BINTAN, Radar Perbatasan.com – Di tengah gegap gempita pembangunan daerah, ironi kemiskinan dan ketidakberdayaan menyelimuti kehidupan sebuah pasangan lanjut usia di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Paulus (60) dan istrinya, Muttamimah (70), terpaksa menyambung hidup dengan mengonsumsi biji cempedak rebus lantaran tak lagi memiliki bahan pangan maupun akses terhadap perlindungan sosial.
Kisah pilu ini mencuat dan menjadi sorotan tajam warganet setelah diunggah oleh akun Facebook Zahfi Al Kahfi di grup InfoPinang pada Sabtu, 25 Juli 2026. Unggahan tersebut menyertakan rekaman video laporan dari seorang warga, Firda Sari, yang memperlihatkan langsung kondisi memprihatinkan pasangan lansia yang bermukim di Kelurahan Sungai Enam, Kecamatan Bintan Timur.
Dalam video berdurasi singkat itu, terungkap bahwa Paulus dan Muttamimah sebenarnya telah menetap di kawasan tersebut sejak tahun 1998. Namun, musibah hilangnya Kartu Tanda Penduduk (KTP) membuat hak-hak sipil mereka terputus. Hingga kini, keduanya belum kunjung memiliki dokumen identitas pengganti.
Ketiadaan administrasi kependudukan ini berbuah fatal: pasangan tersebut sama sekali tidak tersentuh program bantuan sosial maupun fasilitas jaminan kesehatan seperti BPJS. Padahal, kondisi fisik mereka sudah sangat memprihatinkan. Paulus diketahui telah lama mengidap penyakit pikun, sementara Muttamimah sudah tiga tahun terakhir kehilangan penglihatan dan hanya bisa terbaring tanpa daya akibat tidak mampu berobat ke fasilitas medis.
“Beberapa hari belakangan ini, tidak ada yang bisa mereka konsumsi selain biji cempedak. Biji cempedak itu mereka rendam agar tahan lama, yang kemudian direbus untuk dikonsumsi sehari-hari,” ungkap Firda dalam rekamannya.
Dia memastikan bahwa sebelum mengambil dan membagikan video tersebut, pihaknya telah meminta izin langsung kepada Paulus dan sang istri.
Kondisi yang dialami pasangan paruh baya ini langsung memantik empati sekaligus kritik keras dari publik dunia maya terhadap lambatnya respons birokrasi lokal. Salah satu seruan kritis datang dari pemilik akun yang membagikan kisah tersebut:
“Wahai Bupati Bintan, di tengah megahnya pembangunan, masih ada rakyatmu yang hidup dalam kemiskinan dan bergelut dengan kesakitan. Mereka menanti uluran tangan dan kehadiran pemerintah, namun yang datang justru keheningan. Sampai kapan penderitaan mereka dibiarkan tanpa perhatian?”
Hingga berita ini diturunkan, desakan agar Pemerintah Kabupaten Bintan segera turun tangan, baik untuk memulihkan status kependudukan, menyalurkan bantuan pangan darurat, maupun memberikan perawatan medis intensif bagi Paulus dan Muttamimah, terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat di ruang digital.
Editor: Budi Adriansyah

















