banner 728x250

Di Balik Rencana Perumahan Rahayu 3, Mangrove Dapur 12 Terancam Hilang

banner 120x600
banner 468x60

Laporan : Sebastian – Batam 

Batam –

banner 325x300

Batam bukan hanya kota industri. Di balik deretan pabrik, pelabuhan, dan kawasan perumahan yang terus berkembang, masih tersisa benteng-benteng alami yang selama puluhan tahun melindungi pesisirnya. Salah satunya adalah hutan mangrove di kawasan Dapur 12, Kelurahan Sungai Pelunggut, Kecamatan Sagulung.


Namun, benteng alami itu kini menjadi perhatian masyarakat.
Dalam beberapa pekan terakhir, suara mesin alat berat terdengar hampir setiap hari. Pepohonan mangrove yang sebelumnya tumbuh rapat mulai berganti hamparan tanah timbunan. Dari kejauhan tampak alat berat bekerja membuka lahan, sementara truk silih berganti mengangkut material.

Bagi sebagian orang, itu mungkin menjadi tanda dimulainya sebuah pembangunan. Namun bagi warga sekitar, pemandangan tersebut justru menghadirkan kegelisahan.

Mereka khawatir kawasan mangrove yang selama ini menjadi pelindung alami pesisir perlahan hilang, diduga untuk pembangunan Perumahan Rahayu 3.

“Kami bukan menolak pembangunan. Tetapi kalau benar kawasan mangrove dialihfungsikan, pemerintah harus memastikan semuanya sesuai aturan. Jangan sampai lingkungan dikorbankan,” ujar seorang warga.

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan.
Mangrove bukan sekadar kumpulan pohon di tepian laut. Ia menjadi benteng pertama saat gelombang pasang datang, menyerap limpahan air hujan, menahan abrasi, sekaligus menjadi habitat berbagai jenis ikan, kepiting, udang, dan satwa pesisir lainnya.

Ketika mangrove hilang, yang ikut hilang bukan hanya pepohonan. Perlindungan alami terhadap permukiman juga ikut berkurang.
Warga mengaku aktivitas pembukaan lahan dan penimbunan telah berlangsung cukup lama. Namun hingga kini mereka mengaku belum melihat adanya pengawasan yang nyata dari instansi terkait.

Pertanyaan pun bermunculan.
Apakah proyek tersebut telah mengantongi seluruh perizinan?
Apakah telah memiliki persetujuan lingkungan?
Apakah lokasi tersebut memang diperbolehkan untuk dialihfungsikan?
Hingga kini, pertanyaan-pertanyaan itu belum memperoleh jawaban yang jelas.
“Kami berharap pemerintah segera turun ke lapangan. Periksa legalitasnya. Kalau memang sesuai aturan silakan dijelaskan kepada masyarakat. Tapi kalau ada pelanggaran, harus ditindak tegas sebelum kerusakan semakin luas,” kata warga lainnya.

Harapan masyarakat sebenarnya sederhana.
Mereka ingin pembangunan berjalan berdampingan dengan perlindungan lingkungan.

Ironisnya, sorotan terhadap dugaan pembukaan kawasan mangrove ini muncul tidak lama setelah Pemerintah Kota Batam bersama BP Batam melakukan penanaman sekitar 2.000 bibit mangrove sebagai bagian dari rehabilitasi kawasan pesisir.

Saat itu, Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan.

“Melindungi mangrove sama dengan menjaga masa depan. Pembangunan harus berjalan, tetapi lingkungan juga wajib dijaga agar tetap lestari dan tidak dirusak demi keuntungan sesaat.”

Pernyataan tersebut kini menjadi pengingat sekaligus harapan bagi masyarakat.
Mereka berharap komitmen menjaga mangrove tidak berhenti pada seremoni penanaman bibit, tetapi diwujudkan melalui pengawasan yang konsisten, transparansi perizinan, dan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Bagi warga Dapur 12, persoalan ini bukan sekadar soal pohon yang ditebang atau lahan yang ditimbun.
Ini tentang masa depan lingkungan tempat mereka tinggal.
Tentang perlindungan terhadap pesisir dari abrasi dan banjir.
Tentang hak masyarakat untuk mengetahui apakah setiap pembangunan telah berjalan sesuai hukum.

Hingga feature ini ditulis, tim media masih berupaya memperoleh konfirmasi dari Ditpam BP Batam, Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, serta instansi terkait lainnya mengenai status legalitas kegiatan tersebut, bentuk pengawasan yang telah dilakukan, dan langkah yang akan diambil atas dugaan pembukaan lahan serta penimbunan di kawasan mangrove Dapur 12.

Masyarakat berharap jawaban itu segera datang. Sebab bagi mereka, setiap hari yang berlalu tanpa kepastian bisa berarti semakin berkurangnya kawasan mangrove yang selama ini menjadi benteng alami pesisir Batam. **

banner 325x300
error: Content is protected !!