Sedih membaca surat terbuka seorang pilot misionaris kepada orang Papua, yang hari ini, kamis pagi, 2 Juli 2026, teman pilotnya di bunuh oleh KKB Papua di Yahukimo.

Untuk Tanah Papua yang kami kasihi…
Hari ini, untuk kesekian kalinya, air mata ini kembali menetes,
Bukan karena cuaca buruk yang kami hadapi. Bukan karena landasan pendek yang kami taklukkan. Bukan karena gunung-gunung tinggi yang setiap hari kami lewati.
Tetapi karena sekali lagi kami harus menerima kabar duka dari Tanah Papua, tanah yang begitu kami cintai.
Surat ini saya tulis bukan sebagai seorang pilot.
Saya menulis sebagai seorang manusia.
Sebagai seorang suami yang setiap kali berangkat terbang selalu berharap dapat kembali memeluk istrinya.
Sebagai seorang ayah yang ingin pulang dan mendengar tawa anak-anaknya.
Sebagai seorang anak yang masih ingin membahagiakan kedua orang tuanya.
Dan sebagai seorang Bush Pilot yang telah menyerahkan sebagian besar hidupnya untuk melayani Tanah Papua.
Sudah bertahun-tahun kami terbang di langit Papua.
Kami mengenal setiap lembah, setiap punggung gunung, setiap awan yang datang tanpa permisi, dan setiap landasan kecil yang hanya bisa dicapai dengan keberanian, pengalaman, serta doa.
Dalam setiap napas kehidupan kami, dalam setiap putaran baling-baling pesawat yang membawa kami menembus pegunungan, hanya satu yang selalu kami daraskan kepada Sang Pencipta: Puji dan Syukur.
Kami bersyukur masih diberi kesempatan untuk melayani.
Kami bersyukur masih dapat membawa harapan ke tempat-tempat yang sulit dijangkau.
Kami selalu berdoa agar Tuhan menjaga setiap penerbangan kami dan menjadikan kami pembawa kabar sukacita dan pembawa berkat bagi Tanah Papua.
Karena bagi kami, setiap penerbangan bukan sekadar pekerjaan.
Ini adalah panggilan.
Ini adalah pelayanan.
Ini adalah bentuk kasih.
Setiap pagi kami terbang dengan satu harapan sederhana.
Semoga hari ini ada orang sakit yang dapat ditolong.
Semoga hari ini ada anak yang tetap bisa bersekolah.
Semoga hari ini ada keluarga yang akhirnya dapat bertemu kembali.
Di dalam pesawat kami ada obat-obatan.
Ada bahan makanan.
Ada guru.
Ada tenaga kesehatan.
Ada logistik.
Ada harapan.
Ada kasih.
Kami datang bukan membawa senjata.
Kami datang bukan membawa kebencian.
Kami datang bukan membawa permusuhan.
Kami datang membawa kehidupan.
Kami mengasihi Tanah Papua dengan seluruh jiwa dan raga kami.
Kami rela meninggalkan keluarga.
Kami rela melewati cuaca yang tak menentu.
Kami rela menghadapi risiko yang mungkin tidak pernah dipahami oleh banyak orang.
Kami tetap datang ketika hujan mengguyur pegunungan.
Kami tetap datang ketika kabut menutup langit.
Kami tetap datang ketika banyak orang memilih untuk tidak terbang.
Karena kami tahu…
Di ujung sana ada saudara-saudara kami yang sedang menunggu.
Namun hari ini…
Sekali lagi langit Papua menangis.
Sekali lagi keluarga seorang pilot harus menerima kenyataan yang begitu pahit.
Dan hati kami kembali bertanya…
Mengapa?
Mengapa mereka yang datang membawa kehidupan harus kehilangan nyawanya?
Mengapa mereka yang membawa obat harus pulang dalam peti?
Mengapa mereka yang menerbangkan harapan justru menjadi sasaran?
Apa salah kami?
Apakah mencintai Papua adalah sebuah kesalahan?
Apakah melayani masyarakat pedalaman adalah sebuah dosa?
Kami hanyalah penerbang.
Kami bukan musuh siapa pun.
Kami bukan bagian dari konflik.
Kami hanyalah orang-orang biasa yang memilih hidup untuk melayani sesama.
Namun satu demi satu sahabat terbaik kami gugur.
Ada anak yang kehilangan ayahnya.
Ada istri yang kehilangan suaminya.
Ada orang tua yang kehilangan anaknya.
Dan setiap kali itu terjadi…
Bukan hanya satu keluarga yang berduka.
Papua kehilangan.
Indonesia kehilangan.
Dan kemanusiaan kehilangan.
Kami tidak pernah meminta disebut pahlawan.
Kami hanya ingin menjalankan tugas kami dengan aman.
Kami hanya ingin pulang setelah menyelesaikan penerbangan.
Kami hanya ingin melihat masyarakat Papua tetap tersenyum.
Kami hanya ingin anak-anak terus belajar.
Kami hanya ingin orang-orang sakit memperoleh pertolongan.
Kami hanya ingin kehidupan terus berjalan.
Kami percaya…
Papua adalah tanah yang penuh kasih.
Kami telah merasakan pelukan kasih itu.
Kami pernah disambut dengan senyum yang begitu tulus.
Kami pernah dibantu oleh masyarakat ketika pesawat kami mengalami kesulitan.
Kami pernah dianggap sebagai keluarga.
Karena itu kami percaya…
Kasih masih hidup di Tanah Papua.
Melalui surat ini, kami memohon kepada siapa pun, dari pihak mana pun…
Jangan jadikan pilot sebagai korban.
Jangan jadikan penerbangan kemanusiaan sebagai sasaran.
Biarkan kami tetap membawa obat.
Biarkan kami tetap membawa guru.
Biarkan kami tetap mengantar tenaga kesehatan.
Biarkan kami tetap menjadi jembatan kehidupan bagi saudara-saudara kita di pelosok Papua.
Karena ketika sebuah pesawat tidak dapat terbang…
Bukan hanya pilot yang kehilangan.
Ada bayi yang kehilangan kesempatan memperoleh obat.
Ada ibu yang kehilangan kesempatan melahirkan dengan selamat.
Ada anak-anak yang kehilangan guru.
Ada kampung yang kehilangan harapan.
Dan ketika seorang Bush Pilot gugur…
Yang gugur bukan hanya seorang penerbang.
Yang gugur adalah sebagian dari harapan masyarakat yang selama ini bergantung pada sayap-sayap kecil itu.
Kepada sahabat-sahabat kami yang telah mendahului…
Terima kasih.
Terima kasih karena telah mengajarkan arti pengabdian.
Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa kasih jauh lebih besar daripada rasa takut.
Nama kalian akan selalu hidup dalam setiap suara mesin pesawat yang menggema di langit Papua.
Dan kepada Tanah Papua…
Izinkan kami mengatakan sesuatu yang mungkin selama ini tidak pernah terucapkan.
Kami mencintaimu.
Bukan karena kami lahir di tanahmu.
Tetapi karena kami telah belajar mengasihimu.
Kami mengasihi setiap anak yang berlari menyambut pesawat.
Kami mengasihi setiap mama yang menunggu logistik.
Kami mengasihi setiap bapak yang berharap hasil kebunnya dapat diterbangkan.
Kami mengasihi setiap guru, tenaga kesehatan, tokoh agama, aparat, dan seluruh masyarakat yang bersama-sama membangun kehidupan.
Kami mengasihi Tanah Papua dengan seluruh jiwa dan raga kami…
Kami datang bukan membawa senjata, melainkan membawa kehidupan.
Kami datang bukan membawa kebencian, melainkan membawa harapan.
Kami hanya ingin melayani di tanah ini dengan penuh kasih.
Kami hanya ingin menjadi pembawa kabar sukacita dan pembawa berkat bagi Tanah Papua.
Lalu… mengapa kami harus menjadi korban?
Harapan kami sesungguhnya sangat sederhana.
Semoga suatu hari nanti, setiap suara pesawat yang terdengar di langit Papua hanya membawa kabar baik.
Tidak lagi membawa air mata.
Tidak lagi membawa duka.
Tidak lagi membawa kehilangan.
Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa melembutkan setiap hati, menjaga setiap langkah, melindungi setiap kehidupan, dan menghadirkan damai yang sejati bagi seluruh Tanah Papua.
Karena tidak ada kemenangan yang lebih indah daripada ketika manusia saling mengasihi.
Dan tidak ada penerbangan yang lebih membahagiakan daripada penerbangan yang membawa harapan… lalu kembali pulang dengan selamat.
Dari hati yang paling dalam,
HLF
“Kami hanya ingin melayani. Kami hanya ingin pulang. Kami percaya setiap nyawa adalah anugerah Tuhan yang harus dihormati. Selama Tuhan masih mempercayakan kami untuk terbang di langit Papua, kami akan terus mengabdi dengan kasih, menjadi pembawa kabar sukacita dan pembawa berkat bagi Tanah Papua yang kami cintai.” **

















