Tawa Anak Pecah di Maulid Nabi SDN Tambak Sumur, Pesan Akhlak Diselipkan Lewat Dongeng
SIDOARJO — Tawa anak-anak pecah memenuhi Aula SD Negeri Tambak Sumur, Jalan Zainal Abidin No. 66, Desa Tambak Sumur, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).
Di tengah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, ratusan siswa justru dibuat larut dalam cerita, humor dan aksi interaktif pendongeng nasional Kak Harris atau Harris Rizki Akhiruddin.
Kehadiran Kak Harris membuat peringatan Maulid Nabi di sekolah tersebut tampil berbeda.
Pesan tentang keteladanan Rasulullah SAW tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi dikemas dalam cerita yang dekat dengan dunia anak.
Kebaikan, kejujuran, keberanian, kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama disampaikan melalui dongeng yang interaktif dan menghibur.
Suasana semakin meriah ketika Kak Harris tampil bersama Boneka Ayis. Karakter tersebut sontak mengundang gelak tawa siswa.
Salah satu siswi, Citra Kirana Ayu Oktavia, bahkan terlihat tertawa terbahak-bahak saat menyaksikan tingkah lucu Boneka Ayis.
Namun, di balik gelak tawa tersebut terdapat pesan pendidikan yang sengaja dibangun sekolah.
Anak-anak diajak memahami bahwa nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW bukan sekadar materi keagamaan yang harus dihafalkan.
Nilai tersebut harus diterjemahkan dalam perilaku sehari-hari.
Cara penyampaian yang ringan membuat siswa lebih mudah mengikuti pesan yang diberikan.
Mereka tidak hanya menjadi pendengar, tetapi ikut berinteraksi dan merasakan langsung suasana pembelajaran.
Maulid Dikemas Jadi Pendidikan Karakter
Peringatan Maulid Nabi di SDN Tambak Sumur diikuti ratusan siswa, guru, karyawan, orang tua dan warga sekolah.
Sekolah sengaja menggabungkan kegiatan keagamaan dengan pendidikan karakter, kreativitas anak dan kepedulian sosial.
Selain dongeng edukatif, kegiatan juga diisi lomba hafalan surat-surat Al-Qur’an.
Lomba tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan keagamaan sekaligus melatih keberanian tampil di depan publik.
Di balik hafalan yang mereka tampilkan, terdapat proses pembentukan disiplin, keberanian dan rasa percaya diri.
Anak-anak belajar mempersiapkan diri, mengingat ayat yang dihafalkan dan berani tampil di hadapan guru maupun teman-temannya.
Dengan demikian, kegiatan Maulid tidak berhenti sebagai acara tahunan, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Ada Bazar Sembako Murah
Pesan kepedulian sosial juga hadir dalam peringatan tersebut melalui bazar sembako murah.
Warga sekolah mendapat kesempatan memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Kegiatan tersebut memperluas makna Maulid Nabi. Peringatan tidak hanya menjadi momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempraktikkan nilai kepedulian dan berbagi.
Konsep ini sekaligus memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah dapat dikembangkan menjadi ruang pembelajaran yang menyentuh berbagai sisi kehidupan anak.
Sekolah Tak Hanya Mengejar Nilai Akademik
Kepala SDN Tambak Sumur, Anik Lutfiyah, S.Pd.SD., M.Pd., menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan yang memadukan unsur religius, pendidikan, hiburan dan sosial tersebut.
Konsep kegiatan tahun ini menunjukkan bahwa sekolah berupaya menjadikan keteladanan Rasulullah SAW sebagai bagian dari pendidikan karakter siswa.
Nilai agama tidak hanya disampaikan dalam bentuk teori, tetapi dihadirkan melalui pengalaman yang menyenangkan dan mudah dipahami anak.
Pendekatan seperti ini menjadi penting karena pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui nasihat.
Anak membutuhkan pengalaman, contoh, interaksi dan ruang untuk mempraktikkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, sekolah, keluarga dan lingkungan pendidikan memiliki peran yang sama dalam membangun karakter generasi muda.
Pesan Sederhana dari Maulid
Peringatan Maulid Nabi di SDN Tambak Sumur akhirnya tidak sekadar berbicara tentang sebuah peristiwa sejarah.
Ada pesan yang ingin ditanamkan kepada siswa: mengenal Rasulullah SAW bukan hanya dengan mengetahui kisah hidup dan ajarannya, tetapi juga dengan berusaha meneladani akhlaknya.
Kejujuran, kasih sayang, keberanian, kepedulian, kedisiplinan dan sikap saling menghargai harus tumbuh dalam keseharian anak.
Dari sebuah aula sekolah di Tambak Sumur, pesan itu disampaikan dengan cara sederhana—melalui tawa, dongeng, hafalan, interaksi dan kepedulian.
Sebab, pendidikan karakter yang kuat tidak selalu lahir dari suasana yang serius dan kaku.
Kadang, sebuah cerita yang membuat anak tertawa justru menjadi pintu masuk untuk menanamkan nilai yang akan mereka bawa jauh lebih lama.
( Hadi)

















