banner 728x250

:::.Lilin di Tepian Sajadah.:::*

banner 120x600
banner 468x60

Batam –

Di sebuah tanah kosong di Batam, seorang bapak membentangkan sajadahnya.
Ia duduk dalam diam, menundukkan kepala, lalu memejamkan mata. Tak banyak kata yang keluar dari bibirnya. Hanya doa yang perlahan naik, membawa nama-nama keluarga yang jauh di tanah Flores, tanah yang sedang diguncang bumi, tetapi semoga tidak diguncang oleh kehilangan harapan.

banner 325x300

Di ujung sajadah itu, Maria menyalakan sebuah lilin.
Ia meletakkan patung Yesus dan Bunda Maria di altar kecilnya. Api kecil itu bergetar diterpa angin malam, tetapi tidak padam. Maria pun larut dalam doanya sendiri, memohon agar bumi segera tenang, agar rumah-rumah kembali teduh, dan agar orang-orang yang dicintainya tetap berada dalam lindungan kasih.

Mungkin mereka berbeda dalam cara menyebut Yang Maha Kasih.
Yang satu berzikir.
Yang satu menyalakan lilin.

Namun malam itu, doa tidak lagi bertanya dari mana seseorang berasal, apa nama agamanya, atau bagaimana ia menyebut Tuhan.

_”Sebab di tanah yang sama, air mata memiliki bahasa yang sama.”_

Satu demi satu orang datang.
Sajadah mulai memenuhi tanah kosong itu. Lilin-lilin mulai menyala. Ratusan kepala menunduk dalam doa, ratusan cahaya kecil berdiri dalam keheningan.

Dan tanpa ada yang merencanakannya, Batam malam itu seperti menjadi sebuah altar besar, tempat zikir dan doa, sajadah dan lilin, air mata dan harapan, berdiri berdampingan tanpa saling meniadakan.

Barangkali inilah Flores yang sesungguhnya.
Bukan sekadar pulau tempat kita dilahirkan, tetapi rumah rasa yang kita bawa ke mana pun kaki melangkah.

Di Flores, kita mungkin tumbuh dengan nama Tuhan yang berbeda, dengan rumah ibadah yang berbeda, dengan cara berdoa yang berbeda.

Tetapi ketika bumi berguncang dan saudara kita membutuhkan kekuatan, kita kembali menjadi satu.

Bung ketum, Wujudkan Acara ini bersama PK NTT

 

Laporan : Sebastian

banner 325x300
error: Content is protected !!