Maumere Sikka. Radar. Perbatasan. Com
Sekitar tahun 2000, terlihat sosok perempuan berjalan sendirian tanpa arah. Matanya menatap kosong, mulutnya komat-kamit, entah kalimat apa yang diucapkannya. Keberadaannya kontras dengan suasana indah Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, yang berada persis di pinggir pantai Flores, Nusa Tenggara Timur.
Lokasi Desa Langir berada pada lintas jalan raya Maumere-Larantuka. Siapa gerangan sosok perempuan itu?
Sosok perempuan yang dulu pernah berjalan tanpa arah tahun 2000.Perempuan itu bernama Maria Yasni, seorang gadis berusia 48 tahun dan hingga saat ini masih bujang alias belum menikah.
Maria tinggal bersama dengan saudara perempuanya di Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka. Sejak tahun 2000, Maria mengalami gangguan jiwa. Gejala yang paling tampak adalah munculnya perasaan takut yang berlebihan, kemudian berjalan tidak ada tujuan yang jelas, dan selalu bicara sendiri. Itulah awal Maria mengalami gejala gangguan jiwa atau biasa disebut dengan Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP).
Maria tidak dapat mengendalikan dirinya seperti orang yang sehat dan normal. Sebagai orang yang mengidap ODDP, Maria selalu mengalami halusinasi pendengaran dan penglihatan. Dia selalu diam, tidak mau makan kadang marah dan mengamuk selama kurang lebih belasan tahun. Program BERSAHAJA Sejak bulan Juli 2024 Program BERSAHAJA hadir di Kabupaten Sikka dan terlibat langsung menangani ODDP dan keluarga ODDP sebagai penerima manfaat.
Para keluarga menyambut baik kehadiran Program BERSAHAJA yang dijalankan oleh Yayasan PAPHA Indonesia yang tergabung dalam konsorsium Program BERSAHAJA ini. Selama kurang lebih 6 bulan ini, sejak bulan Juli 2024, Program BERSAHAJA melalui Yayasan PAPHA melakukan pendampingan kepada ODDP Maria Yasni bersama dengan kader kesehatan jiwa (keswa).
Para kader keswa melakukan kunjungan rumah rutin setiap bulan untuk melihat atau memantau perkembangan ODDP, mulai dari aktivitas harian, pengobatan, komunikasi, produktivitas dan sosial yang dilakukan oleh ODDP. Pada saat kunjungan, staf lapangan dari Yayasan PAPHA selalu mengingatkan ODDP untuk rajin minum obat, dan selalu menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan pola hidup yang sehat agar ODDP tidak merasa dirinya dikucilkan.
Yayasan PAPHA juga mengajarkan atau melatih ODDP untuk selalu berinteraksi dengan warga di sekitarnya. Melalui program ini, para ODDP diajak untuk mengikuti pelatihan atau hadir mendengarkan penjelasan tentang kesehatan mental/jiwa di kantor desa yang diberikan oleh dokter ahli, dokter umum dan perawat pengelola kesehatan jiwa dari puskesmas.Hasil dari kegiatan kunjungan rumah dan pendampingan rutin yang dilakukan oleh staf lapangan Yayasan PAPHA, yaitu Community Organizer (CO) maupun kader Keswa, akhirnya para ODDP, termasuk Maria Yasni mengalami perubahan yang sangat signifikan.
Ketika pertama kali bertemu Maria Yasni, dia terlihat masih malu danenggan berbicara. Maria tergolong ODDP pendiam. Namun bukan berarti dia diam dan tidak respon atas pembicaraan yang disampikan petugas lapangan Yayasan PAPHA. Maria hanya perlu jeda waktu yang cukup lama untuk mau menjawab apa yang ditanyakan. Community Organizer (CO) maupun kader Keswa tidak patah semangat menghadapi ODDP semacam Maria Yasni itu.
Mereka tetap mengajak untuk bercerita terus saat melakukan kunjungan rumah, sehingga setiap kali mengunjunginya, ODDP selalu diajak ngobrol dan perlahan-lahan ODDP sudah mulai respon dengan baik dan mulai menjawab dengan baik apa tentang yang ditanyakan oleh kader dan CO.
Kegiatan Produktif Maria Yasni termasuk ODDP yang baik. Walaupun orangnya pendiam, alias tidak banyak bicara, dia termasuk rajin untuk melakukan aktivitas harian dan taat minum obat. Sebelumnya, Maria mengaku bahwa setiap kali usai minum obat selalu mengantuk dan bawaannya tidur saja.
Para CO dan kader keswa kemudian mengingatkan agar selalu melawan rasa ngantuk itu dengan melakukan aktivitas, baik di kebun maupun aktivitas lainnya. Akhirnya Maria mulai mengikuti apa yang disampaikan, termasuk 2 Kegiatan sehari-hari Maria Yasni menenun tenun ikat.mengikuti ajakan caregiver untuk bersama-sama melakukan aktivitas. Kebetulan, caregiver Maria adalah kakak kandungnya sendiri.
Pada bulan Oktober sampai bulan November 2025, Maria sudah mulai melakukan aktivitas menenun dan menghasilkan satu sarung. Bahan yang digunakan adalah benang dan pewarna yang dibelinya di toko. Benang yang digunakan warna-warni, terutama warna primer, yaitu putih, merah, biru, hitam. Benang putih ada dua jenis, yaitu benang putih dua urat dan benang putih biasa. Warna lain adalah benang lodon hitam, benang warna hitam, benang warna merah, dan benang warna biru. Pewarnaan menggunakan bahan warna yang dibelinya di toko, terdiri dari pewarna naftol hitam B, pewarna naftol biru B, pewarna naftol merah B, pewarna ASBO, pewarna ASG, pewarna TRO, dan pewarna SODA. Urusan belanja bahan-bahan kebutuhan pembuatan tenun ikat biasanya dibelikan oleh pendamping ODDP di toko.
Jarak tempuh dari rumah ODDP Mari Yasni ke toko mencapai 10 Km, dengan menggunakan ojek dari rumah ke terminal lalu dilanjutkan dengan menggunkan angkutan kota, atau menggunakan ojek langsung ke pertokoan pergi-pulang dengan tarif Rp. 50.000.Alat yang digunakan untuk menenun adalah ai lorun, pemidang, tuan, pine, pati, papan goan, dan golot. Kesemua peralatan itu dibuat oleh pengerajin alat tenun yang bisa dibeli di pasar Alok, Kab. Sikka.Sebagai ODDP, Maria Yasni sanggup menyelesaikan selembar kain tenun ikat sekitar 2 minggu.
Berbagai motif yang bisa dibuat Maria antara lain adalah motif rusa, motif Bunda Maria, dan motif bunga.Satu lembar sarung dijual dengan kisaran harga Rp. 500.000 hingga Rp. 1.000.000. Harga itu relatif murah jika dilihat proses pembuatan yang membutuhkan waktu lama, dengan motif yang lumayan rumit. Apalagi, tenun ikat ini menjadi barang spesial karena dibuat oleh tangan-tangan ODDP, seperti Maria Yasni.
Maria Yasni menyiapkan benang sebagai bahan dasar tenun ikat. Pendamping atau caregiver membantu Maria Yasni menyelesaikan tenunannya.Sebagai ODDP, Maria Yasni tentu tak akan sanggup mengerjakan semua itu seorang diri. Pada proses pembuatannya, membutuhkan tangan-tangan orang lain, baik pada pra maupun paska produksi. Mereka yang membantu mengerjakan tenun ikat adalah para caregiver atau pendamping. Pihak lain yang membantu untuk proses produksi dan pemasaran selama ini dari Yayasan PAPHA Indonesia.Semenjak aktif menenun, Maria Yasni kini penampilannya menjadi lebih rapi. Maria Yasni juga sudah mulai mengikuti kegiatan sosial dan doa bersama di lingkungan tempat dia tinggal.
Kegiatan lainnya adalah kerja di kebun dan memelihara ternak babi. Hingga akhir tahun 2025 ini, hasil tenunannya sudah terjual sebanyak 4 helai sarung. .
* CO Yayasan PAPHA Indonesia Maumere

















