Laporan : Sebastian – Batam
Belakang Padang, Batam –
Sebuah video yang memperlihatkan dugaan aksi perundungan terhadap seorang remaja putri berjilbab di Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, memantik gelombang kemarahan dan keprihatinan masyarakat.
Rekaman berdurasi singkat yang beredar luas di media sosial itu bukan hanya menyisakan luka bagi korban, tetapi juga menggugah nurani publik yang menyaksikannya.
Sejak Sabtu (13/6/2026), video tersebut beredar cepat di berbagai platform media sosial. Dalam hitungan jam, ribuan pengguna internet membagikan dan mengomentari rekaman yang dianggap memperlihatkan tindakan kekerasan terhadap seorang remaja perempuan yang tampak tak berdaya.
Yang membuat banyak orang tersentuh bukan semata dugaan kekerasan yang terjadi, melainkan sikap korban yang sepanjang video terlihat hanya menundukkan kepala tanpa memberikan perlawanan berarti.
Dengan jilbab biru tua yang dikenakannya, korban tampak pasrah menerima perlakuan yang diduga dilakukan oleh remaja lain di hadapannya.
Dalam rekaman yang viral tersebut, seorang remaja perempuan berbaju garis kuning-hitam terlihat berhadapan dengan korban. Beberapa adegan memperlihatkan dugaan tindakan fisik berupa penarikan jilbab, tamparan, hingga pukulan ke arah kepala korban.
Namun yang paling menyulut kemarahan warganet adalah respons orang-orang yang berada di lokasi kejadian. Saat korban diduga mengalami intimidasi dan kekerasan, sebagian penonton justru terdengar tertawa, bersorak, bahkan memberikan komentar yang dianggap tidak memiliki empati.
Suara dalam video yang menyebut, “iPhone, kamera iPhone bagus, cok,” disertai gelak tawa dan tepuk tangan, menjadi bagian yang paling banyak disorot publik. Banyak yang menilai perilaku tersebut mencerminkan hilangnya rasa kepedulian terhadap sesama.
Video itu pertama kali diunggah oleh akun Facebook yang disebut milik ibu korban, Putri Ana Sibarani. Dalam unggahannya, sang ibu meluapkan kesedihan sekaligus kemarahan atas perlakuan yang diduga dialami anaknya.
Ungkapan emosional yang ditulisnya menggambarkan betapa berat beban yang dirasakan keluarga setelah melihat kejadian tersebut tersebar luas di ruang publik.
Kolom komentar pun dipenuhi kecaman. Banyak netizen mengaku tidak sanggup menyaksikan korban yang hanya tertunduk ketika diduga mengalami kekerasan.
“Ya Allah, bahasanya kurang ajar kali. Kami yang lihat saja geram. Jilbab ditarik-tarik seperti itu,” tulis seorang pengguna media sosial.
Komentar lain mendesak agar kasus tersebut tidak berhenti sebagai tontonan viral semata, melainkan segera ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum.
“Untung ada yang merekam sehingga bisa menjadi bukti. Tolong segera ditindaklanjuti,” tulis seorang netizen.
Fenomena ini kembali mengingatkan bahwa perundungan di kalangan remaja bukan sekadar persoalan pertengkaran biasa.
Dampak psikologis yang ditimbulkan dapat membekas dalam jangka panjang, terutama ketika korban harus menghadapi rasa malu, trauma, hingga tekanan akibat videonya tersebar luas di media sosial.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab pasti kejadian maupun identitas para pihak yang terlibat.
Aparat kepolisian juga belum menyampaikan pernyataan resmi terkait penanganan kasus tersebut.
Meski demikian, masyarakat berharap video yang telah menjadi perhatian publik itu dapat menjadi pintu masuk bagi upaya pengusutan yang objektif dan menyeluruh.
Di tengah derasnya arus media sosial, publik menanti hadirnya keadilan bagi korban sekaligus langkah nyata untuk mencegah perundungan serupa kembali terjadi.
Peristiwa ini bukan hanya tentang sebuah video yang viral. Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap rekaman yang beredar, ada seorang anak yang mungkin sedang menanggung luka yang tidak terlihat oleh kamera. **

















