Opini –
Ada saat ketika sebuah organisasi tidak cukup hanya memilih ketua. Ada saat ketika organisasi harus memilih arah sejarahnya.
Musyawarah Besar VII Perkumpulan Keluarga Nusa Tenggara Timur (PK NTT) Kota Batam yang akan berlangsung di Hotel Golden View, Batam, Sabtu, 12 September 2026, karena itu seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai agenda pergantian kepengurusan.
Mubes ini mestinya menjadi momentum untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:
PK NTT Batam hendak menjadi organisasi seperti apa dalam empat tahun ke depan?
Informasi mengenai pelaksanaan Mubes VII menunjukkan bahwa agenda utama forum tersebut adalah memilih Ketua Umum baru setelah berakhirnya periode kepengurusan 2022–2026. Organisasi ini juga menaungi 22 paguyuban kabupaten/kota NTT di Batam.
Tiga nama yang disebut sebagai kandidat adalah M. Agung Teibang, Dominggus R. Woge, dan Edward Kamaling, SH., MH.
Namun, di atas ketiga nama itu ada satu hal yang jauh lebih penting: masa depan organisasi.
Sebab, siapapun yang terpilih bukan hanya akan menerima jabatan. Ia akan menerima mandat untuk mengelola sebuah kekuatan sosial yang besar, heterogen, dan memiliki hubungan emosional yang kuat dengan tanah asalnya: Nusa Tenggara Timur.
Tema Mubes VII — “Bersatu dalam Musyawarah, Solid dalam Persaudaraan, Berkarya untuk Diaspora NTT yang Lebih Maju dan Bermartabat” — sesungguhnya mengandung tiga kata kerja politik-organisasi yang sangat penting: bersatu, solid, dan berkarya.
Tetapi tema tidak boleh berhenti sebagai slogan di spanduk.
Tema harus diterjemahkan menjadi agenda kerja, sistem organisasi, program konkret dan ukuran keberhasilan. ( Bersambung )

















