TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com – Ketegangan di Pulau Kasu memuncak setelah penggunaan istilah “gerombolan” yang dialamatkan kepada warga beredar luas di ruang publik. Ketua Generasi Muda Badan Perjuangan/Persiapan Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (GM-BP3KR), Basyaruddin Idris atau akrab disapa Tok Oom, merespons keras narasi tersebut.
Dalam keterangannya pada Selasa 16 Juni 2026, Tok Oom mengecam pernyataan Ketua LSM LIRA Kepri, Yusril Koto, yang dianggap tidak pantas dan berisiko memperkeruh suasana. Dia menegaskan bahwa setiap individu, terutama tokoh organisasi, wajib menyaring pernyataan sebelum melontarkannya ke media sosial maupun media massa.
“Kalau ada persoalan yang menyangkut masyarakat, suku, atau hal-hal sensitif lainnya, sebaiknya disikapi dengan kepala dingin. Jangan sampai pernyataan yang disampaikan justru memancing kegaduhan di tengah masyarakat,” tegas Tok Oom.
Bahaya Narasi Provokatif
Tok Oom menyoroti secara tajam penggunaan kata “gerombolan”. Baginya, istilah tersebut memiliki konotasi negatif yang merendahkan martabat masyarakat yang sedang menempuh jalur konstitusional untuk menyampaikan aspirasi.
“Jangan asal menyebut warga Pulau Kasu sebagai gerombolan. Mereka adalah masyarakat yang memiliki hak untuk bersuara sesuai aturan. Bahkan untuk melakukan aksi penyampaian pendapat pun, mereka mengikuti prosedur dan perizinan yang jelas,” tambahnya.
Alih-alih melontarkan kata-kata yang memecah belah, Tok Oom mendorong terciptanya ruang dialog yang konstruktif. Dia menilai masyarakat Pulau Kasu saat ini membutuhkan dukungan pemikiran, bukan narasi yang memperuncing konflik sosial.
Pesan untuk Pimpinan LSM LIRA
Tak hanya kepada Yusril Koto, Tok Oom juga menyoroti peran Ketua Umum LSM LIRA, Jusuf Rizal. Dia mendesak agar pimpinan organisasi dapat mengarahkan bawahannya untuk lebih mengedepankan pernyataan yang menyejukkan.
“Seharusnya tokoh organisasi memberikan pernyataan yang baik, membangun, dan menenangkan masyarakat. Jangan sampai muncul kesan provokatif. Istilah ‘gerombolan’ itu memiliki indikasi makna yang negatif dan bisa menyinggung perasaan masyarakat,” tuturnya.
Meski menghargai perbedaan pandangan sebagai bagian dari demokrasi, Tok Oom tetap mengingatkan agar setiap kritik disampaikan dengan bahasa yang santun dan menghormati hak masyarakat yang terdampak. Pernyataan ini dia sampaikan sebagai bentuk keprihatinan mendalam atas kondisi sosial di Pulau Kasu yang saat ini tengah menjadi perhatian publik.
Editor: Budi Adriansyah

















