TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com – Harapan kontingen Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) asal Tanjungpinang untuk berlaga di panggung nasional Manokwari harus pupus seketika. Rombongan ini terpaksa menelan pil pahit setelah tiket pesawat yang mereka pegang ternyata berstatus “bodong” atau belum terbayarkan oleh pihak travel agent.
Kisah memilukan ini mencuat ke publik setelah salah satu anggota tim mengunggah kronologi kejadian melalui grup Facebook Info Tanjungpinang pada Jumat 26 Juni 2026.
Awal Mula Masalah
Kejadian bermula saat panitia memberitahukan bahwa tiket keberangkatan kontingen Kepri (tiga kategori) untuk rute Batam-Jakarta-Manokwari yang dipesan melalui agen perjalanan (Vivi dan Hendra) bermasalah.
Semestinya, rombongan dijadwalkan terbang pada Rabu, 24 Juni 2026, pukul 16.00 WIB. Namun, saat tim mencoba melakukan check-in secara mandiri, sistem maskapai tidak mendeteksi tiket tersebut.
“Kami sudah meminta pihak LPPD Provinsi Kepri untuk memberangkatkan kami, karena ini bukan kesalahan kami, melainkan panitia yang tidak melakukan verifikasi ulang,” tulis akun Manahos dalam unggahannya.
Janji Manis yang Berujung Nestapa
Meski sempat ada ketidakpastian, pihak travel menjanjikan solusi keberangkatan pada Kamis, 25 Juni 2026. Rombongan pun mencoba bertahan dan menunggu kabar setiap tiga jam sekali.
Hingga pukul 14.30 WIB, mereka akhirnya menerima kode booking untuk rute Batam menuju Jakarta (CGK). Namun, tiket lanjutan dari Jakarta ke Manokwari masih menjadi misteri. Dengan keyakinan bahwa tiket akan muncul di menit-menit terakhir, rombongan tetap berangkat meski harus terbagi ke dalam dua kloter penerbangan.
Kandas di Bandara Soekarno-Hatta
Puncak kekecewaan terjadi setibanya rombongan di Jakarta. Setelah sempat diarahkan berpindah dari Batik Air ke Garuda Indonesia di Terminal 3, kenyataan pahit akhirnya terungkap.
Pihak maskapai menyatakan bahwa check-in bagasi telah ditutup. Lebih mengejutkan lagi, saat dicek oleh petugas, kode booking yang diberikan oleh agen perjalanan ternyata berstatus unpaid atau belum dibayarkan.
“Di situ adalah waktu terakhir kami. Tidak mungkin lagi kami bisa berangkat, dan kalaupun ditunda ke hari esok, kami sudah tidak mungkin bisa tampil,” keluh unggahan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, rombongan Pesparawi Tanjungpinang tersebut masih terkatung-katung di Jakarta. Mereka menuntut pertanggungjawaban tegas dari pihak travel yang dianggap lalai dalam menjalankan tanggung jawab, sehingga mimpi para peserta untuk mengharumkan nama daerah di ajang nasional harus kandas di tengah jalan.
Editor: Budi Adriansyah

















