banner 728x250

TEGURAN ADALAH BAHASA KASIH DARI STASI TUBMAS; KEFAMENANU MENGGEMA AJAKAN UNTUK MENYELAMATKAN SESAMA

banner 120x600
banner 468x60

Kefamenanu,RADAR PERBATASAN
Minggu, 6 September 2026 —

Kasih tidak selalu hadir dalam bentuk pelukan dan kata-kata manis. Dalam situasi tertentu, kasih justru diwujudkan melalui teguran yang disampaikan dengan bijaksana. Meskipun terasa pahit, teguran tersebut dapat lahir dari kepedulian dan keinginan untuk menyelamatkan sesama.

banner 325x300


Pesan tersebut menjadi salah satu pokok permenungan dalam Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XXIII di Kapela St. Balthasar TUBMAS (Tubuhue Maslete), Paroki St. Yohanes Pemandi Naesleu, Kefamenanu, TTU , NTT Minggu (6/9/2026).


Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Engel Nahak,Pr. Dalam perayaan tersebut, KUB Santa Sisilia, Lingkungan Sta. Agatha, dibawah komando Frans Meni turut berpartisipasi aktif dalam pelayanan liturgi melalui koor yang mendukung suasana peribadatan. Pelayanan musik liturgi juga diiringi oleh organis Vinsentius Sintu Lopes jurnalis Radar Perbatasan turut membantu umat memasuki suasana doa dan permenungan.

Misa ini sekaligus menjadi pembuka rangkaian Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026, dengan tema nasional:

“Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.”

Dalam konteks perayaan tersebut, umat diajak merenungkan tema “Kasih yang Bertanggung Jawab” atau “Menegur dengan Kasih.”

Sabda Tuhan melalui Injil Matius 18:15-20 mengingatkan umat akan pentingnya koreksi persaudaraan. Ketika seorang saudara melakukan kesalahan, ia tidak seharusnya langsung dipermalukan atau dijatuhkan di hadapan banyak orang. Ia terlebih dahulu perlu ditegur secara pribadi dan penuh kasih, dengan tujuan agar menyadari kesalahannya serta kembali ke jalan yang benar.

“Tidak Semua Orang Bisa Menegur”
Dalam homilinya, Romo Engel

Nahak,Prnmengajak umat memandang teguran bukan sebagai bentuk kebencian, melainkan sebagai wujud tanggung jawab terhadap kehidupan dan keselamatan sesama.

“Tidak semua orang bisa menegur kesalahan orang lain. Namun, kita semua pernah ditegur oleh orang lain dengan cara yang berbeda,”tandas Romo Engel.

Pertanyaan penting yang kemudian diajukannya adalah: Bagaimana sikap kita ketika menegur, dan bagaimana sikap kita ketika ditegur?

Menurut Romo Engel, ketika seseorang melakukan kesalahan, teguran hendaknya disampaikan berdasarkan hukum cinta kasih, bukan untuk mempermalukan, menghakimi, atau merendahkan martabat orang tersebut.
Teguran yang benar bukanlah batu yang dilemparkan kepada orang yang jatuh, melainkan tangan yang diulurkan agar seseorang dapat berdiri kembali.

“Jika ada orang bersalah, kita menegurnya dalam hukum cinta kasih guna menyelamatkan orang itu agar tidak jatuh lagi ke dalam dosa yang sama.”

Karena itu, lanjut Romo Engel, mengasihi seseorang berarti berani menunjukkan kepedulian terhadap keselamatannya.
“Jika kita mengasihi, berarti kita berusaha menegurnya dengan kasih. Itulah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.”

Belajar dari Nabi Natan

Dalam homilinya, Romo Engel juga mengangkat kisah dalam 2 Samuel 12, ketika Nabi Natan menegur Raja Daud atas kesalahannya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa orang yang sungguh-sungguh mengasihi tidak akan membiarkan saudaranya terus berada dalam kesalahan.

Teguran Nabi Natan tidak lahir dari kebencian terhadap Daud. Sebaliknya, teguran itu menjadi suara hati yang mengantar Daud kepada kesadaran, penyesalan, dan pertobatan.
Dari kisah tersebut, umat diajak memahami berbagai bentuk teguran dalam kehidupan bersama.

Teguran fraternal, yaitu teguran sebagai saudara yang disampaikan dengan hati penuh kasih.

Teguran komunal, yaitu ketika komunitas bersama-sama mengingatkan anggotanya agar tetap berjalan dalam kebenaran dan menjunjung nilai-nilai kehidupan bersama.
Ketika teguran manusia tidak mampu menyentuh hati seseorang, masih ada satu kekuatan yang tidak boleh diabaikan: doa.
Mendoakan seseorang yang sedang jatuh bukan berarti membenarkan kesalahannya.

Sebaliknya, doa merupakan bentuk kasih yang menyerahkan proses perubahan hati seseorang kepada Tuhan.

Menegur Tanpa Merendahkan, Mengasihi Tanpa Menghakimi

Pesan Injil hari ini tetap relevan dalam kehidupan masyarakat dan komunitas dewasa ini.

Di tengah dunia yang mudah menghakimi, mempermalukan, dan menyebarluaskan kesalahan orang lain, Gereja mengajak umat menghadirkan cara yang berbeda: menegur dengan kasih, mengoreksi dengan kerendahan hati, dan mendoakan dengan ketulusan.
Tujuan teguran bukanlah membuat seseorang merasa kalah.

Tujuan teguran adalah membantu seseorang menemukan jalan pulang.

Kasih yang sejati bukanlah kasih yang membiarkan kesalahan terus berkembang. Kasih yang sejati berani berkata:

“Saudaraku, engkau sedang berjalan di jalan yang salah. Mari, kita kembali bersama.”
Dalam terang Sabda Tuhan hari ini, umat juga diingatkan bahwa kasih merupakan pemenuhan hukum Taurat. Kasih tidak berorientasi pada kemenangan atas orang lain, melainkan pada keselamatan bersama.

Karena itu, pesan Romo Engel menjadi ajakan yang sederhana sekaligus mendalam:
“Marilah kita mempromosikan teguran yang berlandaskan cinta kasih.”

Bukan teguran yang melukai, melainkan teguran yang menyembuhkan.

Bukan teguran yang mempermalukan, melainkan teguran yang memulihkan.
Bukan teguran yang merenggangkan persaudaraan, melainkan teguran yang membawa seseorang kembali ke dalam pelukan kasih Tuhan.

Ketika ditegur, semoga kita tidak terburu-buru membangun tembok pembelaan diri.
Sebab terkadang, Tuhan menyampaikan suara-Nya melalui teguran seorang saudara.
Dari altar sederhana Kapela St. Balthasar TUBMAS, umat kembali diingatkan bahwa menjadi saudara bukan hanya berarti berjalan bersama ketika segala sesuatu berjalan baik. Menjadi saudara berarti berani menjaga, mengingatkan, menegur, dan mendoakan ketika salah satu dari kita mulai tersesat.

Kasih yang bertanggung jawab adalah kasih yang berani menyampaikan kebenaran dengan hati yang penuh kasih.

 

Jurnalis (V.Sintu Lopes)

banner 325x300
error: Content is protected !!