah SVD Timor masih menjadi pionir? Atau kita hanya menjadi penjaga kenangan masa lalu?*

– *Pionir tidak berpuas diri.* Ia terus berjalan.
– *Pionir tidak takut berubah.* Ia berani membarui diri.
– *Pionir tidak menunggu dipanggil.* Ia yang melangkah mendahului.
– *Pionir tidak bergantung pada kekuatan lain.* Ia berdiri tegak, mandiri, bebas โ€” demi Injil Yesus Kristus, Sang Pionir Sejati.
– Pionir dikritik sepanjang saat sesudah ia berkreasi, melakukan sesuatu. Ia dengar semua cemoohan dan terus berlangkah lebih meningkat, karena ia tahu diri dan tahu tatakrama: Ia adalah penyambung lidah Allah dan lidah manusia.

Steyl ada di dalam hati, bukan sekadar dalam sejarah. Lahurus di lereng Gunung Lakaan ada di dalam semangat, bukan sekadar dalam kenangan. Roh yang mengutus Arnoldus, Yosef, dan para pendahulu kita โ€” Roh yang sama, tidak berubah, tetap menyala hari ini โ€” menantang kita:

Mulai HARI INI, di sini, di Timor, di Nenuk โ€” mari kita kembali menjadi pionir.
Kembali ke akar. Tegakkan kemandirian. Bangun persaudaraan. Buka lembaran baru. Dan maju bersama โ€” satu dalam Kristus, bersatu dalam misi โ€” sampai ke ujung bumi.

Santo Arnoldus Janssen, Santo Yosef Freinademetz, para pendahulu kita di Lahurus, dan Bunda Maria Ratu Misi, mendampingi langkah kita.

Ad Multos Annos!

banner 325x300
error: Content is protected !!