KEFAMENANU , RADAR PERBATASAN—
Ketika bumi Flores berguncang dan meninggalkan duka bagi banyak keluarga, dari Kefamenanu mengalir sebuah pesan sederhana namun penuh makna: penderitaan saudara adalah panggilan bagi sesama untuk hadir dan berbagi.

Pesan kemanusiaan itu menggema dalam Konser Amal untuk Korban Gempa Flores yang digelar pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, di Lapangan Kantor Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Kefamenanu. Kegiatan tersebut mempertemukan Pemerintah Kabupaten TTU, Polres TTU, para seniman TTU, komunitas, serta berbagai elemen masyarakat dalam satu panggung solidaritas dan kepedulian.
Salah satu komunitas yang tampil aktif dalam kegiatan tersebut adalah Catholic Family Ministry (CFM) Kefamenanu, yang dinahkodai Bro Greg Alisiono bersama seluruh anggotanya. Kehadiran CFM bukan sekadar mengisi panggung dengan lantunan lagu, tetapi juga membawa pesan kasih yang diwujudkan melalui kepedulian nyata.
Pada kesempatan tersebut, CFM Keuskupan Atambua turut ambil bagian dengan mempersembahkan dua lagu dalam konser amal. Tidak berhenti pada persembahan seni, CFM juga menyerahkan bantuan kemanusiaan berupa 30 karung beras dan 25 dos mie untuk membantu meringankan beban saudara-saudari yang terdampak bencana gempa Flores.
Bagi CFM Kefamenanu, bantuan tersebut mungkin tidak seberapa dibandingkan besarnya kebutuhan para korban. Namun, nilai sebuah kepedulian bukan semata-mata diukur dari jumlah yang diberikan, melainkan dari ketulusan hati yang mendorong seseorang untuk berbagi.
“Sebagai sesama manusia yang berhati nurani Katolik, CFM Kefamenanu dengan segala keterbatasan yang ada ingin ikut berpartisipasi aktif. Kami menyumbangkan 30 karung beras dan 25 dos mie sebagai bentuk kepedulian untuk turut meringankan beban para korban gempa Flores,” ungkap Ketua CFM Kefamenanu, Bro Greg Alisiono.
Ia juga menyampaikan doa bagi para korban yang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Semoga Tuhan mengampuni segala dosa mereka dan menerima mereka dalam kerahiman Ilahi di Surga. Sementara bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan, ketabahan, serta penghiburan dari Tuhan.
Konser amal ini menjadi lebih bermakna karena seni dan kemanusiaan berjalan beriringan. Para seniman TTU tidak hanya tampil untuk menghibur, tetapi menjadikan talenta sebagai jembatan untuk menyuarakan solidaritas. Lagu-lagu yang dilantunkan seakan berubah menjadi doa, sementara tepuk tangan penonton menjadi tanda bahwa kepedulian masih hidup di tengah masyarakat.
Salah satu seniman TTU, Peter Sila, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten TTU dan Polres TTU terhadap para seniman. Menurutnya, dukungan tersebut memberikan ruang bagi seniman untuk mengambil bagian dalam kegiatan kemanusiaan sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat TTU.
Ia mengapresiasi pelaksanaan Malam Peduli Korban Bencana Flores yang dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar di Lapangan Kantor Bupati TTU.
Malam itu, Kefamenanu seolah tidak hanya menyalakan lampu panggung. Kefamenanu menyalakan cahaya solidaritas.
Di antara alunan musik, suara penyanyi, dan tepuk tangan, terselip satu pesan yang jauh lebih besar: bahwa ketika bencana memisahkan keluarga dan menghancurkan rumah, kasih persaudaraan tidak boleh ikut runtuh.
Dari TTU untuk Flores, dari satu hati menuju hati yang lain, CFM Kefamenanu bersama Pemda TTU, Polres TTU, para seniman dan masyarakat telah menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah.
Sebab ketika saudara sedang berduka, hadir adalah kasih. Berbagi adalah iman. Dan bergandengan tangan adalah kekuatan.
V.Sintu Lopes

















